RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto menggulirkan sederet program prioritas. Yaitu swasembada pangan, pembentukan 80 ribu Koperasi Merah Putih, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan merasa bangga dan bahagia karena diberi tugas mengoordinasikan sebagian besar program itu. Agenda besar Presiden ini, katanya, berpihak kepada rakyat dan tujuannya mengangkat harkat hidup mereka.
Sepuluh bulan berjalan, hasilnya mulai terasa. Stok beras terbesar sepanjang sejarah. Koperasi Desa sudah diresmikan dan tumbuh dimana-mana. MBG sudah memberi manfaat pada jutaan anak sekolah.
“Program ini membanggakan dan membahagiakan. Semua kementerian mendukung penuh, dan berjuang habis-habisan,” kata Zulhas, dalam wawancara eksklusif dengan Rakyat Merdeka di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (7/8/2025).
Jelang Ulang Tahun RI ke-80, Ketua Umum PAN ini mengingatkan semangat kemerdekaan. Dulu, rakyat miskin rela menyumbang untuk perjuangan: ketela, pisang, singkong. “Selama 28 tahun reformasi, mental itu berubah,” katanya. Semangat memberi, jadi meminta. “Ini harus dikembalikan. Maka, pemberdayaan adalah kunci,” tegasnya.
Baca juga : Per Hari, Bapanas Guyur 12 Ribu Ton Beras Murah
Wawancara ini dilakukan CEO RM Group Kiki Iswara Darmayana, didampingi Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati, Pemimpin Redaksi RM Digital Firsty Hestyarini, Editor Bambang Trismawan, Fotografer Khairizal Anwar dan Tim RM Digital. Berikut petikan lengkap perbincangan kami.
Program-program prioritas pemerintah saat ini cukup ambisius. Mewujudkan ketahanan pangan, merealisasikan Koperasi Desa Merah Putih, Makan Bergizi Gratis dan Sekolah Rakyat. Sebagian besar program tersebut berada di bawah Koordinasi Kemenko Pangan. Bagaimana Bapak memaknai tugas ini?
Saya membantu Bapak Presiden dengan bangga dan bahagia. Saya tidak peduli pujian atau popularitas. Dapat tugas ini luar biasa. Kebijakan-kebijakan Pak Prabowo, agenda-agendanya dan pikirannya sangat besar. Semua penting dan berpihak kepada rakyat, berbasis kepentingan nasional. Harus dikerjakan agar rakyat bangkit dan berdaya.
Selama 28 tahun, kita terlalu sibuk berpolitik. Akibatnya, ekonomi, pertanian, dan pangan kita dikuasai segelintir orang serakah. Sangat merugikan petani, sangat merugikan rakyat. Makanya, kebijakan pertama, kita harus swasembada pangan.
Strategi apa yang diterapkan, sehingga dalam waktu setahun ini, kita ternyata sudah bisa mencapai swasembada beras, bahkan sebentar lagi swasembada pangan?
Petani-petani kita jangan terus disedekahi, tapi diberdayakan. Alhamdulillah, dalam tempo singkat, satu tahun, hasil awalnya sudah kelihatan. Tapi untuk dampak permanen tentu perlu waktu. Saya kira dua, tiga, bahkan lima tahun. Termasuk nanti pembukaan lahan sawah baru, riset varietas unggul, dan sebagainya.
Kami tidak hanya bicara karbohidrat, tapi pangan dalam arti luas, termasuk protein hewani dan nabati. Kita siapkan 20.000 tambak, penguatan sektor perikanan tangkap, dan produksi protein hewan seperti susu dan daging.
Perkebunan rakyat selama ini kalah oleh konglomerasi. Sekarang kita kembangkan. Masyarakat dibantu Pemerintah. Ada kebun kelapa, coklat, kopi, cengkeh, agar rakyat punya peluang di sektor ini. Semua kementerian mendukung penuh dan berjuang habis-habisan. Makanya, saya katakan program ini membanggakan dan membahagiakan, karena ditujukan untuk masyarakat.
Selain swasembada beras, untuk jagung dan komoditi pangan lainnya bagaimana?
Jagung kita juga didukung upaya Polri. Untuk sawah baru, beras dibantu TNI di Merauke dan daerah lain. Kita sudah cukup kuat untuk beras dan jagung. Tapi masih bergantung pada impor kedelai. Stok cadangan beras nasional mencapai 4,2 juta ton. Jagung juga surplus, terutama dari Sulawesi dan NTB. Target jangka pendek kita adalah swasembada beras, swasembada jagung, dan mengurangi impor kedelai dan gula.
Baca juga : Satriwan Salim: Koordinasinya Harus Segera Ditingkatkan
Stok beras kita saat ini terbesar sepanjang sejarah. Tapi mengapa di pasar masih ada yang harganya tinggi?
Hingga September, produksi sudah tembus lebih dari 5 juta ton. Pada Oktober–Desember nanti produksi akan menurun, tapi kita tetap surplus di atas 3 juta ton. Sekarang stok beras nasional ada 4,2 juta ton. Tertinggi sepanjang pemerintahan. Meski begitu, saya belum puas. Presiden ingin kita bukan hanya surplus, tapi juga menjadi pusat pangan dunia. Karena itu, harus mengembangkan lahan baru dan melahirkan varietas unggul. Ini sedang dikerjakan di Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Merauke.
Beras harganya tinggi di pasar itu betul. Ini pernah disinggung Presiden. Ada yang namanya serakahnomics. Semua usaha rakyat mau diambil alih, termasuk urusan beras, oleh perusahaan-perusahaan besar. Masalahnya, pemerintah selama ini tidak punya instrumen atau infrastruktur untuk operasi pasar. Kalau mau turun harga, masuk ke pasar tradisional, kita tak punya kuasa. Beras masuk pasar, dioplos. Pedagang terus cari untung. Nah, nanti Kopdes akan menjadi instrumen sekaligus infrastruktur pemerintah untuk operasi pasar. Beras, minyak goreng, semua bisa langsung disalurkan lewat Kopdes. Pemerintah juga akan menempatkan tiga pegawai P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) di tiap Kopdes. Gajinya dari pemerintah.
Dengan begitu, tengkulak tidak bisa main-main. Pemerintah punya jaringan, rakyat punya usaha. Jangan sampai semua mau dikuasai segelintir, sampai warung di kampung-kampung. Kopdes ini alternatif pemberdayaan. Intinya, kita ingin lahirkan pengusaha-pengusaha desa, yang tumbuh dari kecamatan, lalu kabupaten, hingga menggerakkan ekonomi nasional. ***
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.