Sebelumnya
“Lalu kenapa Maret 2021 kredit masih kontraksi? Ini karena pelunasan dan penghapusan kredit lebih besar daripada pertumbuhan kredit. Jadi banyak perusahaan yang tidak mengambil fasilitas, tapi justru mengambil pelunasan,” jelasnya.
Begitu juga dengan indikator kesehatan bank, yang menurut Anung mayoritas masih dalam rentang yang wajar. Hal ini terlihat dari Loan at Risk (LaR) yang mencapai 23,30 persen.
Anung menegaskan, terlepas dari krisis dan kredit restrukturisasi, sebenarnya yang membuat otoritas tenang adalah, adanya nilai buffer bank (bantalan) ketika terjadi krisis, yang justru tumbuh menguat.
Baca juga : OJK Jamin Kesehatan Bank Tetap Baik
“Terlihat dari Alat Likuid per Non-Core Deposit (AL/NCD) yang mencapai 154,53 persen per Maret 2021. Di mana batas minimalnya 50 persen. Nah ini terbukti naik 3 kali lipat dari normal,” sebutnya.
Itu artinya, kata Anung, secara likuiditas bank tidak ada masalah. Apalagi saat pandemi, banyak masyarakat lebih memilih menabung uang di bank.
“Alhasil, CAR perbankan mencapai 24,1 persen, ini tertinggi dalam sejarah,” tandas Anung.
Baca juga : Investasi Pertanian Dorong Tercapainya Ketahanan Pangan
Target Agresif
Dihubungi terpisah, Corporate Secretary PTBank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, Aestika Oryza Gunarto memperkirakan, akan terjadi penurunan outstanding restrukturisasi kredit 10-20 persen di pada kuartal II-2021
Kredit nasabah BRI yang direstrukturisasi karena terdampak Covid-19 mencapai Rp 193,7 triliun pada September 2020. Dan jumlahnya menurun menjadi Rp 189,8 triliun pada akhir Februari 2021.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.