Dark/Light Mode

Riset JP Morgan Soal Ketahanan Energi

Indonesia Ranking 2, Di Atas China & Amerika

Sabtu, 25 April 2026 07:50 WIB
Hasil riset terbaru JP Morgan menempatkan Indonesia diposisi kedua dalam ketahanan energi. (Foto: Ilustrasi, dibuat Oleh AI/Chatgpt)
Hasil riset terbaru JP Morgan menempatkan Indonesia diposisi kedua dalam ketahanan energi. (Foto: Ilustrasi, dibuat Oleh AI/Chatgpt)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam ketahanan energi berdasarkan riset terbaru JP Morgan. Capaian ini melampaui negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat (AS).

Penilaian tersebut tertuang dalam laporan bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis pada 21 Maret 2026. Ketahanan energi diukur menggunakan indikator total insulation factor, yakni kombinasi sumber energi domestik seperti gas, batu bara, energi terbarukan, dan nuklir. Keseluruhannya menentukan tingkat perlindungan suatu negara dari fluktuasi pasar energi global. 

“Negara dengan porsi besar produksi energi domestik, terutama batu bara dan gas, memiliki tingkat eksposur yang lebih rendah terhadap guncangan minyak dan gas global,” ujar JP Morgan laporannya, dikutip Kamis (23/4/2026). 

Baca juga : Temuan BPK: 211 Triliun Uang BLBI Belum Balik Ke Negara

Dari 52 negara yang mencakup 82 persen konsumsi energi global yang dianalisis, Indonesia mencatatkan insulation factor sebesar 77 persen. Angka ini menempatkan Indonesia tepat di bawah Afrika Selatan (79 persen), tapi masih lebih tinggi dibandingkan China (76 persen) dan AS (70 persen).

Ketahanan energi Indonesia ditopang oleh dominasi sumber energi domestik. Produksi batu bara nasional menyumbang sekitar 48 persen konsumsi energi akhir, disusul gas bumi domestik sebesar 22 persen, serta energi terbarukan sekitar 7 persen. 

Laporan tersebut juga mengelompokkan Indonesia bersama China, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina sebagai negara yang memperoleh manfaat signifikan dari produksi batu bara domestik selama periode guncangan energi global. 

Baca juga : Anjlok Hampir 7 Persen Dalam Sepekan, IHSG Terpuruk Lagi

Selain itu, Indonesia dinilai memiliki tingkat eksposur yang sangat rendah terhadap jalur distribusi energi global yang rentan. Impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total konsumsi energi primer nasional. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Korea Selatan (33 persen), Taiwan dan Thailand (27 persen), serta Singapura (26 persen). 

Sebaliknya, negara-negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda disebut paling rentan terhadap krisis energi akibat tingginya ketergantungan pada impor minyak dan gas. 

Perusahaan jasa keuangan dan bank investasi multinasional asal Amerika Serikat itu juga menekankan pentingnya percepatan transisi energi untuk mengurangi risiko jangka panjang. Adopsi kendaraan listrik dan pengembangan energi terbarukan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan ketergantungan pada energi fosil. 

Baca juga : Hari Ke-4, 15.349 Jemaah Haji Diberangkatkan

“Cara paling mudah menurunkan ketergantungan minyak adalah melalui adopsi kendaraan listrik, sementara untuk gas melalui energi surya yang dipadukan dengan baterai,” tulis laporan JP Morgan. 

Lalu, apa tanggapan Pemerintah? Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, pengakuan JP Morgan menjadi bukti bahwa arah kebijakan energi nasional Indonesia telah berjalan terukur. 

Menurut Airlangga, hal tersebut menjadi validasi strategi jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan percepatan transisi energi. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.