BREAKING NEWS
 

Komdigi Bekali Humas K/L Hadapi Krisis Digital Dengan Cepat & Empati Di Medsos

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Kamis, 13 November 2025 21:05 WIB
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi Fifi Aleyda Yahya memberikan pembekalan strategi respons krisis digital kepada humas K/L di Jakarta, Rabu (12/11/2025). Dok. Komdigi

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membekali humas kementerian dan lembaga dengan kemampuan menghadapi krisis di era media sosial. Melalui pelatihan “Social Media Ready: Verify, Clarify, Respond”, para pengelola komunikasi publik diajak memperkuat respons cepat, akurat, dan empatik dalam merespons isu digital yang berkembang liar.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Anugerah Media Humas (AMH) 2025 dan dihadiri para humas dari Kementerian dan Lembaga secara luring dan daring.

“Media sosial bukan hanya ruang cerita, tetapi menjadi ruang utama pembentukan opini publik. Dalam hitungan detik, sebuah informasi dapat menyebar luas membentuk persepsi bahkan mempengaruhi sebuah kebijakan,” jelas Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, lewat sambutan pembuka di Jakarta pada Rabu (12/11/2025).

Fifi menekankan soal tiga hal mendasar yang diangkat sebagai tema pembekalan kali ini, harus menjadi refleksi dan praktik sehari-hari para pengelola komunikasi publik: verify, clarify, dan respond.

Baca juga : Kolaborasi Komdigi-OSNOVA Perkuat Ekosistem Digital Aman Dan Taat UU PDP

Aspek verify atau verifikasi, yakni memastikan data, narasi, dan visual yang kita bagikan telah teruji kebenarannya. Kemudian clarify atau klarifikasi, yakni berani meluruskan informasi yang keliru dengan cara yang cerdas, santun, dan berbasis fakta. Lalu, respond atau respons, menekankan kehadiran yang cepat di ruang digital dengan pesan yang jelas, konsisten, dan menenangkan publik.

“Kecepatan memang penting, namun tanpa akurasi dapat menimbulkan kebingungan. Sebaliknya, akurat tanpa respons yang cepat dapat membuat narasi liar lebih dahulu membentuk opini. Keseimbangan antara verifikasi, klarifikasi, dan respons menjadi kunci utama komunikasi publik di era media sosial,” tutur Fifi.

Berdasarkan data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet nasional telah melampaui angka 80 persen. Sedangkan dalam Survei Komunikasi Global yang dilakukan University of Southern California Center for Public Relations, sebesar 53 persen responden menilai media sosial akan menjadi kanal paling relevan dalam mencapai tujuan program komunikasi pada tahun 2030. Diperlukan kecermatan bagi humas untuk menyikapi media sosial, terutama mengantisipasi krisis di masa mendatang dari hoaks maupun ketidaktepatan informasi.

Adsense

Tantangan komunikasi krisis tidak hanya terletak pada kecepatan penyampaian informasi, tetapi juga pada akurasi, konsistensi pesan, serta kemampuan menjaga kepercayaan masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital. Di era media sosial, sebuah isu dalam hitungan detik dapat berubah menjadi sebuah krisis jika tidak ditanggapi dengan tepat.

Baca juga : Legislator PDIP Ingatkan Bawaslu Harus Siap Hadapi Sistem Digitalisasi Pemilu

Tenaga Ahli Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital, Latief Siregar menyampaikan bahwa humas pemerintah menghadapi tantangan krisis yang lebih besar di media sosial.

“Mengapa isu-isu pemerintah cepat membesar? Karena pemerintah memiliki otoritas, sehingga ekspektasi masyarakat begitu tinggi dan kekecewaan cepat terakumulasi,” jelas Latief.

Untuk mengatasi krisis, dia membagikan soal metode PRIME yakni Prepare, Response, Intercept, Message, dan Engage. Reputasi pemerintah tidak hanya dibentuk oleh fakta di media sosial, tetapi juga pesan bermuatan emosi, persepsi, dan kecepatan.

Penggiat Media Sosial, Enda Nasution menyebutkan bahwa tim komunikasi krisis yang efektif akan bekerja seperti asuransi. Efektif dalam arti mampu mendeteksi kemunculan krisis, sehingga menentukan langkah-langkah antisipasi. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya membangun relasi dan menjadikan setiap krisis sebagai pelajaran dalam mengantisipasi tantangan selanjutnya.

Baca juga : Komdigi Bekukan Sementara Izin TikTok, DPR: Ekosistem Digital Jangan Sampai Mati

“Waktu yang paling pas saat mengatasi krisis adalah ketika krisis belum terjadi. Mitigasi ibarat mendeteksi hotspot sebelum terjadi kebakaran hutan. Semakin cepat ditemukan, semakin kecil biayanya,” jelas Enda. 

Terkait langkah antisipasi krisis, Jojo S Nugroho selaku Praktisi Komunikasi menekankan pentingnya mengelola isu sekecil apapun. Isu yang diabaikan atau tidak dikelola, dapat berpotensi menjadi krisis, terlebih di media sosial.  

“Sinyal harus segera ditangkap dan dikelola dengan baik. Ada tiga kunci respons krisis yakni cepat dan faktual, dahulukan empati, dan amankan narasi,” jelas Jojo.

Selain menghadirkan paparan dari narasumber, pembekalan “Social Media Ready: Verify, Clarify, Respond” juga dilengkapi dengan simulasi penanganan krisis kepada para peserta. Tujuannya, melatih pola kerja lintas sektor dalam menyusun strategi komunikasi krisis yang komprehensif. Dengan demikian, diharapkan dapat memperkuat sistem koordinasi komunikasi publik pemerintah dalam menghadapi krisis di masa mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense