RM.id Rakyat Merdeka - Pasar saham Indonesia masih terus melemah hingga terpukul ke bawah 5.000 imbas aksi jual investor asing. Pelaku pasar masih harap-harap cemas menunggu evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Mengawali perdagangan Selasa (3/11/2026) pagi, IHSG sempat menguat 29,7 poin atau 0,58 persen ke level 5.126,53. Namun, penguatan tersebut tak bertahan lama. Memasuki sesi pertama, indeks justru ambrol 2,62 persen ke level 4.963,06. Aksi jual asing yang mencapai Rp 831,55 miliar ikut menyeret pergerakan pasar.
Berdasarkan data KISI Foreign Lens dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia, nilai jual asing mencapai Rp 2,44 triliun pada perdagangan tengah hari. Sementara nilai beli hanya Rp 1,61 triliun.
Baca juga : KPK Belum Putuskan, Akan Jemput Nusron Atau Tidak
Tekanan makin dalam hingga penutupan perdagangan. IHSG anjlok 192,54 poin atau 3,78 persen ke level 4.904,29. Sebanyak 717 saham melemah, 177 stagnan, dan hanya 69 saham yang menguat.
Hingga penutupan, volume perdagangan tercatat mencapai 24,09 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 11,35 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 1,376 juta kali. Sementara kapitalisasi pasar ikut menyusut menjadi Rp 8.654 triliun.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan, rapuhnya IHSG tidak lepas dari derasnya arus keluar dana investor global. “Tekanan terhadap IHSG masih cukup besar, karena konsistensi net sell asing secara harian,” terangnya di Jakarta, Selasa (3/11).
Baca juga : Suara Rakyat Tidak Boleh Dibungkam Oleh Siapa Pun
Menurut catatan Nafan, hingga November 2026, investor asing telah mencatatkan jual bersih hingga Rp 126,37 triliun. Arus keluar dana tersebut menjadi salah satu faktor yang terus membebani pergerakan pasar saham Indonesia.
Selain aksi jual asing, pelemahan rupiah juga menjadi sumber kekhawatiran pelaku pasar. Pada perdagangan Selasa (3/11), rupiah melemah 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp 18.156 per dolar AS.
Nafan menjelaskan, pelemahan rupiah membuat investasi di pasar saham Indonesia semakin berisiko bagi investor asing. Sebab, nilai investasi mereka dapat menyusut ketika dikonversi kembali ke dolar AS. Kondisi ini berpotensi memperbesar dorongan untuk melepas kepemilikan saham.
Baca juga : PKB Jatim Minta DPC Siapkan Media Center
Pelaku pasar juga masih menunggu evaluasi MSCI yang dijadwalkan berlangsung Rabu (11/11). Menurut Nafan, hasil evaluasi tersebut dapat memengaruhi komposisi dan bobot saham Indonesia dalam indeks acuan MSCI. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi investor institusi internasional.
Kepala Ekonom BCA, David Sumual juga menilai tekanan terhadap IHSG dipengaruhi sentimen MSCI dan tingginya harga minyak dunia. Aksi jual investor asing serta pelemahan rupiah turut memperberat tekanan terhadap pasar saham domestik.
Di tengah gejolak tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak tinggal diam. Bursa terus memperketat pengawasan, termasuk terhadap indikasi manipulasi pasar dan ketidaksesuaian pelaporan kepemilikan saham publik atau free float oleh perusahaan tercatat. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.