Dark/Light Mode

GAPKI dan EAEU Perkuat Kerja Sama Industri Minyak Sawit & Minyak Nabati

Selasa, 14 Juli 2026 17:29 WIB
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menandatangani kerja sama dengan The Fat and Oil Union of Russia dan Association of Enterprises of Fat and Oil Industry of the Eurasian Economic Union (EAEU). (Fioto: Dok. GAPKI)
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menandatangani kerja sama dengan The Fat and Oil Union of Russia dan Association of Enterprises of Fat and Oil Industry of the Eurasian Economic Union (EAEU). (Fioto: Dok. GAPKI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menjalin kerja sama dengan The Fat and Oil Union of Russia dan Association of Enterprises of Fat and Oil Industry of the Eurasian Economic Union (EAEU).

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengungkapkan, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kerja sama antara industri minyak sawit Indonesia dan minyak nabati Rusia.

“Kami meyakini kolaborasi yang lebih erat akan membuka peluang perdagangan, investasi, dan inovasi yang lebih besar, sekaligus memperluas akses pasar serta memperkuat daya saing industri minyak nabati kedua negara,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (14/7/2026).

Hadir dalam penandatangan MoU tersebut, Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Jose Tavares, Atase Perdagangan KBRI Moskow, jajaran pejabat KBRI Moskow, serta perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Eddy menuturkan, melalui MoU ini, masing-masing pihak sepakat untuk meningkatkan kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan antara Indonesia, Rusia, dan kawasan EAEU, melalui pertukaran informasi, promosi bersama, pengembangan jejaring bisnis yang berkelanjutan, serta perluasan akses pasar bagi minyak sawit dan produk turunannya.

Kerja sama ini juga menjadi tindak lanjut dari semakin eratnya hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Eurasia. Sebelumnya, pada 21 Desember 2025, pemerintah Indonesia dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU) yang terdiri atas Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgistan, telah menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) di St. Petersburg, Rusia.

Baca juga : Takeda dan Indonesia Perkuat Ketahanan Kesehatan & Industri Biofarmasi

Melalui FTA tersebut, negara-negara anggota EAEU akan menghapus atau menurunkan tarif untuk lebih dari 90 persen kategori produk asal Indonesia.

“Kesepakatan ini membuka peluang yang lebih besar bagi peningkatan ekspor minyak sawit dan produk turunannya ke kawasan Eurasia yang memiliki pasar sekitar 180 juta penduduk,” katanya.

Penandatanganan MoU antara GAPKI dan The Fat and Oil Union of Russia menjadi langkah konkret di tingkat pelaku usaha untuk memanfaatkan peluang yang dihadirkan FTA melalui peningkatan kerja sama perdagangan, investasi, pertukaran informasi, serta pengembangan pasar minyak sawit Indonesia di kawasan Eurasia.

Eddy membeberkan, cakupan MoU antara kedua asosiasi ini meliputi berbagai aspek kerja sama strategis, antara lain memfasilitasi dialog industri dan pertukaran pengetahuan antara industri minyak nabati Rusia dan Indonesia.

“Termasuk berbagi informasi terkini mengenai perkembangan industri, serta membentuk kelompok kerja bersama terkait isu-isu strategis,” ucapnya.

Selain itu, kerja sama ini juga mencakup penyelenggaraan seminar dan kegiatan promosi investasi guna mendorong pengembangan teknologi dan inovasi, memperkuat kolaborasi dalam advokasi kebijakan dan pengembangan pasar, serta memperluas jejaring bisnis untuk meningkatkan hubungan perdagangan bilateral di sektor minyak nabati.

Baca juga : Australia, RI & ASEAN Perkuat Kerja Sama Perlindungan Laut

Eddy menambahkan, kesepakatan ini menjadi fondasi penting bagi peningkatan hubungan kelembagaan sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara pelaku industri kedua negara.

GAPKI dan The Fat and Oil Union of Russia berkomitmen membangun komunikasi yang lebih intensif, memperkuat pertukaran informasi, serta mendorong lahirnya berbagai inisiatif kerja sama yang saling menguntungkan bagi Indonesia maupun Rusia.

“Kami berharap kerja sama ini dapat meningkatkan perdagangan, investasi, dan inovasi yang mendukung pembangunan industri yang berkelanjutan," katanya.

Rusia merupakan salah satu pasar strategis bagi ekspor minyak sawit Indonesia, meski volumenya masih berada di bawah pasar utama seperti China, India, dan Pakistan.

Berdasarkan data GAPKI, ekspor produk sawit Indonesia ke Rusia didominasi oleh Refined Palm Oil (RBD Palm Oil), Refined Palm Kernel Oil (RBD PKO), dan oleokimia.

Pada tahun 2025, ekspor Refined Palm Oil mencapai 689 ribu ton dengan nilai 726 juta dolar AS, Refined PKO sebesar 81 ribu ton senilai 159 juta dolar AS, dan produk oleokimia sebanyak 23 ribu ton senilai 34 juta dolar AS.

Baca juga : Perkuat Hilirisasi Dan Industrialisasi Nasional

Secara keseluruhan, ekspor sawit Indonesia ke Rusia pada tahun 2025 mencapai 792 ribu ton dengan nilai 919 juta dolar AS, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 680 ribu ton senilai 681 juta dolar AS.

Hingga April 2026, ekspor telah mencapai 189 ribu ton dengan nilai 237 juta dolar AS.

Selain produk utama tersebut, Indonesia juga mengekspor produk hilir seperti hydrogenated palm oil, shortening, vegetable ghee, dan emulsifier, meskipun volumenya masih relatif kecil, yaitu sekitar 31 ribu ton dengan nilai USD 57 juta pada tahun 2025.

Data ini menunjukkan bahwa ekspor sawit ke Rusia masih didominasi oleh produk minyak sawit olahan dasar, khususnya RBD Palm Oil dan RBD Palm Stearin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.