RM.id Rakyat Merdeka - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) berhasil merepatriasi 42 naskah kuno Nusantara milik mendiang filolog dan pakar studi Jawa, Dr. Timothy Behrend, dari Auckland, Selandia Baru. Koleksi tersebut diserahkan langsung oleh istri mendiang, Maren Behrend, kepada Kepala Perpusnas, Prof. E. Aminudin Aziz, Senin (24/11), di kediaman keluarga.
Repatriasi ini merupakan hasil komunikasi intensif antara keluarga Behrend, Perpusnas, serta dukungan Direktorat Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri dan KBRI Wellington.
Koleksi yang dipulangkan terdiri dari naskah Jawa, Bali, dan Sasak yang ditulis di atas kertas Eropa, daluang, dan lontar. Di antara naskah tersebut terdapat karya penting tradisi pernaskahan Nusantara seperti Serat Yusup (1814), Serat Ambiya, Serat Rama, Serat Cabolek (1947), Babad Mataram, dan Menak Yasadipura, yang menunjukkan luasnya minat ilmiah Behrend terhadap teks-teks Nusantara.
Perpusnas memiliki hubungan panjang dengan Timothy Behrend. Pada 1990–1993, Behrend memimpin proyek pemikrofilman Naskah Nusantara yang disponsori Ford Foundation, mencakup koleksi Perpusnas, Universitas Indonesia, dan Museum Sonobudoyo. Ia juga memimpin proyek katalogisasi di Yogyakarta dan Jakarta, serta menyusun basis data Danatara (Data Naskah Nusantara) yang hingga kini menjadi rujukan penting penelitian naskah. Kedekatannya dengan para filolog Perpusnas, seperti Nindya Noegraha, Sanwani, Komari, Mardiono (almarhum), dan Siti Hasniati (almarhumah), terjalin kuat selama proses penyusunan katalog pada 1990-an.
Baca juga : Langkah Perpusnas Lestarikan dan Manfaatkan Naskah Kuno Nusantara
Berdasarkan catatan keluarga, Timothy Behrend lahir di Cleveland pada 17 Maret 1954. Ketertarikannya pada tradisi Jawa berkembang sepanjang perjalanan akademiknya, termasuk masa penelitian panjang di Solo, Leiden, dan Amsterdam. Disertasi doktoralnya di Australian National University, The Serat Jatiswara, menjadi salah satu kontribusi pentingnya bagi kajian filologi Jawa.
Pada September 2024, Behrend menyampaikan niat menghibahkan beberapa naskah kepada Perpusnas, namun ia masih ingin mendeskripsikan seluruh koleksinya. Saat terdiagnosis kanker stadium akhir, ia tetap berusaha menyelesaikan deskripsi tersebut hingga wafat pada 13 Agustus 2025. Setelah kepergiannya, jumlah naskah yang dipastikan untuk repatriasi mencapai 42 eksemplar.
Pada 28 Agustus 2025, Liz Behrend menghubungi Perpusnas untuk meneruskan amanat tersebut. Perpusnas kemudian membentuk tim repatriasi dan berkoordinasi dengan Ditjen Asia Pasifik dan Afrika serta KBRI Wellington.
Repatriasi dilakukan oleh delegasi Perpusnas yang dipimpin langsung oleh Prof. E. Aminudin Aziz, didampingi Ofy Sofiana, Aditia Gunawan, dan Agung Kriswanto. Naskah kuno serta beberapa buku langka lainnya diserahkan oleh Maren Behrend.
Baca juga : NEXT Indonesia: Setahun Prabowo Kemiskinan RI Terendah Sepanjang Sejarah
Prof. Amin menegaskan bahwa pemulangan ini merupakan bagian dari mandat lembaga. “Repatriasi ini merupakan wujud nyata pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 21 ayat 3 butir 1d untuk mengidentifikasi dan mengupayakan pengembalian naskah kuno yang berada di luar negeri,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada keluarga. “Kami berterima kasih kepada keluarga Pak Tim yang telah menyerahkan naskah dan koleksi langkanya ke Perpusnas. Semoga di rumah barunya di Indonesia, koleksi ini dapat dimanfaatkan masyarakat luas,” kata Prof. Amin.
Maren Behrend menjelaskan, langkah ini adalah amanat mendiang suaminya. “Pak Tim berharap naskah dan koleksi lainnya dapat diserahkan ke Indonesia. Koleksinya sekitar 4.000 item, dan selain Pak Tim tidak ada yang bisa merawatnya,” ujarnya.
Prof. Amin berharap, proses ini membuka peluang repatriasi berikutnya. “Semoga proses pemulangan naskah dari luar negeri dapat terus dioptimalkan, baik dalam bentuk fisik maupun digital agar dapat diakses siapa saja,” pungkasnya.
Baca juga : Mewaspadai Politik Adu Domba Berkedok Agama di Media Sosial
Selain naskah kuno, Perpusnas juga menerima sejumlah buku langka dan majalah lama, termasuk Majalah Djawa edisi awal (1921) dan jurnal Review of Indonesian and Malaysian Affairs (RIMA). Seluruh koleksi akan diregistrasi, dikonservasi, dan didigitalisasi sebelum dimasukkan ke platform Khastara. Perpusnas juga berencana menggelar pameran khusus untuk memperkenalkan koleksi Tim Behrend kepada masyarakat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.