RM.id Rakyat Merdeka - Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) menggelar Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) ke-4 di Shanghai, China, untuk memperkuat kerja sama negara produsen dan konsumen dalam mendorong inovasi, keberlanjutan, serta ketahanan rantai pasok minyak nabati global.
Konferensi bertema “Sustainability Alignment, Resilient Value Chains” tersebut berlangsung di InterContinental Hotel Shanghai dan dihadiri lebih dari 200 peserta dari 11 negara. Peserta terdiri atas pejabat pemerintah, perwakilan industri, organisasi internasional, serta pakar teknis dari sektor minyak sawit, kedelai, rapeseed, bunga matahari, dan minyak nabati lainnya.
Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Kedutaan Besar Malaysia di Beijing, serta didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Plantations et Huileries du Congo (PHC), dan Oil Palm Industry Corporation (OPIC).
Para peserta membahas strategi menghadapi tuntutan efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan tanpa mengabaikan produktivitas serta daya saing industri. Pembahasan juga mencakup peluang kolaborasi di bidang inovasi, perdagangan hijau, dan pembangunan rendah karbon.
Pada 2026, produksi minyak nabati global diperkirakan mencapai sekitar 234 juta ton. Dari jumlah tersebut, minyak sawit menyumbang sekitar 85 juta ton atau lebih dari sepertiga total produksi dunia.
Meski memiliki karakteristik produksi dan pasar yang berbeda, minyak sawit, kedelai, rapeseed, dan bunga matahari saling terhubung melalui perdagangan internasional, pembentukan harga, substitusi produk, serta perkembangan permintaan pangan dan industri.
Negara-negara produsen juga menghadapi tantangan bersama, mulai dari penggunaan lahan, ketahanan terhadap perubahan iklim, penerapan standar keberlanjutan, hingga akses pasar. Karena itu, pertukaran pengetahuan dan penguatan kerja sama dinilai penting untuk membangun rantai nilai minyak nabati yang lebih berkelanjutan dan tangguh.
Baca juga : Minyak Sawit Merah Dinilai Berpotensi Tingkatkan Gizi dan Ekonomi Desa
China menjadi salah satu pasar penting dalam perdagangan minyak nabati global, baik sebagai konsumen utama maupun mitra strategis dalam perdagangan, teknologi, dan inovasi.
Pada 2025, konsumsi minyak nabati China diperkirakan mencapai 35,8 juta ton, termasuk 5,07 juta ton minyak sawit. Angka tersebut menunjukkan pentingnya hubungan yang erat antara negara produsen dan konsumen untuk menjaga keberlanjutan serta ketahanan rantai pasok.
Sekretaris Jenderal CPOPC Izzana Salleh mengatakan, kerja sama praktis antara negara produsen dan konsumen diperlukan untuk menghadapi perubahan tuntutan keberlanjutan dan ekspektasi pasar.
“Perubahan harga relatif dapat menggeser keputusan pembelian antarjenis minyak nabati, sementara ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan investasi,” ujarnya dikutip Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, ketahanan rantai pasok membutuhkan informasi pasar yang andal, diversifikasi hubungan dagang, logistik yang efisien, serta kerangka kebijakan yang dapat diprediksi. Keterlibatan lebih erat antara produsen dan pembeli juga diperlukan agar komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan insentif komersial dapat berjalan selaras.
Sesi pembukaan konferensi turut membahas peran Shanghai dalam perdagangan hijau dan kerja sama internasional, serta dampak perubahan geopolitik terhadap perdagangan minyak nabati global dan ketahanan rantai pasok.
Sejumlah perwakilan negara anggota CPOPC juga menyampaikan pandangan mengenai pentingnya produksi berkelanjutan dan kolaborasi lintas negara.
