BREAKING NEWS
 

Cerita Aroma Kopi Kapal Tanker dan Teh Prendjak dari Tanjungpinang

Writer : Dedi Arman
Editor : UJANG SUNDA
Sabtu, 7 November 2026 20:16 WIB
Kopi Kapal Tanker dan Teh Prendjak, oleh-oleh khas Kota Tanjungpinang. (Foto: Istimewa)

Ada sesuatu yang menarik dari Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau. Kota ini tidak memiliki perkebunan kopi maupun perkebunan teh, tetapi justru dikenal sebagai tempat lahirnya dua produk minuman yang namanya telah melekat kuat dalam kehidupan masyarakat. Bahkan dikenal hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Keduanya adalah Kopi Kapal Tanker dan Teh Prendjak. Kedua produk ini memiliki cerita yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu hal. Keduanya tumbuh dari tradisi minum masyarakat Kepulauan Riau yang sudah berlangsung lama.  

Kopi Kapal Tanker, Bermula dari Racikan Rumahan

Cerita Kopi Kapal Tanker bermula pada 1969. Saat itu, seorang warga Tanjungpinang bernama Anuar Efendi mulai meracik kopi dengan komposisi khusus. Usaha tersebut awalnya dikerjakan secara sederhana di rumahnya, di Jalan Bakar Batu. Tidak ada gambaran bahwa racikan rumahan itu kelak berkembang menjadi salah satu produk kopi yang dikenal luas di Kepulauan Riau.

Baca juga : KJRI Cape Town Gelar Indonesian Folk Market, Perkuat Diplomasi Kuliner & Budaya

Dari rumah, usaha tersebut kemudian berkembang dan berpindah ke Jalan Gambir. Ketekunan Anuar Efendi membangun usaha kopi perlahan-lahan membuahkan hasil. Racikannya semakin dikenal dan menjadi pilihan masyarakat. Nama Kapal Tanker pun memiliki kedekatan dengan lingkungan maritim Tanjungpinang. Nama itu terinspirasi dari kapal-kapal tanker yang pada masa tersebut banyak terlihat melintas di perairan sekitar kota.

Pilihan nama tersebut terasa tepat. Tanjungpinang sejak lama merupakan kota yang kehidupannya tidak dapat dipisahkan dari laut dan aktivitas pelayaran. Kapal-kapal yang hilir mudik menjadi pemandangan sehari-hari. Dari lanskap maritim itulah lahir sebuah merek kopi yang kemudian menjadi salah satu ikon produk lokal.

Di sinilah Kopi Kapal Tanker menemukan tempatnya. Biji kopi pilihan, termasuk Arabika dan Robusta, diolah melalui proses pemanggangan dan peracikan untuk menghasilkan cita rasa yang menjadi ciri khas produk tersebut. Bahan baku yang didatangkan dari daerah penghasil kopi kemudian diproses di Tanjungpinang menjadi produk yang memiliki identitas lokal.

Adsense

Lebih dari setengah abad berlalu, usaha yang dirintis Anuar Efendi tetap bertahan. Pengelolaannya kini diteruskan oleh generasi kedua. Untuk pabrik di Tanjungpinang, usaha ini dikelola Beny, anak ketiga sang pendiri, sementara anak pertama dan kedua meneruskan usaha keluarga di Jakarta.

Perjalanan panjang itu menunjukkan bahwa industri lokal tidak selalu harus tumbuh di daerah penghasil bahan bakunya. Dengan keterampilan meracik, menjaga mutu, dan memahami selera konsumen, sebuah kota dapat membangun industri pengolahan yang kuat meskipun bahan bakunya berasal dari luar daerah.

Kini, Kopi Kapal Tanker tidak hanya dijumpai di rumah-rumah warga Tanjungpinang. Produk ini juga dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia, bahkan menembus pasar luar negeri dengan sejumlah merek dagang. Kemasan yang beragam disediakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kedai kopi dan kafe. Perusahaan juga melakukan pembaruan peralatan produksi, mulai dari mesin pemanggang hingga mesin pengemasan.

Baca juga : Merawat Budaya Lewat Seni & Kuliner, Kisah Sampan Bujana Sentra Dibukukan

Bagi Tanjungpinang, keberadaan industri ini mempunyai arti lebih dari sekadar kegiatan perdagangan. Pabrik kopi tersebut telah membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan kegiatan ekonomi, dan memperkenalkan nama kota ini melalui produk yang dipasarkan ke berbagai daerah. Kopi Kapal Tanker akhirnya bukan hanya merek dagang, melainkan juga bagian dari kebanggaan masyarakat setempat.

Ada hal menarik di balik berkembangnya industri kopi di kota ini. Kepulauan Riau sebenarnya pernah memiliki sejarah perkebunan kopi. Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, tanaman kopi jenis Liberika diperkenalkan dan dibudidayakan di sejumlah wilayah, termasuk Bintan dan Batam. Bibitnya disebut berasal dari Afrika dan dibawa melalui jaringan perkebunan kolonial Belanda. Liberika dikenal sebagai jenis kopi yang dapat tumbuh di dataran rendah, bahkan di lahan gambut.

