Dark/Light Mode

Catat Pertumbuhan Kredit 5,3 Persen

BNI Punya Amunisi Bangkit Lebih Cepat

Senin, 1 Februari 2021 05:50 WIB
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar (kedua kiri) berbincang bersama (kiri ke kanan) Direktur Treasury dan International BNI Henry Panjaitan, Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini, Direktur Bisnis Konsumer BNI Corina Leyla Karnalies, Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati dan Direktur Corporate Banking BNI Silvano Rumantir saat Public Expose BNI tahun 2020 di Jakarta, Jumat (29/1/2021). (Foto : ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa).
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar (kedua kiri) berbincang bersama (kiri ke kanan) Direktur Treasury dan International BNI Henry Panjaitan, Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini, Direktur Bisnis Konsumer BNI Corina Leyla Karnalies, Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati dan Direktur Corporate Banking BNI Silvano Rumantir saat Public Expose BNI tahun 2020 di Jakarta, Jumat (29/1/2021). (Foto : ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Kinerja PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk cukup stabil kendati terdampak pandemi. Bank pelat merah ini memiliki sejumlah amunisi alias bekal untuk bisa bangkit lebih cepat.

Pandangan itu dikemukakan peneliti ekonomi dari Institute for Development for Econom­ics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara. Bahkan, ia optimistis, BNI berpotensi peningkatan kinerja tahun ini.

“Perseroan memiliki ruang yang cukup untuk mengakselerasi kinerja fungsi intermediasi tahun ini,” kata Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca juga : Hadapi Tekanan, Kredit BNI Catat Pertumbuhan 5,3 Persen

Apalagi menurutnya, selama ini BNI telah fokus di segmen digital. Serta, layanan perbankan luar negeri, seperti remitansi dan lain­nya. “Harusnya tahun ini BNI bisa bangkit lebih cepat dan mendorong kinerja perseroan,” imbuhnya.

Tanda-tanda bank pelat merah ini berkinerja moncer tahun ini, terlihat dari laporan kinerjanya sepan­jang 2020. Di mana BNI mampu mencatat kredit sebesar Rp 586,2 triliun, atau tumbuh 5,3 persen. Di samping itu, BNI juga melakukan upaya-upaya untuk mengoptimal­kan komposisi aset dan liabilities. Sehingga pengelolaan dana perse­roan dapat lebih efektif.

Alhasil, perseroan mampu menjaga Net Interest Margin (NIM) di level 4,5 persen melalui strategi manajemen biaya dana yang efektif. BNI mencatatkan biaya dana (cost of fund) yang terus mengalami perbaikan di setiap kuartalnya. Terutama pada kuartal IV-2020 yang berada pada level 2 persen, atau membaik 60 basis poin dari kuartal sebelum­nya. Sehingga cost of fund pada akhir 2020 turun menjadi 2,6 persen dari 3,2 persen di 2019.

Baca juga : Bombana Kini Punya Gedung Perpustakaan Baru

Moncer di 2021

Direktur Keuangan BNI, Novi­ta Widya Anggraini menuturkan, di tengah kondisi perkonomian yang menantang, perseroan mere­alisasikan pendapatan non-bunga atau Fee Based Income (FBI) sebesar Rp 11,9 triliun. Atau tumbuh 4,5 persen dibandingkan periode yang sama di 2019, serta dapat melakukan efisiensi biaya operasional yang hanya tumbuh 2,2 persen year on year (yoy).

Novita mengakui, kedua hal tersebut menjadi sasaran utama perusahaan selama masa pande­mi, khususnya untuk meredam tekanan pendapatan bunga yang turun 4 persen yoy.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.