Sebelumnya
Gus Ipul menegaskan, Inpres tersebut melarang penggunaan data lain selain DTSEN, guna menjaga keakuratan dan validitas data penerima manfaat.
“Dengan data yang terintegrasi, program bantuan sosial lebih tepat sasaran dan efektif dalam pemberantasa kemiskinan,” imbuhnya.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Sosial (Kemensos) Robben Rico menambahkan, jumlah penerima bansos dalam DTSEN dapat berubah-ubah, tergantung pada kondisi demografi penerima, salah satunya graduasi.
Baca juga : Pelaku Yang Mainkan Harga Migor Bakal Ditindak Tegas
Menurut dia, Kemensos dan BPS akan melakukan pemutakhiran data secara berkala untuk memastikan data tetap valid.
“Periodenya per tiga bulan, (jumlah) penerimanya sangat dinamis. Kalau ada yang berbeda demografinya, misalkan ada yang meninggal, pindah, atau berpindah kelas, ini akan terjadi,” jelasnya.
Perbincangan tentang data dan proses graduasi KPM dari program bansos juga ramai diperbincangkan netizen di media sosial X. Mereka mendukung bansos tidak diberikan seumur hidup kepada KPM, graduasi harusnya seirama dengan meningkatnya kesejahteraan dan pemerataan pembangunan.
Baca juga : Aset Kripto Diramal Akan Dilirik Investor
“Harusnya, bansos hanya media perantara agar si keluarga kurang mampu menjadi mampu. Sukur-sukur bisa jadi kaya. Kalau dikasih terus-terusan, mereka jadi tuman, alias kebiasaan,” cuit akun @ardhanx056.
“Sudah rahasia umum, penerima bansos itu kerap jadi lumbung suara saat pesta politik. Sekarang, saatnya negara mensejahterakan warganya, agar tidak ada lagi bansos, kecuali kepada korban bencana atau lansia sebatang kara,” timpal akun @87878783_.
Sementara, akun @4th_Gen_Ace memiliki pendapat berbeda.
Baca juga : DKI Stop Tunjangan Keluarga Pahlawan
“Jangan distop, nanti banyak yang demo karena banyak yang belum sejahtera. Harusnya, salahin oknum yang males kerja dan cuma bergantung sama bansos. Siangnya ngemis, malemnya maling,” ucapnya.
“Kalau mau graduasi, kunci-kincinya harus dibuka. Di antaranya, bansos harus tepat sasaran, pendidikan merata, kesehatan merata, sembako murah dan hunian baik. Kalau nggak bisa dipenuhi, gimana mau graduasi KPM,” tutur akun @tigabelibisasi6635.
“Yang jadi masalah itu di tingkat daerah. Gimana mau naik kelas, wong yang dapat bansos, nggak dapat pelatihan,” sahut akun @thegreenlips. [SSL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.