Namun, kejayaan perkebunan kopi itu tidak berlangsung lama. Memasuki awal abad ke-20, banyak perkebunan kopi mulai beralih menjadi perkebunan karet. Pada masa itu, karet sedang menjadi komoditas primadona karena harga jualnya lebih menjanjikan. Perubahan orientasi perkebunan tersebut membuat tanaman kopi semakin tersisih.

Meski perkebunan kopi kemudian menghilang dari sebagian besar wilayah Kepulauan Riau, kebiasaan minum kopi tetap bertahan. Masyarakat tidak kehilangan tradisi ngopi hanya karena daerahnya tidak lagi menghasilkan biji kopi sendiri. Bahan baku didatangkan dari daerah lain, terutama Sumatera dan Jawa, untuk kemudian diolah menjadi kopi bubuk.

Teh Prendjak Sejak 1980

Sama halnya dengan kopi kapal tanker, teh prendjak juga dimiliki pengusaha lokal Tanjungpinang. Bahan bakunya tidak berasal dari perkebunan di Kepulauan Riau. Daun teh didatangkan dari sejumlah daerah penghasil teh di Indonesia, terutama Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. 

Teh Prendjak diproduksi  PT Panca Rasa Pratama (PT PRP) di Tanjungpinang. Industri ini mulai beroperasi sejak 1980. Kehadirannya memperlihatkan bagaimana sebuah daerah yang tidak memiliki perkebunan teh dapat mengembangkan industri pengolahan minuman dan menjadikan produknya bagian dari kebiasaan masyarakat. Sejak awal 2026, pabrik teh dikabarkan pindah ke salahsatu daerah di Jawa Tengah, namun produknya tetap saja menguasai pasar Tanjungpinang dan sekitarnya.

Bagi masyarakat Pulau Bintan, teh panas bukan sekadar minuman. Ada kebiasaan yang telah berlangsung turun-temurun. Menikmati secangkir teh sambil berbincang, baik di rumah maupun di kedai kopi. Bahkan, istilah kedai kopi di Tanjungpinang tidak selalu berarti tempat yang hanya menjual kopi. Teh juga menjadi minuman yang banyak dipesan pengunjung.

Baca juga : Festival Indonesia 2026 Kenalkan Budaya & Kuliner di Melbourne

Dalam suasana pagi yang gerimis, atau yang oleh masyarakat  setempat disebut renyai, kedai-kedai kopi biasanya menjadi tempat yang ramai. Secangkir teh panas menjadi teman yang cocok untuk menemani percakapan. Di antara berbagai merek teh yang beredar, Prendjak memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

Nama Prendjak sendiri menyimpan cerita yang menarik. Nama tersebut diambil dari burung prenjak, burung kecil pemakan serangga yang dikenal memiliki suara kicauan nyaring. Dalam kepercayaan masyarakat di sejumlah daerah, burung ini dianggap sebagai pertanda kedatangan tamu. Kedatangan tamu sering dimaknai sebagai datangnya rezeki.

Pemilihan nama burung prenjak mengandung harapan agar produk teh tersebut membawa keberuntungan dan rezeki bagi siapa pun yang menikmatinya. Nama itu bukan sekadar pilihan untuk sebuah merek dagang, tetapi juga menyimpan makna yang dekat dengan kehidupan dan kepercayaan masyarakat. Seiring perjalanan waktu, Teh Prendjak semakin dikenal luas. Produk yang awalnya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat kemudian berkembang menjadi salah satu oleh-oleh khas Tanjungpinang. Bahkan, pemasarannya telah menjangkau pasar luar negeri. 

Ketika kopi dan teh menjadi identitas kota

Kopi Kapal Tanker dan Teh Prendjak memperlihatkan wajah lain Tanjungpinang. Kota ini bukan daerah penghasil utama biji kopi ataupun daun teh, tetapi mampu membangun industri pengolahan yang bertahan puluhan tahun dan menghasilkan produk yang dikenal masyarakat luas.

Keberhasilan keduanya juga tidak dapat dilepaskan dari budaya minum masyarakat setempat. Di Tanjungpinang, kedai kopi memiliki kedudukan sosial yang khas. Tempat ini bukan semata-mata ruang untuk menikmati minuman, melainkan juga ruang perjumpaan berbagai lapisan masyarakat. Di kedai kopi, orang bertemu untuk berbincang, bertukar kabar, membicarakan persoalan sehari-hari, hingga mendiskusikan berbagai persoalan sosial dan pemerintahan. 

Ketika seseorang membawa sebungkus Kopi Kapal Tanker atau Teh Prendjak sebagai oleh-oleh dari Tanjungpinang, yang dibawa pulang sesungguhnya bukan hanya kopi dan teh. Ada cerita tentang sejarah usaha, tradisi minum, dan kehidupan masyarakat Melayu yang ikut tersimpan di dalamnya.**

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense