BREAKING NEWS
 

Hubungan Keberhasilan Program KB dan Upaya Menjaga Regenerasi

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 11 Juli 2024 13:01 WIB
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dokter Hasto (Foto: Dok. BKKBN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jagad media sedang dihebohkan dengan tajuk berita “BKKBN Mewajibkan Punya Anak Perempuan 1 dalam Keluarga”. Judul berita tersebut bersliweran dengan ragam komentar pro dan kontra dari masyarakat.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di balik kehenohan tersebut? Sebelumnya, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dokter Hasto memang menyampaikan pernyataan yang cukup menggelitik. “Kami mempunyai target satu perempuan 'rata-rata' melahirkan satu anak perempuan,” ucapnya.

Pernyataan tersebut dilontarkan dokter Hasto saat menyikapi angka kelahiran (Total Fertility Rate = TFR) di Indonesia yang sudah mencapai angka ideal 2,1 pada saat kegiatan Media Briefing, di Hotel Santika Semarang, Jumat (27/06/2026).

Pengertian rata-rata merupakan perwakilan kuantitas dari sekelompok data. Besar kecilnya nilai rata-rata dipengaruhi jumlah semua data dan banyaknya data. Makna rata-rata tidak sama dengan pengertian wajib.

Jadi, BKKBN menegaskan, rata-rata tersebut bukan lantas satu keluarga wajib mempunyai anak perempuan. Bisa jadi ada keluarga yang mempunyai dua anak laki-laki semua, atau justru mempunyai dua anak perempuan semua.

"Kalau depan rumah saya punya anak perempuan dua, belakang saya gak punya anak perempuan, pas sudah," kata dokter Hasto, di sela kegiatan “Sinergi dan Kolaborasi Tenaga Lini Lapangan untuk Menyukseskan Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Jawa Tengah” di Hotel Atria Magelang, Minggu (7/7/2024).

Keberhasilan Program KB

Baca juga : PNM Dukung Percepatan Program Open Defecation Free Lewat Edukasi

Dalam program Keluarga Berencana (KB) ada imbauan "Menghindari 4 Terlalu dalam perencanaan kehamilan. Yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak. Tujuan dari program ini adalah meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta menekan angka kematian ibu dan bayi pada saat melahirkan.

BKKBN menerangkan, Program KB juga berperan menentukan kualitas keluarga. Sebab, program ini dapat menyelamatkan kehidupan perempuan serta meningkatkan status kesehatan ibu, terutama dalam mencegah kehamilan tak diinginkan.

Kebijakan pemerintah meluncurkan program KB sejak tahun 1970-an dinilai telah berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan penduduk Indonesia melambat dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, sepanjang 2010-2020, rata-rata laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,25 persen, menurun cukup tajam dibandingkan periode 1971-1980 yang sebesar 2,31 persen. Bahkan, laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2024 ini “hanya” 1,11 persen, menurun 0,2 persen dari tahun 2023.

Banyak faktor yang memengaruhi penurunan laju penurunan penduduk di Indonesia. Salah satunya adalah penurunan angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2020, angka TFR di Indonesia sudah mendekati angka standar 2,1.

Angka rujukan tersebut merupakan angka capaian ideal bagi seluruh negara yang kemudian disebut dengan istilah Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS). Jika TFR berada di bawah angka 2,1, penduduk cenderung akan mengalami penurunan jumlah. Namun, jika TFR lebih dari 2,1, maka akan terjadi pertumbuhan penduduk.

Adsense

TFR merupakan indikator penting yang mencerminkan rata-rata anak yang dilahirkan seorang wanita selama masa reproduksinya. Nilai TFR menjadi acuan strategis untuk menilai efektivitas program KB dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk di suatu negara.

Baca juga : Pakar Pastikan Program Makan Bergizi Bakal Efektif Cegah Stunting

Penurunan TFR juga berperan penting dalam mencegah terjadinya ledakan kelahiran (babyboom) di masa pandemi Covid-19. Pandemi ini telah memicu kekhawatiran bersama akan lonjakan angka kelahiran akibat penurunan penggunaan alat kontrasepsi dan keterbatasan layanan kesehatan.

Meskipun demikian, ada disparitas angka kelahiran (TFR) di berbagai daerah di Indonesia. Pembangunan dan akses informasi yang belum merata menjadi salah satu pangkalnya.

“Di Jawa, (TFR) sudah 2,00 sekian. Di Jawa Barat sudah 2,00 sekian. Sementara di Jawa Tengah 2,04, di DIY 1,9, di DKI 1,89. Jadi, pembangunan yang sifatnya asimetris harus disikapi bersama," ucap dokter Hasto.

Dia melanjutkan, ada wilayah lain seperti NTT dan Papua yang jumlah kelahiran anaknya masih banyak. "Tapi di daerah Jawa rendah sekali," ungkapnya.

Untuk itulah, kata dokter Hasto, BKKBN berkomitmen untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan spesifik masing-masing wilayah. Hal ini dilakukan demi menjaga keseimbangan dan mencapai angka kelahiran ideal di seluruh wilayah Indonesia.

Perencanaan Keluarga, TFR = 2,1 & NRR = 1

Fertilitas cenderung berkorelasi terbalik dengan tingkat pembangunan ekonomi. Secara historis, wilayah maju memiliki tingkat fertilitas yang jauh lebih rendah, yang umumnya berkorelasi dengan kekayaan, pendidikan, tekhnologi, arus informasi, dan faktor-faktor lain yang lebih besar. Sebaliknya, di wilayah yang kurang berkembang, tingkat fertilitas cenderung lebih tinggi. Tingkat fertilitas juga lebih tinggi antara lain karena kurangnya akses ke alat kontrasepsi.

Baca juga : Mahfud Risau Keberanian Berantas Korupsi Menurun Drastis

Suatu negara telah mencapai penduduk tumbuh seimbang, maka angka fertilitas atau TFR ideal sebesar 2,1. Agar tidak terjadi de-populasi nilai Net Reproductive Rate (NRR) mesti sebesar 1,00.

NRR adalah jumlah bayi perempuan yang dilahirkan oleh perempuan selama masa reproduksinya dengan asumsi bayi perempuan tersebut mengikuti pola fertilitas dan pola mortalitas ibunya. Karena itulah, ada korelasi kuat antara TFR dengan NRR. Bahasa mudahnya, rata-rata kelahiran anak perempuan di masyarakat dianjurkan satu anak, tetapi dengan tetap mengupayakan di setiap keluarga memiliki anak rata-rata sebanyak dua anak.

BKKBN menekankan, meskipun terdengar seperti mengatur kelahiran, tetapi begitulah pentingnya merencanakan suatu kehamilan. Hak prerogatif memang milik Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi tidak ada salahnya merencanakan suatu kehamilan dalam keluarga.

Hal itu sejalan dengan program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, Keluarga Berencana (Bangga Kencana) BKKBN, yang menitikberatkan kepada pentingnya merencanakan sebuah keluarga. Dimulai dari memperhatikan asupan makanan bagi remaja untuk pertumbuhannya.

Penting juga menjaga kesehatan pada setiap calon pengantin, menjaga kesehatan bagi ibu hamil dan menyusui, dan memperhatikan asupan makanan bergizi bagi bayi dan anak. Seperti rantai makanan, seluruhnya saling berkaitan erat. Tujuannya tentu saja untuk mewujudkan generasi emas 2045, serta menjaga agar regenerasi tetap berjalan baik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense