BREAKING NEWS
 

Perkuat Kapasitas Ortu Lindungi Anak Dan Remaja

Kelas Bersahaja Jadi Cara Melawan Child Grooming

Reporter : ALFIAN SIDIK
Editor : WIDIA SAPUTRA
Jumat, 30 Januari 2026 06:55 WIB
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka. Foto: Dok. Kemendukbangga

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) memperkuat upaya pencegahan praktik child grooming dengan meningkatkan kapasitas orang tua. Salah satunya melalui penyelenggaraan Kelas Orang Tua Bersahabat dengan Remaja (Bersahaja) Angkatan III Tahun 2026.

Program itu dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas orang tua (ortu) dalam melindungi anak dan remaja dari praktik manipulasi yang berujung pada eksploitasi.

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan, child grooming merupakan bentuk manipulasi yang secara khusus menyasar kerentanan anak dan remaja.

Child grooming dapat dipahami sebagai sebuah proses manipulasi yang dilakukan pelaku terhadap anak dan remaja dengan tujuan mengeksploitasi korban,” ujar Isyana di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Baca juga : Eks Stafsus Menteri Agama Dicecar Soal Kerugian Negara

Praktik child grooming kerap berlangsung secara tersembunyi melalui pendekatan emosional dan pembentukan relasi semu, sehingga sulit dikenali sejak dini. Modus ini tidak hanya terjadi di ruang digital, tetapi juga dapat berlangsung di lingkungan yang selama ini dianggap aman, seperti rumah, sekolah, maupun komunitas sosial.

Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu mengatakan, kerentanan terhadap praktik tersebut semakin meningkat ketika komunikasi dan kelekatan emosional dalam keluarga tidak terbangun secara optimal.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, jumlah pemuda di Indonesia sekitar 65,82 juta jiwa atau sekitar 24 persen dari total penduduk. Kelompok usia ini berada pada fase krusial pembentukan karakter, identitas diri, dan kesehatan mental.

Menurut Isyana, kurangnya dialog terbuka, dukungan emosional, serta keterlibatan orang tua berpotensi melemahkan peran keluarga sebagai ruang aman utama bagi remaja. Kondisi tersebut membuka celah bagi pihak-pihak yang memanfaatkan kebutuhan anak akan perhatian, penerimaan, dan rasa aman.

Baca juga : Gubernur Aceh Dijamu Seskab, Ngobrol Sampai Tengah Malam

“Isu ini bukan sekadar persoalan individual, melainkan persoalan sosial yang menyentuh langsung jantung ketahanan keluarga, serta masa depan anak-anak dan remaja kita,” ujarnya.

Di tengah tingginya penetrasi internet, remaja semakin intens berinteraksi di ruang daring yang tidak selalu berada dalam pengawasan langsung orang tua.

Isyana menekankan, child grooming tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan gawai, melainkan bekerja pada ranah emosi dan kepercayaan anak.

“Pelaku kerap membangun kedekatan secara bertahap hingga korban tidak menyadari bahwa dia sedang dimanipulasi,” kata Isyana.

Baca juga : Hapus Presidential Dan Parliamentary Threshold!

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Kemendukbangga menyelenggarakan Kelas Orang Tua Bersahabat dengan Remaja (Bersahaja) Angkatan III Tahun 2026 dengan tema “Bagaimana Bila Child Grooming Ada di Sekitar Kita?”.

Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran yang aman dan berbasis keilmuan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, serta kapasitas orang tua dalam mengenali risiko dan memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dan remaja sejak dini, khususnya child grooming.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense