RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah terus mendorong percepatan program perumahan rakyat. Salah satunya lewat proyek Hunian Warisan Bangsa (HWB) di Purwakarta, Jawa Barat.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein meninjau langsung proyek tersebut, Selasa (18/4/2026).
Kunjungan ini bagian dari implementasi program penyediaan 3 juta rumah. Program ini ditujukan untuk memperluas akses kepemilikan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Maruarar menyebut proyek ini sebagai terobosan penting. Ia menilai hunian murah dengan kualitas layak menjadi kunci membuka akses rumah bagi masyarakat luas.
“Ini bukan sekadar rumah, tetapi menyangkut masa depan dan martabat masyarakat,” kata Ara, sapaannya.
HWB Purwakarta menawarkan harga di bawah pasar. Rumah satu kamar dipasarkan mulai Rp98 juta. Sementara tipe dua kamar mulai Rp115 juta. Harga ini jauh di bawah skema FLPP yang rata-rata di atas Rp160 juta.
Skema cicilan juga dibuat ringan. Angsuran diperkirakan sekitar Rp500 ribu per bulan. Bahkan, untuk tahap awal tersedia cicilan sekitar Rp170 ribu per bulan selama 15 bulan pertama.
Baca juga : KSP Verifikasi Proyek Sekolah Rakyat Di Yogya Dan Pati, Progresnya Positif
Proyek ini dikembangkan dalam kawasan terencana dengan dukungan infrastruktur dan konsep komunitas terpadu.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM menilai proyek ini bisa menjadi contoh pembangunan perumahan di daerah lain.
“Purwakarta siap menjadi model. Ini bukan hanya membangun rumah, tetapi membangun kehidupan masyarakat,” kata Dedi.
Hal senada disampaikan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein. Ia menyebut proyek ini membawa dampak nyata bagi daerah.
“Ada lapangan kerja, investasi, dan harapan baru bagi masyarakat,” ujarnya.
Proyek HWB Purwakarta dimulai sejak Juli 2025. Perizinan rampung pada Oktober 2025 dan diluncurkan Maret 2026 dengan skema pre-selling.
Dalam waktu singkat, lebih dari 1.500 unit terjual. Secara lokasi, Purwakarta dinilai strategis. Wilayah ini berada di antara Jakarta dan Bandung serta dikelilingi lebih dari 6.000 pabrik.
Baca juga : Menkop: Sinergi MES Dan Kopdes Merah Putih Jadi Prioritas Ekonomi Syariah
Kondisi tersebut membuat kebutuhan hunian dekat kawasan industri terus meningkat. Dari sisi ekonomi, proyek ini memiliki nilai investasi sekitar Rp1,5 triliun. Pembangunan ditargetkan menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja pada pertengahan 2026.
Mayoritas material dan tenaga kerja berasal dari Jawa Barat. Hal ini dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Proyek ini merupakan kolaborasi HWB Group dengan Lippo Cikarang, melibatkan pengembang lokal Iwang Prejadi.
Perwakilan Lippo Cikarang Ketut Wijaya mengatakan kolaborasi ini menjadi contoh sinergi antara pengembang besar dan lokal.
“Kami ingin menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan perumahan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Iwang Prejadi mengaku mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan mitra.
“Ini kesempatan untuk memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat,” katanya.
Baca juga : Menteri ESDM Tinjau Penertiban Tambang Ilegal Di Murung Raya
Respons positif juga datang dari calon pembeli. Ina Tiya, pekerja pabrik, mengaku tak menyangka bisa memiliki rumah sendiri.
“Ini benar-benar mengubah hidup kami,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Sunarsih. Ia menilai harga terjangkau dan cicilan ringan menjadi daya tarik utama.
“Kesempatan seperti ini jarang ada,” katanya.
Talita Yulia Fadila juga melihat proyek ini sebagai peluang masa depan.
“Bukan hanya rumah, tapi juga harapan untuk berkembang,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.