BREAKING NEWS
 

Defisit APBN 240 T Masih Terkendali

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : ADITYA NUGROHO
Rabu, 6 Mei 2026 08:02 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah), didampingi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) dan Juda Agung (kanan), foto bersama saat akan menyampaikan keterangan dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (5/5/2026). (Foto: Dwi Pambudi/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hingga akhir Maret 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp 240,1 triliun. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, APBN masih terkendali.

Purbaya mengatakan, defisit APBN tersebut setara 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih aman di bawah 3 persen PDB.

“Setiap tahun siklus belanja dan penerimaan berbeda, tapi sepanjang tahun akan kita kendalikan di bawah 3 persen, sesuai desain APBN,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Hingga akhir Maret 2026, pendapatan negara tercatat Rp 574,9 triliun, sementara belanja mencapai Rp 815 triliun. Realisasi pendapatan tersebut setara 18,2 persen dari target dan tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Baca juga : Pemerintah Jaga Situasi Tetap Kondusif

Penerimaan perpajakan menjadi kontributor utama dengan nilai Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,2 persen (yoy), terdiri atas pajak Rp 394,8 triliun yang meningkat 20,7 persen serta kepabeanan dan cukai Rp 67,9 triliun yang terkontraksi 12,6 persen.

Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai Rp 112,1 triliun atau 24,4 persen dari target, tetap memberikan kontribusi positif meski mengalami normalisasi.

Dari sisi belanja, realisasi mencapai 21,2 persen dari pagu APBN atau tumbuh 31,4 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,4 persen.

Adsense

“Ini menunjukkan pemerataan belanja sepanjang tahun mulai berjalan,” kata Purbaya.

Baca juga : Neraca Dagang Surplus, Ekspor Turun, Impor Naik

Purbaya juga membantah gosip yang menyebut perekonomian Indonesia bakal hancur-hancuran seperti tahun 1998. Purbaya bilang, hal itu tidak terjadi lantaran hingga hari ini, perekonomian Indonesia masih terus ekspansi.

Purbaya menilai, pihak-pihak yang menghembuskan isu miring tersebut tidak memiliki data yang akurat. Mereka tidak paham apa yang sesungguhnya terjadi pada tahun 1998, hingga perekonomian Indonesia diguncang resesi. 

"Mereka tidak melihat apa yang terjadi pada perekonomian kita saat itu. Kita sekarang boro-boro resesi, masih ekpansi. Masih akselerasi," tambahnya.

Purbaya juga mengatakan, tekanan kurs rupiah yang kini bertengger di Rp 17.400 per dolar AS bukan disebabkan urusan fiskal Pemerintah. Sebab, fiskal pemerintah malah menjadi salah satu penopang tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini.

Baca juga : Trump Janji Bebaskan Kapal Yang Disandera Di Selat Hormuz

"Orang juga banyak bilang Indonesia fiskalnya goyah, makanya rupiah melemah. Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi kita itu amat kuat," kata Purbaya.

Ekonom Senior Ryan Kiryanto menilai, defisit APBN tersebut masih dalam jalur yang wajar, seiring meningkatnya belanja pemerintah untuk menjalankan berbagai program strategis nasional. Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada terhadap tantangan global dan tidak cepat berpuas diri dengan capaian pertumbuhan ekonomi.

Menurut Ryan, peningkatan belanja negara yang kembali agresif setelah sempat terjadi penyesuaian di awal pemerintahan turut mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi.

“Dengan banyaknya program strategis nasional yang berjalan, pertumbuhan memang terdorong lebih tinggi,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense