RM.id Rakyat Merdeka - Gagasan pengembangan hutan wakaf mulai didorong sebagai salah satu solusi menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi umat. Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Mengembangkan Hutan Wakaf Menuju Indonesia Hijau” yang digelar MASPERA Indonesia (Masyarakat Peduli Agraria) bersama Yayasan Wakaf Iqtishad Indonesia di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).
Seminar ini diikuti sekitar 300 peserta secara luring dan daring melalui Zoom serta siaran YouTube. Peserta berasal dari kalangan akademisi, mahasiswa, lembaga perbankan, organisasi lingkungan, hingga lembaga wakaf.
Direktur Rehabilitasi Hutan pada Direktorat Jenderal PDASRH Kementerian Kehutanan Muchamad Saparis Soedarjanto mengatakan laju deforestasi di Indonesia masih cukup tinggi. Menurutnya, kerusakan hutan terjadi sekitar 25 ribu hektare per tahun.
“Deforestasi saat ini lebih cepat dibandingkan upaya reboisasi. Ini juga dipengaruhi pemanfaatan hutan yang belum dipahami semua elemen masyarakat,” ujar Saparis saat menyampaikan keynote speech.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Waryono Abdul Ghofur menilai konsep wakaf selama ini belum banyak menyentuh isu lingkungan.
Baca juga : DPRD DKI Desak Sistem Operasional Bantargebang Diaudit
Ia mengatakan pengembangan hutan wakaf penting didorong karena sudah memiliki dasar regulasi.
“Ke depan hutan wakaf perlu digalakkan sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Sekretaris Badan Wakaf Indonesia Anas Nasikhin menambahkan dunia saat ini menghadapi tiga tantangan besar lingkungan.
Yakni kegagalan mencegah perubahan iklim, kegagalan beradaptasi dengan perubahan iklim, serta hilangnya keanekaragaman hayati dan rusaknya ekosistem.
Menurutnya, ekonomi hijau menjadi salah satu pendekatan penting dalam menjawab krisis lingkungan global.
Baca juga : Gelar Safari Ramadan, Golkar Kalsel Minta Kader Dukung Pembangunan Daerah
“Wakaf merupakan instrumen unik dalam ekonomi syariah yang dapat berperan dalam penerapan ekonomi hijau,” kata Anas.
Sementara itu Ketua Umum MASPERA Indonesia Agustianto Mingka menilai pengembangan hutan wakaf di Indonesia masih sangat terbatas. Ia mendorong pemerintah mengampanyekan program ini secara luas kepada masyarakat dan dunia usaha.
Ia berharap kalangan pengusaha, termasuk sektor perkebunan dan pertambangan, dapat berpartisipasi dengan mewakafkan sebagian lahannya untuk dijadikan hutan wakaf.
“Langkah ini bisa menjaga lingkungan sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat berbasis wakaf,” ujarnya.
Seminar ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya mendorong pengembangan hutan wakaf secara nasional, penyusunan draft roadmap implementasi hutan wakaf, pembentukan jejaring kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta komitmen pembentukan proyek percontohan hutan wakaf di berbagai daerah.
Baca juga : Ketum Perbanas Beberkan Strategi Perbankan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global
Direktur Eksekutif MASPERA Indonesia Nasli Hizam Pane mewakili panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang hadir.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para sponsor kegiatan, antara lain Bank Syariah Indonesia, PT Pegadaian, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Yayasan Yatim Mandiri, serta sejumlah pihak lain yang mendukung terselenggaranya seminar tersebut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.