BREAKING NEWS
 

Hilirisasi Sawit Topang Ekonomi Indonesia

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Sabtu, 23 November 2024 09:44 WIB
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri kelapa sawit terus menunjukkan kontribusinya sebagai salah satu pilar utama perekonomian Indonesia. Selama dua dekade terakhir, kelapa sawit menjadi komoditas strategis yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mendongkrak devisa negara melalui ekspor produk bernilai tambah tinggi.

“Keberhasilan hilirisasi industri sawit dapat dilihat dari dua indikator, yaitu ragam produk hilir yang terus bertambah dan peningkatan rasio ekspor produk hilir dibanding bahan baku,” kata Putu Juli Ardika, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Sabtu (23/11/2024).

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, jumlah produk hilir kelapa sawit meningkat drastis dari 54 jenis pada 2010 menjadi 193 jenis pada 2023. Rasio ekspor bahan baku terhadap produk hilir juga mengalami perubahan besar, dari 40:60 pada 2010 menjadi 7:93 pada 2023.

Baca juga : BSN: Standardisasi Dorong Transformasi Ekonomi

Putu menjelaskan, kontribusi industri sawit terhadap perekonomian nasional sangat besar. Di antaranya menyumbang 3,5 persen terhadap PDB nasional, berkontribusi 11,6 persen dari total ekspor nonmigas, senilai Rp450 triliun pada 2023 dan menyerap 17 juta tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

Bahkan, nilai ekonomi sawit mencapai Rp 193 triliun pada triwulan II-2024, dan diproyeksikan menembus Rp 775 triliun hingga akhir tahun ini.

Adsense

Industri pengolahan sawit telah menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah, khususnya di luar Pulau Jawa. Beberapa kawasan industri berbasis sawit yang sudah berkembang antara lain Dumai (Riau), Sei Mangkei (Sumut), Tarjun (Kalsel), Kotawaringin Barat (Kalteng), Bitung (Sulut), dan Balikpapan (Kaltim).

Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Bukan Mustahil

“Keberadaan kawasan industri ini membantu pertumbuhan ekonomi di daerah terluar, tertinggal, dan terpencil, sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi nasional,” ujar Putu.

Meski berkembang pesat, industri sawit nasional menghadapi sejumlah tantangan. Antara lain penurunan produktivitas akibat usia kebun yang tua, penyakit tanaman, perubahan iklim, serta kampanye negatif di pasar global.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenperin mendorong penerapan standar keberlanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan mempercepat inovasi teknologi di sektor pengolahan. Salah satu inovasi unggulan adalah Steamless-POMELess Palm Oil Technology (SPPOT). Teknologi ini memungkinkan pabrik sawit skala kecil dengan efisiensi tinggi, emisi rendah, dan minim limbah.

Baca juga : Fraksi Golkar DPR: Transformasi Ekonomi Penting Untuk Indonesia Maju 2045

“Kami bahkan memberikan subsidi hingga 30 persen dari harga mesin bagi koperasi atau petani yang menggunakan teknologi ini. Langkah ini diharapkan mendorong modernisasi pengolahan sawit rakyat,” kata Putu.

Kemenperin optimistis, langkah-langkah strategis yang dilakukan akan membawa Indonesia menuju Visi Sawit Indonesia Emas 2045. Targetnya, pada 2029 Indonesia mampu menghasilkan 240 jenis produk hilir dengan nilai ekonomi sawit mencapai Rp1.146 triliun.

“Upaya ini tidak hanya memperkuat industri sawit nasional, tetapi juga menjadikan Indonesia pemimpin global dalam pengolahan sawit berkelanjutan,” pungkas Putu.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense