BREAKING NEWS
 

Kesimpulan Purbaya: Kita Sudah Lewati Ujian Berat

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Rabu, 24 Juni 2026 08:10 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy (kiri), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan) dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Foto: Tedy Octariawan Kroen/rm.id)

 Sebelumnya 
“Saya sempat khawatir di bulan kedua akan jatuh tajam, tapi dari sini saya agak lega, ternyata cukup kuat," tambahnya. 

Di sektor keuangan, Purbaya mengatakan, koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan berhasil menjaga stabilitas. Hal itu tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah, rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), penurunan imbal hasil obligasi negara, serta kembali masuknya aliran modal asing. 

Ia berharap, peluang perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran dapat semakin menurunkan harga minyak dunia sehingga tekanan terhadap biaya energi dan inflasi domestik ikut berkurang. 

Baca juga : Hadir Di Bangkalan Madura, Presiden Jelaskan Rupiah Di Depan Para Ulama NU

"Kalau dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu," kata Purbaya. 

Menurut dia, meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya ideal, berbagai langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif di tengah tekanan global. Dengan prospek geopolitik yang membaik dan harga energi yang lebih rendah, ia optimistis kinerja ekonomi pada paruh kedua 2026 akan semakin kuat. 

Optimisme tersebut juga didukung data Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 tumbuh lebih tinggi. 

Baca juga : Jaga Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Kucurkan Stimulus 26,34 Triliun

"M2 tumbuh 10,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 sebesar 9,2 persen (yoy), sehingga mencapai Rp 10.415,9 triliun," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (23/6/2026). 

Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 15,3 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,0 persen (yoy). Pertumbuhan M2 pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih. 

Penyaluran kredit tumbuh 10,8 persen (yoy), meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 9,4 persen (yoy). Sementara itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh 5,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 3,7 persen (yoy). 

Baca juga : Roy Suryo & Tifa Tak Ditahan Jaksa, Jokowi: Kita Harus Hargai

BI juga melaporkan uang primer (M0) adjusted pada Mei 2026 tumbuh 14,2 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan April 2026 sebesar 14,3 persen (yoy), sehingga tercatat sebesar Rp 2.214,6 triliun. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense