RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menyatakan, Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih menjadi kunci untuk mewujudkan kemandirian pangan tanpa impor. Melalui Kopdes, Pemerintah menyiapkan penyerapan hasil panen desa agar stok pangan nasional makin kuat.
Ferry mengatakan, arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto lebih dari ketahanan pangan atau food security. Pemerintah ingin mewujudkan kedaulatan pangan dengan mengandalkan produksi dalam negeri.
“Presiden ingin kedaulatan pangan, hasilnya diproduksi bangsa sendiri,” ujarnya dalam Economic Briefing 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (24/4/2026).
Menteri asal Partai Gerindra ini menilai, ketahanan pangan berbeda dengan kedaulatan pangan. Perbedaannya terletak pada soal kemandirian.
Jika ketahanan pangan berarti barang tersedia meski sebagian berasal dari impor.
Sementara kedaulatan pangan berarti kebutuhan dipenuhi dari produksi dalam negeri.
“Seperti beras, jagung, sayur, ikan dan komoditas lain dihasilkan petani serta nelayan dalam negeri,” jelasnya.
Sebab itu, Kopdes Merah Putih diposisikan penting dalam rantai pasok pangan nasional. Koperasi akan hadir sebagai offtaker atau penampung hasil produksi masyarakat desa.
“Fungsi Kopdes menjadi offtaker hasil produksi masyarakat desa,” katanya.
Baca juga : Pulang Ke Indonesia, TSK Kasus Kuota Haji Langsung Dicekal KPK
Menurutnya, hasil pertanian, hortikultura, perikanan, hingga kerajinan lokal bakal diserap koperasi. Dengan pasar yang jelas, petani dan nelayan tidak kesulitan menjual produknya saat panen raya.
Ferry mencontohkan, di daerah penghasil padi, Kopdes akan membeli gabah kering panen dari petani. Setelah itu, gabah diproses memakai alat pengering atau dryer agar mutunya sesuai standar Perum Bulog.
Skema tersebut dinilai penting karena banyak petani menjual gabah murah akibat tidak memiliki fasilitas pengering. Saat kualitas turun, harga ikut jatuh.
“Kopdes akan dilengkapi dryer untuk menjaga kualitas gabah,” tuturnya.
Masalah serupa juga terjadi pada buah dan sayuran. Banyak hasil panen bagus cepat rusak karena tidak tersedia tempat penyimpanan dengan suhu terjaga.
Untuk mengatasi hal itu, Kopdes Merah Putih bakal dibekali alat pengatur suhu. Dengan cara tersebut, produk hortikultura bisa bertahan lebih lama dan nilai jualnya tetap baik.
Di sektor perikanan, Pemerintah menyiapkan cold storage. Hasil tangkapan nelayan bisa disimpan lebih lama sehingga tidak harus dijual murah ketika pasokan sedang banyak.
Menurutnya, kelemahan pangan nasional selama ini bukan semata produksi, tetapi penanganan pascapanen. Jika tahap ini dibenahi, pasokan nasional akan jauh lebih kuat.
“Kami akan bantu menyempurnakan kegiatan di pascaproduksi,” ujarnya.
Baca juga : Polemik Anak Bupati Jadi Kepala Dinas, DPRD Malang Sidang BKPSDM & Baperjakat
Dia menambahkan, jika stok dikelola baik dari desa, Indonesia bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Kelebihan produksi juga bisa dibuka ke pasar ekspor. “Stok yang baik bisa untuk dalam negeri dan ekspor,” katanya.
Selain menyerap hasil panen, Kopdes juga akan menjadi jalur distribusi bahan pokok. Beras, minyak goreng, gula, pupuk, hingga gas elpiji akan lebih mudah dijangkau warga desa.
Rantai distribusi yang lebih pendek diharapkan menekan biaya. Harga barang bisa lebih murah dan pasokan lebih stabil di tingkat masyarakat.
Alumni Universitas Padjadjaran itu menilai, koperasi desa harus menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadirannya bukan hanya tempat simpan pinjam, tetapi gudang pangan, pusat logistik, dan penggerak usaha lokal.
Melalui model tersebut, desa tidak hanya menjadi tempat produksi bahan mentah. Desa juga ikut menikmati nilai tambah dari proses penyimpanan, distribusi, dan perdagangan.
Terpisah, Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah mengatakan, koperasi desa disiapkan menghadapi ketidakpastian global. Pemerintah ingin stok pangan di setiap desa tetap aman dalam kondisi apa pun.
“Ketika ada krisis, stok desa harus tetap aman,” harapnya.
Dia menyebut, koperasi akan menyalurkan berbagai barang subsidi seperti beras, minyak goreng, gula, dan gas. Sistem distribusi yang lebih singkat diharapkan membuat harga lebih terjangkau.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan sebelumnya menegaskan, koperasi desa merupakan bagian dari infrastruktur Pemerintah. Kehadirannya memudahkan warga mengakses pusat logistik dan pasar ekonomi.
Baca juga : Thomas Cup 2026, Anthony Ginting Andalan Keempat
Jika harga gabah atau jagung jatuh di bawah ketentuan Pemerintah, petani bisa menjual hasil panennya ke koperasi. Setelah itu, komoditas diteruskan ke Bulog.
Pola ini dianggap penting agar harga di tingkat petani tetap terjaga. Negara juga memiliki cadangan pangan yang cukup saat dibutuhkan.
Sedangkan, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal memastikan, pihaknya siap memasok beras melalui gerai Kopdes Merah Putih. Pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) maupun beras premium akan dijaga berkelanjutan. “Kami siap memasok beras ke gerai Kopdes,” ujarnya.
Bulog juga menyalurkan beras lewat gerakan pangan murah bersama kementerian, Pemerintah daerah, dan berbagai instansi lain. Distribusi diperluas ke jaringan Rumah Pangan Kita yang kini mencapai sekitar 80 ribu titik.
Melalui skema itu, Pemerintah berharap Kopdes menjadi benteng pangan nasional. Dari desa, cita-cita pangan mandiri tanpa impor ingin diwujudkan. JAR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Minggu, 26 April 2026 dengan judul "Serap Hasil Panen Desa Menkop: Kopdes Jadi Kunci Pangan Mandiri Tanpa Impor"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.