Dark/Light Mode

Pembaharuan Pabrik Ammonia Di Bontang Rampung

Pupuk Kaltim Efisien, Biaya Produksi Turun

Jumat, 30 Januari 2026 06:10 WIB
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi (kanan) bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjukkan dokumen Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Distribusi Pupuk di Indonesia, di pabrik 2 PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim), di Bontang, Kamis (29/1/2026). (Foto: Dok. Pupuk Indonesia)
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi (kanan) bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjukkan dokumen Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Distribusi Pupuk di Indonesia, di pabrik 2 PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim), di Bontang, Kamis (29/1/2026). (Foto: Dok. Pupuk Indonesia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), melalui PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meresmikan rampungnya proyek Revamping Ammonia Pabrik-2, pada Kamis (29/1/2026). Pembaharuan pabrik ini diharapkan membuat efisiensi energi sehingga menekan biaya produksi.

Efisiensi produksi pabrik berpotensi menjaga harga pupuk sehingga harga pupuk tetap terjangkau bagi petani. 

Pabrik ini diproyeksikan mampu menurunkan emisi karbon hingga 110.000 ton CO2 (karbondioksida) per tahun, sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060. 

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi mengatakan, proyek ini menjadi bagian dari langkah strategis revitalisasi industri pupuk nasional untuk meningkatkan efisiensi energi, menekan emisi karbon, serta memperkuat ketahanan pangan. 

Baca juga : Beby Prisillia, Bergetar Bahagia Onad Pulang Rehab

Pihaknya telah melakukan peremajaan pada proyek ini sejak 2023 hingga 2026, dan menggelontorkan anggaran sekitar Rp 99 miliar. 

Rahmad menyampaikan, pabrik 2 merupakan salah satu aset tertua perusahaan yang telah berdiri sejak 1984. Yang mana, pembangunannya dimulai pada 1982 dan diresmikan Presiden Soeharto. 

“Karena merupakan aset tertua, maka revamping ini perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas produksi, sekaligus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi ramah lingkungan,” ujar Rahmad saat prosesi peresmian, di Bontang, Kaltim, Kamis (29/1/2026). 

Revitalisasi pabrik pupuk selaras dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 terkait penguatan ketahanan pangan nasional. 

Baca juga : Mensesneg Pastikan Tidak Ada Reshuffle

Pihaknya memilih melakukan revitalisasi secara mandiri, tanpa membagi proyek penugasan bersubsidi (PSO/Public Service Obligation) ke pihak lain, karena bentuk komitmen perusahaan. 

Rencananya, kata dia, dari tujuh pabrik yang akan diremajakan, ada empat di antaranya yang sedang dibangun. 

“Tiga (pabrik) lainnya dalam tahap persiapan. Yang diresmikan ini adalah revamping pabrik ammonia,” katanya. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, selain proyek revamping ammonia, perseroan tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis lainnya. 

Baca juga : Thomas Tak Kepikiran Bakal Jadi Gubernur BI

Seperti pabrik soda ash, yang selama ini masih 100 persen bergantung pada impor. 

Proyek ini, sambung Rahmad, dinilai relevan dengan ketahanan pangan karena menghasilkan produk samping amonium klorida, yaitu bahan baku pupuk yang lebih murah dibandingkan amonium sulfat. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.