Dark/Light Mode

Stok Pork-Belly Mulai Langka

Pelaku Usaha K-Food Keluhkan Sulitnya Mencari Bahan Baku

Rabu, 14 Oktober 2026 07:13 WIB
Resto K-Food. Foto: Dok K-Food
Resto K-Food. Foto: Dok K-Food

RM.id  Rakyat Merdeka - Pelaku usaha kuliner berbasis daging babi atau pork mulai kesulitan mendapatkan bahan baku pork-belly impor. Terbatasnya stok di tingkat pemasok, ditambah mahalnya harga daging babi lokal yang dinilai belum konsisten dari sisi kualitas, membuat pelaku usaha restoran harus menghadapi tekanan biaya dan risiko penurunan kepuasan konsumen.

Mr Yoon, pelaku usaha kuliner K-Food, mengatakan pasokan pork-belly impor saat ini semakin sulit diperoleh. Kondisi tersebut membuat operasional restoran yang bergantung pada kualitas potongan daging tertentu menjadi tidak menentu.

“Sekarang agak bermasalah. Daging babi impor sekarang susah dicari. Sementara daging babi di Indonesia juga sudah agak mahal,” kata Mr Yoon, di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Menurut dia, persoalan tidak hanya terletak pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga kualitas daging babi lokal yang dinilai belum memenuhi standar kebutuhan restorannya. Perbedaan tekstur dan mutu daging membuat proses pengolahan, menjadi lebih sulit dikendalikan.

Mr Yoon mengungkapkan, restoran yang dikelolanya memiliki tiga pemasok daging babi. Namun, saat ini hanya satu pemasok yang masih memiliki stok, itu pun mulai menghadapi kendala pasokan.

Baca juga : Frisian Flag Perkuat UMK Kuliner dari Dapur Rumah

“Sekarang tersendat semua. Katanya susah mendapatkan stok karena impor sekarang tidak bisa. Di tingkat supplier, stok juga sudah mulai habis,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kuliner kesulitan menjaga kesinambungan pasokan. Ketika bahan baku impor semakin terbatas, restoran harus mencari alternatif dari produk lokal, kedati kualitasnya masih sangat jauh Mr Yoon bilang, daging babi lokal memiliki variasi kualitas yang cukup lebar.

Sebagian daging dinilai bagus, tetapi sebagian lainnya terlalu keras atau terlalu lembut sehingga menghasilkan tekstur yang berbeda ketika diolah.

“Kadang-kadang ada yang keras, kadang-kadang ada yang lembut. Jadi kualitasnya tidak rata dan kurang digemari konsumen kita,” katanya.

Persoalan kualitas tersebut berdampak langsung pada pengalaman konsumen. Menurut Mr Yoon, sejumlah pelanggan mengeluhkan aroma daging dan teksturnya yang keras. Keluhan itu menjadi tantangan bagi restoran yang harus mempertahankan cita rasa dan standar penyajian makanan.

Baca juga : Kebab Blenger 777 di Jurumudi: Mulai Rp10 Ribu, Bertahan di Tengah Persaingan

Di sisi lain, penggunaan daging babi lokal juga belum tentu menjadi solusi yang lebih ekonomis. Mr Yoon menyebut harga daging babi lokal mulai meningkat, bahkan sudah mendekati harga daging impor. Padahal, menurut dia, kualitas daging impor lebih sesuai dengan kebutuhan restorannya.

“Daging impor memang mahal, tetapi kualitasnya lebih bagus. Sekarang daging lokal juga harganya sudah tinggi, hampir sama dengan impor. Dengan harga yang sama, mendapatkan daging berkualitas bagus justru susah,” ujarnya.

Kesenjangan antara harga dan kualitas tersebut membuat pelaku usaha menghadapi dilema. Menggunakan bahan baku lokal berisiko menimbulkan ketidakkonsistenan rasa dan tekstur, sedangkan mempertahankan standar dengan daging impor terkendala ketersediaan barang.

Situasi ini berpotensi menambah beban modal usaha, terutama bagi restoran yang harus menjaga persediaan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan operasional harian. Jika kondisi tersebut berlanjut, dia khawatir akan berimbas ke operasional restoran.

Atas kondisi itu, Mr Yoon berharap Pemerintah memberikan kepastian mengenai kebijakan dan mekanisme impor daging babi, khususnya pork-belly, agar pelaku usaha dapat kembali memperoleh bahan baku sesuai kebutuhan.

Baca juga : Sepiring Ayam Asap, Seribu Kisah di Tepi Jalan

“Saya minta impornya dibuka dulu. Nanti daging lokal dan impor juga bisa dibedakan. Sekarang harga daging lokal tinggi, tetapi kualitasnya masih jauh berbeda dengan impor,” katanya.

Mr Yoon memahami pemerintah juga memiliki kepentingan melindungi peternak lokal dan memastikan kegiatan impor berjalan sesuai ketentuan. Karena itu, ia berharap kebijakan yang diterapkan dapat mempertimbangkan kebutuhan industri kuliner tanpa mengabaikan keberlangsungan usaha peternak dalam negeri.

Ia juga mengharapkan adanya kepastian mengenai mekanisme dan jadwal perizinan impor sehingga pelaku usaha maupun pemasok dapat menyusun perencanaan pembelian dengan lebih baik.

Dengan pasokan yang lebih terjamin dan mekanisme impor yang jelas, pelaku usaha akan dapat menjaga kualitas makanan tanpa terus dibayangi kenaikan biaya yang berpotensi membebani konsumen.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.