Baca juga : GAPKI Tegaskan Peran Strategis Minyak Sawit Bagian Solusi Transisi Energi Global
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan peningkatan produktivitas petani kecil tanpa perluasan areal perkebunan. Sementara itu, Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia YB Datuk Seri Dr. Noraini Ahmad mendorong penerapan standar keberlanjutan yang mendukung akses produsen ke pasar global serta penguatan kerja sama dengan China di bidang teknologi, riset, dan pengembangan pasar.
Adapun Wakil Menteri Budidaya Kopi Honduras José Francisco Ordóñez menyoroti pentingnya sistem ketertelusuran yang kredibel untuk membuktikan keberlanjutan produk. Ia juga menekankan penguatan kerja sama antara China, CPOPC, dan negara-negara Amerika Latin.
Inovasi dan Produktivitas
Sesi pertama bertajuk “Driving Sustainability through Productivity and Innovation” membahas pemanfaatan teknologi pertanian, bahan tanam unggul, mekanisasi, agronomi presisi, dan standar keberlanjutan untuk meningkatkan efisiensi produksi minyak nabati.
Diskusi tersebut juga menyoroti peran China dalam memfasilitasi perdagangan minyak nabati berkelanjutan, memperluas akses pasar, dan meningkatkan transparansi rantai pasok lintas komoditas.
Sesi yang diawali sambutan Duta Besar Republik Indonesia untuk China Djauhari Oratmangun itu menghadirkan sejumlah perwakilan industri dan pakar keberlanjutan. Mereka antara lain Mohd Hasbollah Suparyono dari Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO), Chen Zi Yan dari Kuala Lumpur Kepong Berhad (KLK), Caroline Xu dari AAK China, Chen Ying dari China Customs Brokers Association, serta Harry Hanawi dari Sinar Mas Agribusiness and Food.
Lifeng Fang dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bertindak sebagai moderator, sedangkan Yu Xin dari WWF China menjadi penanggap utama.
Baca juga : GAPKI dan EAEU Perkuat Kerja Sama Industri Minyak Sawit & Minyak Nabati
Sesi kedua bertajuk “Building Competitive and Resilient Vegetable Oil Value Chains amid Evolving Policies, Standards and Market Demand” membahas dampak perubahan kebijakan hijau, regulasi, dan persyaratan pasar terhadap negara produsen maupun konsumen.
Pembahasan mencakup peran China dalam perdagangan hijau dan produksi bertanggung jawab, kebijakan biodiesel B50 Indonesia, serta pengembangan biofuel berbasis sawit di Malaysia untuk mendukung ekonomi rendah karbon.
Para peserta juga membahas upaya Republik Demokratik Kongo membangun rantai nilai minyak sawit yang tangguh serta strategi Papua Nugini dalam mendukung petani kecil melalui pembangunan infrastruktur dan program peremajaan tanaman.
Sesi ini menghadirkan perwakilan pemerintah, industri, dan pakar dari China serta negara anggota CPOPC. Di antaranya Wang Xin dari Foreign Environmental Cooperation Center (FECO), Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup China; Yang Junyi dari World Resources Institute China; Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Indonesia Dadan Kusdiana; serta Wakil Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) Mohd Hefni Rusli.
Perspektif negara produsen lainnya disampaikan CEO PHC Republik Demokratik Kongo Monique Gieskes dan Sekretaris Jenderal OPIC Papua Nugini Kepson Pupita. Langlang Tata Buana dari Proforest membahas pengaruh kebijakan dan standar terhadap praktik rantai pasok, sedangkan Li Sifan dari China Chamber of Commerce of Import and Export of Foodstuffs, Native Produce and Animal By-products (CFNA) menjadi penanggap utama.
CPOPC menyatakan akan terus memperkuat SVOC sebagai platform strategis yang menghubungkan negara produsen dan konsumen, pelaku industri, lembaga riset, serta mitra keberlanjutan.
Melalui penyelenggaraan konferensi berikutnya, CPOPC berharap dialog yang terbangun dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama nyata untuk menciptakan rantai nilai minyak nabati yang lebih berkelanjutan dan tangguh, dengan dukungan bukti ilmiah serta dialog konstruktif.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.