RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menegaskan, ekonomi Indonesia saat ini baik-baik saja. Ia memandang, ekonomi tahun 2026 jauh lebih baik dibandingkan era Covid-19 dan krisis 1998.
Hal ini ditegaskan Anin untuk menjawab pertanyaan sejumlah pihak mengenai kondisi ekonomi saat ini. "Banyak yang menanyakan kepada kami, apakah Indonesia diambang krisis," ucap Anin, di Rapimnas Kadin Indonesia, di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Anin mengatakan, baik tidaknya ekonomi harus dilihat dari data. Saat krisis 1998, pertumbuhan ekonomi minus 13 persen. Kemudian, saat Pandemi Covid-19, ekonomi minus 2,1 persen. Sementara saat ini, ekonomi tumbuh 5,1 persen.
"Menurut kami, lebih baik kita melihat ke fundamental saja. Jadi dapat kita sampaikan, melihat data fundamental kita kuat," terang Anin.
Baca juga : IHSG Sedang Menurun, Semoga Bangkit Lagi
Anin melanjutkan, saat ini memang ada tekanan besar. Nilai tukar rupiah melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turun.
Namun, ia kembali menegaskan, publik harus melihat perkembangan ekonomi secara keseluruhan. Ia mengatakan, Penanaman Modal Asing (PMA) saat ini tercatat sebanyak Rp 270 triliun, rata-rata laba bersih emiten tumbuh 16 persen, cadangan devisa 146 miliar dolar AS, dan pertumbuhan kredit 13,3 persen secara tahunan.
"Kita tidak mengatakan yang sebelah kiri (tekanan pada pasar modal) tidak ada, ada. Itu mesti diwaspadai. Tapi kembali ke fundamental dan saya rasa itu yang paling tepat," tegasnya.
Anin menyebut, ekonomi global tengah menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah negara besar bahkan mulai menyiapkan cadangan darurat untuk mengantisipasi situasi yang tidak menentu.
Baca juga : M. Thobahul Aftoni: Forum Lucu-lucuan, Cuma Gertak Sambal
Ia mencontohkan Amerika Serikat (AS) yang tengah membangun cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM). Lalu, Inggris mengimbau warganya untuk menyiapkan kebutuhan mandiri selama 72 jam guna mengantisipasi situasi darurat.
Anin memandang, Indonesia juga terus memperkuat kemandirian. Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan kemandirian di sektor pangan, air, dan energi.
Pengakuan terhadap fundamental ekonomi Indonesia juga disampaikan Country Representative Indonesia US-ABC, Bhredipta Socarana. Ia bahkan menyebut, target pertumbuhan 8 persen bukan hal mustahil. Menurutnya, target ini bisa dicapai dengan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Bhredipta mengenang kesuksesan Indonesia yang pernah meraih pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen pada era 1980-an, seiring lonjakan penerimaan dari sektor minyak. Memasuki menjelang 1990-an, pertumbuhan ekonomi memang mulai melambat, tetapi masih mampu bertahan di kisaran 6,9 persen yang didorong proses industrialisasi.
Baca juga : Erfandi: Masukan Daerah, Bukan Keputusan Semena-mena
“Proses ini menunjukkan adanya kepercayaan antara pemerintah dengan pelaku usaha untuk sama-sama melakukan kegiatan ekonomi," kata Bhredipta, dalam US-ASEAN Business Council Media Briefing di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi 8 persen tidak seharusnya hanya dipandang sebagai angka pencapaian, melainkan sebuah tonggak untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, pekerja, pelaku UMKM, dan pemerintah. Dengan begitu, aktivitas perusahaan tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendukung pembangunan Indonesia dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Bhredipta mencontohkan kontribusi perusahaan dalam memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan, vaksin, dan teknologi yang dapat membantu meningkatkan taraf hidup. Selain itu, iklim usaha yang stabil dan kepastian kebijakan dinilai dapat membuat kegiatan industri lebih terencana dan terukur.
"Kemudian dengan adanya kegiatan perekonomian yang stabil, dengan adanya jaminan bahwa kegiatan perusahaan itu bisa tetap berlangsung tanpa ada kekhawatiran terkait perubahan kebijakan yang secara mendadak, maka kegiatan pelaku industri bisa lebih terencana, bisa lebih terukur,” jelasnya. MEN/BYU
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.