Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (21/4/2026) masuk zona merah. Sementara itu, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
IHSG dibuka pada level 7.535. Indeks sempat turun 58 poin atau 0,77 persen, meski kemudian bergerak di kisaran 7.518 hingga 7.568 pada sesi pagi. Nilai transaksi mencapai Rp 1,96 triliun dari 5,45 miliar saham yang diperdagangkan sebanyak 301.716 kali.
Dari total transaksi tersebut, sebanyak 240 saham menguat, 293 saham melemah, dan 183 saham stagnan. Secara kinerja, IHSG tercatat melemah 1,77 persen dalam sepekan dan terkoreksi 12,80 persen sejak awal tahun. Namun, secara bulanan IHSG masih mencatatkan kenaikan sebesar 7,37 persen.
Pada penutupan perdagangan, IHSG ditutup melemah 34,73 poin atau 0,46 persen ke level 7.559,38. Sebanyak 386 saham naik, 264 saham turun, dan 168 saham stagnan.
Baca juga : Utamakan Kenyamanan, 6 Ribu Bus Siap Sambut Jemaah Haji Indonesia
Sembilan indeks sektoral menguat, dipimpin sektor perindustrian yang naik 2,58 persen.
Diikuti sektor barang baku sebesar 2,33 persen dan transportasi 1,61 persen. Sementara itu, sektor energi turun 1,02 persen dan infrastruktur melemah 0,07 persen. Total volume perdagangan mencapai 42,62 miliar saham dengan nilai Rp 17,36 triliun.
Tekanan terhadap IHSG tidak lepas dari kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memperpanjang penundaan rebalancing indeks saham Indonesia pada Mei 2026. Dalam pengumuman terbarunya, MSCI menyatakan akan mengeluarkan saham yang diidentifikasi memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC). Begitu pula saham yang teridentifikasi memerlukan penyesuaian estimasi free float berdasarkan data pemegang saham di atas 1 persen.
Selain itu, MSCI juga membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan jumlah saham. Sebaliknya, MSCI tidak menambahkan saham baru ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak menaikkan klasifikasi ukuran saham. Langkah ini dilakukan untuk membatasi perputaran indeks sekaligus memberi waktu evaluasi terhadap reformasi pasar modal Indonesia.
Baca juga : Ahmad Doli Kurnia: Untuk Pemilu Ideal, Butuh Waktu Cukup
MSCI mengaku telah menerima laporan reformasi dari Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia. Laporan tersebut berisi peningkatan transparansi kepemilikan saham hingga rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15 persen.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik menegaskan, pihaknya terus memperkuat komunikasi dengan MSCI dan investor global guna meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia. “Kami mengapresiasi empat proposal yang telah kami sampaikan diakui oleh MSCI,” ujar Jeffrey di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Jeffrey membuka kemungkinan adanya pengumuman terkait perlakuan khusus HSC untuk saham-saham yang masuk indeks MSCI. “Akan segera diumumkan,” lanjutnya.
Di tengah tekanan pasar saham, nilai tukar rupiah justru perkasa. Pada pembukaan perdagangan Selasa (21/4/2026), rupiah menguat 42 poin atau 0,24 persen ke level Rp 17.126 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp 17.168 per dolar AS.
Baca juga : Rendy Umboh: Daripada Ditunda, Lebih Bagus Segera Dibahas
Hingga penutupan perdagangan, rupiah berada di level Rp 17.143 per dolar AS atau menguat 0,15 persen. Kondisi ini sejalan dengan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang naik 0,19 persen ke Rp 17.142 per dolar AS. Penguatan ini didorong oleh melemahnya dolar AS dan penurunan harga minyak dunia. Sentimen positif tersebut dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi perundingan damai antara AS dan Iran.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai, peluang kesepakatan damai menjadi faktor utama penguatan rupiah. “Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah dan harga minyak yang turun seiring optimisme pembicaraan damai,”kataLeong.
Dari dalam negeri, rupiah juga mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah terkait harga BBM dan ekspektasi pasar terhadap sikap Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar Selasa (21/4/2026).
Menurut Lukman, pasar mengantisipasi kemungkinan bank sentral akan mengambil sikap lebih ketat (hawkish), baik melalui kenaikan suku bunga maupun sinyal pengetatan kebijakan. Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.200 per dolar AS. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya