BREAKING NEWS
 

Pengembangan Manggis Bisa untuk Konservasi dan Kurangi Emisi Karbon

Reporter : HAIKAL AMIRULLAH
Editor : UJANG SUNDA
Kamis, 3 Oktober 2019 12:27 WIB
Direktur Buah dan Florikultura,nDitjen Hortikultura, Kementan, Liferdi Lukman (Foto: Humas Kementan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tak banyak yang tahu, selain bernilai ekonomi dan bergizi tinggi, ternyata manggis juga turut berperan dalam perbaikan kualitas lingkungan. Lho kok bisa?

Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi Lukman, menyebut pengembangan manggis memberi manfaat ganda. Selain manfaat ekonomi langsung juga berpotensi mengurangi emisi karbon.

"Tanaman manggis adalah salah satu anugerah yang diberikan Tuhan untuk daerah tropis seperti Indonesia. Selain buahnya bernilai komersil tinggi, manggis juga baik untuk konservasi. Tanaman pelindung kota, memperbaiki kualitas lingkungan karena sifatnya yang every green, akarnya kokoh serta batangnya kuat dan elestis. Sangat potensial untuk mendukung upaya pengurangan emisi karbon," ujar Liferdi di sela-sela kunjungan kerja ke kebun manggis PT ALC AGRO, Desa Kopo, Kecamatan Cisarua, Bogor, Kamis (3/10).

Baca juga : Mendes Dorong Pengembangan Teknologi Untuk Kesejahteraan Rakyat

Liferdi menjelaskan, adanya Protokol Kyoto 1997 yang mengatur tentang perdagangan karbon. Dalam konteks negara, siapa pun yang melakukan upaya pengurangan emisi misalnya CO2 maka berhak mendapatkan kompensasi. Dengan asumsi 1 ton karbon mendapatkan kompensasi senilai 71 dolar AS. 

"Sesuai data BPS tahun 2018, kita punya 2,1 juta batang pohon manggis yang sudah menghasilkan atau identik dengan pohon manggis yang sudah berumur tua. Nah, kalau dalam setiap 1 pohon manggis diasumsikan menyimpan 10 kilogram karbon saja, maka sejatinya sudah berkontribusi mengurangi emisi sebanyak 21.000 ton CO2. Kalau dikalkulasi ekonomi atau diperdagangkan di pasar karbon bisa senilai kurang lebih 1,49 juta dolar AS," papar Liferdi.

Adsense

Dalam konteks jasa, lanjut Liferdi, lingkungan tanaman manggis yang telah menghasilkan buah, mampu memberikan manfaat ekonomi lingkungan kepada masyarakat sebesar 1,49 juta dolar AS atau Rp 20,8 miliar. "Nilai tersebut baru dari aspek pengurangan emisi, belum nilai ekonomi langsung dari hasil buah dan bagian tanaman manggis lainnya. Terlebih lagi kalau dihitung jasa lingkungannya terhadap pengendalian banjir, erosi dan konservasi air tanah. Luar biasa besar manfaatnya," terang Liferdi.

Baca juga : Kenaikan Tarif Cukai Rokok Bisa Kurangi Defisit APBN

Menurut Liferdi, saat ini Ditjen Hortikultura terus menggodog dan menyempurnakan grand design pengembangan Hortikultura 2020-2024, yang mensinergikan berbagai aspek terkait dari hulu hingga hilir. Khusus manggis, pihaknya mendorong pengembangan kawasan manggis yang berorientasi pasar modern dan ekspor namun tetap berwawasan lingkungan. 

"Tanaman manggis dikenal sebagai tanaman yang berumur panjang bahkan bisa mencapai ratusan tahun. Tidak serta merta misalnya ditanam sekarang lalu bisa dipetik buahnya 2-3 tahun lagi. Untuk belajar berbuah saja paling tidak butuh 8 tahun. Jadi perlu manajemen pengelolaan kebun dan visi jangka panjang yang kuat terkait kelestarian lingkungan," katanya. 

Dirinya menjelaskan, selama fase pertumbuhan awal, tanaman manggis butuh tanaman peneduh terutama pada periode kritis 0-3 tahun sejak tanam. Dalam periode tersebut bisa saja dimanfaatkan untuk menanam tanaman sela seperti albasia, pisang atau pepaya agar dalam jangka menengah petani bisa mendapatkan penghasilan lain.

Baca juga : Gandeng Pertamedika IHC, PHE Tingkatkan Kualitas Gizi Ibu dan Anak di Karawang

"Selain manfaat ekonomi langsung, harus diingat bahwa pengembangan kawasan manggis juga memberikan manfaat terhadap lingkungan. Nah, kalau sudah bicara kepentingan jasa lingkungan, semua pihak atau stakeholders terkait musti terlibat," tambahnya.

Manajer Operasional PT ALC AGRO, Rusman, mengaku saat ini sudah mengembangkan manggis dalam satu hamparan lahan HGU seluas 90 hektar di Desa Kopo Kecamatan Cisarua, Bogor. "Kami mungkin satu-satunya swasta di Indonesia bahkan di kawasan Asia Pasifik yang menanam manggis secara monokultur dalam satu hamparan yang luasnya mencapai 90 hektar. Target kami bisa mencapai 200 hektar. Coba perhatikan, kawasan manggis yang ada di Indonesia rata-rata masih berupa hutan, bercampur dengan tanaman buah lainnya. Kami ingin bangun kawasan percontohan manggis yang tidak semata bertujuan komersial, namun melekat visi lingkungan alam yang lestari," papar Rusman. [KAL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense