BREAKING NEWS
 

Soal APBN Minta Masyarakat Tenang

Purbaya: Uang Kita Masih Banyak

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Senin, 27 April 2026 08:24 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Tedy Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih dalam kondisi aman. Dia membantah, kas negara tinggal Rp 120 triliun. Masyarakat diminta tetap tenang.

“Isu dana negara yang tinggal Rp 120 triliun, habis, tidak benar,” tegas Purbaya dalam media briefing di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Menurut dia, kondisi kas negara saat ini masih berlimpah dan mampu membiayai berbagai program Pemerintah. Termasuk penyaluran bantuan sosial (bansos), belanja prioritas, serta menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional.

"Tidak perlu takut dengan APBN pemerintah, masih cukup dan uang kita masih banyak," imbuhnya.

Untuk diketahui, sebelumnya di media sosial beredar isu kas negara tinggal Rp 120 triliun. Dana tersebut dinilai hanya bisa membiayai kebutuhan negara selama dua pekan.

Baca juga : Selamat Dari Upaya Pembunuhan, Trump Yakin Tidak Terkait Dengan Iran

Menurut Purbaya, angka Rp 120 triliun yang beredar di masyarakat merupakan bagian dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) Pemerintah yang ditempatkan di Bank Indonesia (BI). Secara keseluruhan, SAL pemerintah mencapai sekitar Rp 420 triliun dan belum digunakan.

Selain dana yang tersimpan di BI, sekitar Rp 300 triliun SAL juga ditempatkan di perbankan dalam bentuk deposito yang bersifat likuid dan dapat dicairkan sewaktu-waktu.

“Yang Rp 300 triliun kita masukkan ke perbankan supaya ada tambahan likuiditas dan kredit bisa berjalan. Itu bagian dari pengelolaan kebijakan fiskal yang juga berdampak ke moneter,” ujar Purbaya.

Ia menambahkan, penempatan dana di perbankan tersebut tidak hanya menjaga stabilitas sistem keuangan, tetapi juga memberikan imbal hasil berupa bunga yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung pembiayaan program pemerintah.

Adsense

Di sisi lain, Purbaya menyebut, pengelolaan APBN Indonesia mendapat apresiasi dari investor global saat kunjungan ke Amerika Serikat (AS). Menurutnya, persepsi terhadap fiskal Indonesia semakin positif.

Baca juga : Tak Penuhi Standar, 1.700 SPPG Disuspend BGN

“Mereka sudah tidak lagi mempertanyakan soal defisit dan risiko fiskal. IMF dan Bank Dunia juga tidak mengangkat isu tersebut lagi,” katanya.

Senada dikatakan, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Hanif Dhakiri. Dia menilai, isu kas negara tinggal Rp 120 triliun tidak tepat dalam konteks fiskal, karena hanya menggambarkan sebagian kecil dari posisi kas pemerintah, bukan keseluruhan neraca keuangan negara.

Namun, ia mengingatkan, agar komunikasi Pemerintah terkait kondisi fiskal tetap dilakukan secara proporsional dan transparan. “APBN Indonesia saat ini tidak dalam kondisi darurat. Namun, tetap memerlukan kewaspadaan dan pengelolaan yang disiplin agar tetap kredibel,” kata Hanif.

Ia menjelaskan, dalam jangka pendek APBN masih aman secara operasional dengan kemampuan memenuhi kewajiban pembayaran utang, belanja negara, serta menjaga program prioritas pemerintah.

Meski begitu, secara struktural terdapat sejumlah tekanan yang perlu diantisipasi. Seperti menyempitnya ruang fiskal akibat meningkatnya belanja wajib (mandatory spending), arah kebijakan fiskal yang lebih ekspansif, serta sensitivitas terhadap dinamika global, termasuk kebijakan suku bunga acuan.

Baca juga : Soal Selat Malaka, Pemerintah Tunduk Ke Konvensi PBB

Hanif juga mengimbau agar penyampaian informasi fiskal dilakukan secara utuh dan bertanggung jawab guna menghindari kesalahpahaman publik yang dapat memengaruhi persepsi pasar keuangan.

Senada, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyebut, kondisi APBN masih relatif aman dengan dukungan SAL sekitar Rp 420 triliun sebagai bantalan likuiditas.

“Ditambah cadangan devisa dan akses pembiayaan melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN), pemerintah masih memiliki ruang untuk menghadapi guncangan moderat,” ujar Yusuf.

Namun, ia mengingatkan, dalam jangka menengah, tantangan akan lebih kompleks. Hal ini seiring dengan besarnya kebutuhan pembiayaan, karena defisit APBN tahun ini direncanakan mencapai Rp 689 triliun dan realisasinya telah terserap sekitar 35 persen dalam triwulan pertama.

Menurut dia, pengelolaan fiskal yang hati-hati, disiplin, dan transparan tetap diperlukan guna menjaga kesinambungan fiskal di tengah dinamika ekonomi global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense