RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa meminta kalangan muda tak khawatir soal peluang kerja setelah lulus sekolah. Purbaya memastikan, ke depan lowongan kerja bakal melimpah.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Sabtu (14/2/2026). Purbaya hadir memberikan orasi ilmiah dihadapan ribuan wisudawan sarjana dan vokasi UI.
Dalam orasinya, Purbaya menegaskan, pemerintah terus mengebut terciptanya lebih banyak lapangan kerja. Anak-anak muda, kata dia, tidak perlu khawatir soal nasibnya setelah lulus sekolah.
"Teman-teman nggak usah khawatir, apalagi kalangan anak muda yang takut cari kerjaan setelah lulus. Bulan-bulan ke depan, tahun-tahun ke depan akan lebih banyak lapangan kerja tercipta,” kata Purbaya.
Purbaya mengaku punya optimis besar soal lapangan kerja di Indonesia. Indikatornya karena pertumbuhan kuartal IV-2025 yang mencapai 5,35 persen. Capaian ini akan terus dijaga pemerintah pada kuartal I-2026.
Bahkan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,5 hingga 6 persen. "Kemungkinan besar mendekati 6 persen,” ucap Purabaya, yakin.
Baca juga : Budget Terbesar Sepanjang Sejarah Untuk Makan Bergizi
Bendahara Negara itu menjelaskan belanja pemerintah pada kuartal I-2026 akan direalisasikan tepat waktu dan tepat sasaran. Tujuannya untuk menjaga daya dorong ekonomi sejak awal tahun.
"Kita pastikan dibelanjakan tepat waktu, betul-betul dibelanjakan tepat waktu," sebutnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perbaikan kondisi ketenagakerjaan. Per Agustus 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) tercatat 4,85 persen, turun dari 4,91 persen pada Agustus 2024. Jumlah pengangguran juga menurun menjadi 7,46 juta orang.
Proporsi pekerja formal meningkat dari 42,05 persen menjadi 42,20 persen dalam periode yang sama. Tambahan tenaga kerja terbesar dalam setahun terakhir berasal dari sektor pertanian (0,49 juta orang), akomodasi dan makan minum (0,42 juta orang), serta industri pengolahan (0,30 juta orang). Pada periode Agustus-November 2025, BPS kembali mencatat penurunan TPT menjadi 4,74 persen atau setara 7,35 juta orang menganggur.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menyebut penurunan terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, serta di wilayah perkotaan dan pedesaan. Per November 2025, jumlah penduduk usia kerja mencapai 218,85 juta orang. Angkatan kerja tercatat 155,27 juta orang, naik 1,26 juta dibanding Agustus 2025. Dari jumlah itu, sebanyak 147,91 juta orang bekerja, bertambah 1,37 juta orang.
Selain dorongan fiskal, pemerintah mengandalkan sejumlah program prioritas untuk memperluas kesempatan kerja. Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan, Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) diproyeksikan menyerap hingga 1,6 juta tenaga kerja.
Baca juga : Gelar 100 Ribu Mudik Gratis, Tebar Diskon Transportasi
Pemerintah menargetkan pembangunan Kopdes Merah Putih sebanyak 83 ribu unit. Tahun ini, 30.008 unit kopdes ditargetkan rampung dan beroperasi. Setiap pembangunan satu kopdes diperkirakan menyerap 20 pekerja.
“Kalau ada 80 ribu kita bangun, kita akan serap tenaga kerja langsung 1,6 juta, belum yang tidak langsung,” sebut Zulkifli dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Menurut Ketua Satgas Pembentukan Kopdes Merah Putih itu, pembentukan kopdes banyak manfaatnya. Contohnya berperan sebagai offtaker yang menyerap hasil produksi petani dengan harga kompetitif, memangkas rantai pasok yang panjang, dan meningkatkan pendapatan petani.
"Biasanya petani pendapatannya kecil, dengan rantai pasok yang panjang. Ini dipotong, jadi lebih mudah dan lebih efisien,” tutur dia.
Senada dengan Kopdes Merah Putih, program Makan Bergizi Gratis juga dapat menurunkan angka pengangguran. Presiden Prabowo Subianto menyebut MBG berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja. Lokernya ada pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG.
Pada tahap puncak, MBG ditargetkan menjangkau lebih dari 82 juta penerima manfaat dengan dukungan sekitar 30.000 dapur. Setiap dapur mempekerjakan sekitar 50 orang. Kemudian, setiap dapur melibatkan 5-10 pemasok yang masing-masing menggandeng 3-5 petani.
Baca juga : Pram Bantu Pekerja Akses Angkutan Efisien & Ekonomis
Terpisah, menurut Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, sinyal optimisme pemerintah memang positif secara makro. Apalagi, pemerintah mendorongnya melalui instrumen stimulus ekonomi. Namun, ia mengingatkan seberapa berkualitas pertumbuhan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja.
“Pertanyaannya bukan hanya angka pertumbuhan, tetapi apakah pertumbuhan itu inklusif dan benar-benar menyerap tenaga kerja secara memadai, baik dari sisi jumlah maupun kualitas,” sebut Yusuf kepada Rakyat Merdeka.
Ia mencontohkan, meskipun ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen pada 2025, masih terdapat persoalan struktural di balik capaian tersebut. Artinya, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja yang signifikan.
"Ke depan, Core memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9-5,1 persen, mencerminkan belum kuatnya pemulihan konsumsi rumah tangga dan investasi, serta kecenderungan ekspor yang melemah," nilainya.
Yusuf menilai target pertumbuhan mendekati 6 persen mungkin saja tercapai dalam jangka pendek melalui dorongan fiskal. Namun, capaian tersebut belum tentu mencerminkan penguatan struktural yang berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.