Sebelumnya
Nanti yang akan bertugas sebagai kelanjutan dari penetapan tersangka, bisa diberikan kekuatan.
“Jadi, benar-benar mereka akan melaksanakan keadilan yang seadil-adilnya,” tegasnya.
Terpisah, Koordinator Junior Doctor Network Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tommy Dharmawan mengakui, aksi perundungan kerap terjadi di dunia kedokteran. Bahkan, aksi itu telah menjadi sebuah budaya.
Baca juga : Flu Burung Merebak Di Amerika Dan Jepang
Menurutnya, pola aksi perundungan PPDS di Indonesia sudah terjadi sejak lama. Salah satunya, pola senioritas yang kurang baik dan paling sering terjadi di PPDS Tanah Air.
“Pola bullying sudah terjadi sangat lama. Pola kultur seperti ini ada, kami tidak menafikkan,” katanya.
Tommy berharap, pola senioritas dalam PPDS dihapus. Dia mencontohkan, ada sejumlah dokter yang tidak bisa melakukan praktik di suatu daerah karena sudah dikuasai oleh seniornya.
Baca juga : PKB Dukung Entaskan Kebodohan Wong Cilik
Selain itu, Tommy juga menyoroti PPDS yang tidak digaji. Dia menilai, gaji sangat berpengaruh pada kasus perundungan, sehingga beberapa oknum dokter senior minta diberikan makan, minta diantar, hingga minta diberikan pelayanan di luar akademis.
Kalau PPDS diberi gaji, minimal mereka bisa beli makan sendiri atau ketika anak sakit.
“Bayangkan, peserta PPDS rentang usia 27-35 tahun, mereka harusnya sudah punya gaji di usia itu dan berkeluarga. Kalau anaknya sakit, keluarganya sakit, tidak ada gaji sama sekali,” tuturnya.
Baca juga : Waskita Karya Kini Punya Peluang Dongkrak Kinerja
Kasus dokter Aulia ini menjadi titik penting dalam perjalanan pembenahan sistem pendidikan dokter di Indonesia.
Kemenkes berkomitmen menjadikan pengalaman pahit dokter Aulia sebagai pelajaran berharga agar tidak ada lagi korban dari budaya pendidikan yang tidak sehat. KPJ
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 3, edisi Jumat, 10 Januari 2025 dengan judul "Beri Penghargaan Untuk Dokter Aulia Menkes Bakal Putus Mata Rantai Perundungan Dokter"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.