Sebelumnya
Proses pengumpulan karet yang memakan waktu lama juga harus jadi perhatian pemerintah saat menggunakannya sebagai bahan campuran aspal. " Kan karet dikumpulkan itu netes, harganya relatif mahal per kilometernya kalau nanti karet makin sulit di panen," sambung dia.
Faisal mengatakan, saat ini Indonesia belum memiliki laboratorium untuk pembangunan infrastruktur dan jalan raya secanggih Singapura. Laboratorium ini dinilai penting bagi Indonesia yang saat ini tengah membangun infrastruktur secara masif. "Kita harus punya. Canggihnya laboratorium tersebut sudah memungkinkan penggunaan aspal baru,"ujarnya.
Baca juga : KPK : Banyak Suami Korupsi Karena Istri
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sebelumnya mengatakan pihaknya bakal menggenjot penggunaan karet alam untuk bahan perkerasan jalan nasional guna menahan laju penurunan harga karet. "Penggunaan karet bahan diutamakan di Sumatera dan Kalimantan sebagai daerah penghasil karet," ujarnya.
Menurut Basuki, penggunaan sumber daya lokal untuk campuran perkerasan jalan bakal membuat biaya lebih efisien. Dia menggambarkan, biaya perkerasan jalan di Sumatera akan mahal bila menggunakan aspal yang dikirim dari Pulau Buton.
Baca juga : Wasit Harus Punya Badan Independen
Sementara, Ketua Presidium Barisan Pemeriksa Kondisi Proyek (BPKP), Rusmin Effendy menerangkan, sudah seharusnya proyek Infrastruktur yang dilakukan pemerintah memiliki perencanaan matang dalam hal kajian ekonomi, lingkungan, dan sosial. [NOV]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.