BREAKING NEWS
 

Bersinar Di Tengah Peperangan, Ekonomi RI Tahan Banting Dan Diperhitungkan Dunia

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Rabu, 22 April 2026 08:00 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Khairizal Anwar/rm.id)

 Sebelumnya 
Bagaimana Pemerintah melihat kondisi ekonomi saat ini? Apakah pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi bisa bertahan di kisaran 5,4 persen, terutama pada semester kedua? 

Pada kuartal pertama, pemerintah telah menjalankan berbagai program untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama pengendalian inflasi. Di antaranya penyaluran bantuan beras sebanyak dua kali, masing­-masing 10 kilogram, serta intervensi di sektor minyak goreng. 

Memasuki kuartal kedua, ada sejumlah sentimen positif dari global. Kebijakan pemerintah mendapat respons baik dari pasar. FTSE Russell mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Secondary Emerging Market, sejajar dengan negara seperti India. Ini menjadi sinyal bahwa outlook Indonesia tetap terjaga. 

Selain itu, Asian Development Bank (ADB) juga mengapresiasi bauran kebijakan moneter, fiskal, dan reformasi struktural yang dijalankan pemerintah. Dalam pertemuan terakhir, termasuk pada forum terkait emisi nol ASEAN, Presiden ADB Masato Kanda menyampaikan keinginan bertemu Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung kelanjutan kebijakan Indonesia. Termasuk penguatan ketahanan daerah agar mampu mendorong pertumbuhan di masing­-masing wilayah. 

Di Washington, dalam berbagai forum International Monetary Fund (IMF), Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva juga menyebut Indonesia sebagai salah satu negara kunci di Asia. Bahkan menjadi bright spot (titik terang) di kawasan. Ini menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor. Ke depan, program sosial tetap dilanjutkan sebagai penopang ekonomi pada kuartal kedua. Pemerintah juga mendorong pencairan gaji ke­13 bagi ASN. Nilainya cukup besar dan diharapkan bisa menggerakkan konsumsi masyarakat. 

Jadi, apakah ekonomi Indonesia cukup tahan banting di tengah situasi konflik global? 

Baca juga : Hari Ini Gencatan Senjata Berakhir, Amerika Serikat-Iran Masih Deadlock

Ekonomi Indonesia memiliki resilience (ketangguhan) yang cukup kuat di tengah tekanan global. Hal ini ditopang oleh fundamental ekonomi yang relatif solid. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan berada di kisaran 5,2 hingga 5,4 persen. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata­rata pertumbuhan kawasan ASEAN sekitar 4,7 persen dan global sekitar 4,5 persen. 

Indonesia kerap disebut sebagai bright spot, termasuk saat pandemi karena mampu tumbuh lebih baik dibanding banyak negara. Apakah kondisi ekonomi saat ini lebih kuat dibanding periode tersebut? 

Setiap periode memiliki karakter yang berbeda. Kondisi saat pandemi tentu tidak bisa disamakan dengan situasi sekarang. Namun yang jelas, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang stabil. Pertumbuhan berada di kisaran 5 hingga 5,5 persen. Ini menunjukkan konsistensi di tengah ketidakpastian global. 

Kawasan Asia juga relatif solid. Sejumlah negara seperti Vietnam dan India mencatat pertumbuhan yang baik. Hal ini membuat Asia tetap menjadi salah satu penopang ekonomi global. 

Beberapa lembaga internasional, termasuk Asian Development Bank (ADB), melihat Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi penting dan macan Asia ke depan. Ini menjadi sinyal bahwa posisi Indonesia tetap diperhitungkan dalam peta ekonomi global. 

Baca juga : Perluas Penerimaan Negara, Kemenkeu Kaji Pajak Tarif Tol

Ke depan, untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi, pertumbuhan ekonomi perlu didorong lebih tinggi, yakni di atas 6 hingga 7 persen. Pemerintah pun menargetkan pertumbuhan di kisaran 7 hingga 8 persen dalam jangka menengah agar Indonesia bisa keluar dari jebakan kelas menengah atau middle income trap. 

IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5 persen, dari sebelumnya 5,1 persen. Bagaimana respons pemerintah? Apakah target pertumbuhan akan disesuaikan? 

Pemerintah belum melihat urgensi untuk merevisi target pertumbuhan ekonomi. Perkembangan pada semester pertama masih dipantau sambil menjaga stabilitas kebijakan. Fokus utama adalah memastikan kebijakan yang diambil tidak memicu kenaikan inflasi. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tetap dijaga. Langkah ini penting untuk menahan tekanan biaya, terutama dari sektor logistik. 

Secara global, banyak negara terdampak tekanan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz. Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia? Apakah ada peluang yang bisa dimanfaatkan? 

Konflik di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz memang berdampak ke banyak negara. Efeknya terasa pada distribusi pangan, pupuk, transportasi, hingga sektor petrokimia. Namun, untuk sektor pupuk, posisi Indonesia relatif aman. Produksi dalam negeri cukup kuat, bahkan terdapat potensi surplus. Indonesia diperkirakan memiliki kelebihan pasokan urea sekitar 1,5 juta ton per tahun yang bisa dialokasikan untuk ekspor. 

Sejumlah negara seperti India, Australia, dan Filipina juga telah menyampaikan minat untuk mendapatkan pasokan pupuk dari Indonesia. Kondisi ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran di kawasan, terutama di tengah gangguan rantai pasok global. 

Baca juga : IHSG Loyo, Rupiah Perkasa

Keunggulan Indonesia terletak pada ketersediaan gas domestik sebagai bahan baku pupuk. Pemerintah juga memberikan dukungan melalui kebijakan harga gas untuk industri, sehingga biaya produksi tetap terjaga dan daya saing ekspor meningkat. 

Bagaimana dengan sektor energi, khususnya BBM, di tengah ketegangan geopolitik global? 

Untuk sektor energi, pemerintah terus melakukan mitigasi agar risiko global tidak berdampak besar ke dalam negeri. Salah satunya melalui diversifikasi sumber impor minyak. Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada jalur Selat Hormuz. Ketergantungan terhadap jalur tersebut diperkirakan sekitar 20 persen, jauh lebih rendah dibandingkan rata-­rata negara Asia yang bisa mencapai 70 persen. 

Selain itu, Indonesia juga memperluas sumber pasokan dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Venezuela, Aljazair, hingga Yordania. Langkah ini membuat rantai pasok energi lebih fleksibel dan tidak bertumpu pada satu kawasan. Situasi geopolitik global tetap menjadi faktor penting, terutama terhadap harga dan permintaan energi dunia. Namun dengan strategi diversifikasi dan penguatan pasokan, Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas energsi di dalam negeri. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense