BREAKING NEWS
 

Kekerasan Di Sekolah Tidak Terjadi Kalau Guru Mengajar Dengan Hati

Reporter : DIDI RUSTANDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Minggu, 15 September 2024 08:59 WIB
Foto: Didi Rustandi/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kekerasan dalam lingkumgan sekolah yang dilakukan oleh seorang guru pada anak didik, tidak akan terjadi, kalau guru setiap memberi pelajaran pada anak didiknya menggunakan hati dan rasa kasih.

Mengajar dengan kekerasan apalagi sampai menyakiti anak didik, sudah bukan zamannya lagi.

"Mengajar dengan hati dan kasih seperti itu di sekolah kami hukumnya wajib, apa lagi di sekolah kami juga terdapat beberapa siswa berkebutuhan khusus, yang memerlukan kesabaran," kata Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Kota Ternate, Sabaria Umahuk, pada acara Press Tour Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) dan Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), di Kota Ternate, Maluku Utara, Jumat (13/9/2024).

SMA yang berlokasi di JL K. H. Dewantara Kota Ternate, Provinsi Maluku Utsrav, merupakan sekola predikat favorit sebelum istilah itu dihapus.

Guru dan tenaga kependidikan sekarang ini dihadapkan pada pilihan yang sulit, seperti buah simalakama. Ibaratnya tidak dimakan ibu yang mati, dimakan bapak yang mati.

Baca juga : Munaslub Kadin Pilih Anindya Jadi Ketum, Arsjad Nyatakan Sikap Hari Ini

"Di sini guru harus bijak dan adil bagaimana caranya supaya ibu dan bapak tetap hidup, meskipun tidak bersentuhan dengan buah simalakama tersebut," tuturnya.

Sebagai tenaga kependidikan, Sabaria mengaku prihatin mendengar ada siswa dibuli oleh temannya, berprilaku menyimpang serta penyalahgunkan narkoba.

Kata dia, ada anak didiknya yang terlbat kasus seperti itu, orang tuanya langsung dipanggil diajak mengabilikan anaknya pada jalan yang lurus supaya fokus belajar.

Ternyata, tidak ada kemajuan bahkan menjadi jadi. Khawatirkan menular pada teman yang lain, solusi yang diambil, siswa tersebut dikembalikan pada orangtuanya.

Adsense

Keputusan tersebut sudah melalui beberapa tahapan, dari teguran, peringatan tertulis satu, peringatan dua.

Baca juga : Program Sekolah Swasta Gratis, Jangan Hapus KJP

Karena tidak ada perubahan, maka atas kesepakan bersama, siswa tersebut dikembalikan pada orang tuanya dengan baik baik, mengingat pihak sekolah tidak sanggup lagi mendidiknya.

"Haknya untuk memperoleh pendidikan tetap dijamin di sekolah yang lain." katanya.

Kasus seperti itu terjadi di awal ia menjabat kepala sekolah. Seajak ada siswa yang dikembalikan pada orang tuanya, kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 10 Ternate berjalan normal tidak terjadi lagi kasus serupa.

Anak berkebutuhan khusus di SMA Negeri 10 yang sebelumnya dikhawatirkan akan menjadi sasaran olok olok, tenyata tidak, bahkan difasilitasi dengan baik.

Ketika ditemui di ruang belajar, siswa berkebutuhan khusus bernama Veri mengatakan teman teman temannya memperlakukannya dengan baik. Sering dibantu saat kesulitan.

Baca juga : Cagar Alam Mutis Timau Menjadi Taman Nasional

Siswa kelas 12 (kelas 3) itu sebelumnya bercita cita ingin menjadi petinju untuk menghadapi kalau ada teman yang membuli.

Mengingat temannya di sekolah baik baik semua cita citanya berubah ingin menjadi polisi atau pemain musik seperti ayahnya .

Menurut Sabaria pihak sekolah juga mendatangkan seorang psikolog bagi siswa berkebutuhan khusus tersebut.

"Orang tuanya bangga anaknya diterima di SMA umum, bisa berinteraksi dengan siswa yang normal, sehingga menumbuhkan kepercayaan diri bagi orang tua maupun anak didiknya," kata Sabaria.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense