BREAKING NEWS
 

IATMI: B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Dukung Target Net Zero Emission

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Sabtu, 11 Juli 2026 11:40 WIB
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat energi sekaligus Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo menilai, implementasi program Biodiesel B50 menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), program ini juga dinilai mampu mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan dan mendukung target net zero emissions.

Hadi mengatakan, Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan biodiesel karena merupakan produsen minyak kelapa sawit mentah (CPO) terbesar di dunia.

Menurutnya, pemanfaatan B50 menjadi langkah awal dalam mengurangi ketergantungan terhadap diesel impor sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik.

Baca juga : Bambang Patijaya: Peluncuran B50 Perkuat Kedaulatan Energi & Swasembada Nasional

"Kehadiran B50 ini penting sekali dalam rangka memutus mata rantai impor diesel dan merupakan inisiasi awal transisi energi dari fosil menuju renewable energy yang lebih ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal. Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia sehingga memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan biodiesel," kata Hadi dikutip Sabtu (11/7/2026). 

Menurut Hadi, manfaat B50 tidak hanya dirasakan dari sisi ketahanan energi, tetapi juga mendukung agenda keberlanjutan.

Dari aspek lingkungan, biodiesel memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil, mulai dari proses produksi bahan bakunya hingga penggunaannya.

Adsense

"Output penggunaan biodiesel menghasilkan jejak CO2 sekitar 50 hingga 60 persen lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Bahkan di beberapa negara maju, pengurangan emisinya dapat mencapai sekitar 80 persen dalam kondisi tertentu," jelasnya.

Baca juga : Cek Endra: Peluncuran B50 Tonggak Kedaulatan Energi dan Ekonomi Nasional

Meski demikian, Hadi menilai, keberhasilan implementasi B50 memerlukan tata kelola yang kuat dari hulu hingga hilir.

Salah satu tantangan utama adalah memastikan pengembangan perkebunan kelapa sawit dilakukan secara berkelanjutan agar tidak memicu deforestasi yang berlebihan.

Ia juga mendorong peningkatan efisiensi industri pengolahan CPO, termasuk melalui pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit menjadi biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik.

Selain itu, Hadi menilai, aspek logistik dan distribusi juga perlu mendapat perhatian serius. Kondisi geografis Indonesia yang luas membuat biaya distribusi biodiesel masih menjadi komponen penting dalam rantai pasok.

Baca juga : Prabowo-Modi Perkuat Kerja Sama Polkam dan Penanggulangan Terorisme

Karena itu, ia menyarankan pengembangan sistem distribusi berbasis klaster yang terintegrasi dengan pusat-pusat konsumsi utama.

Di sisi lain, sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku industri juga perlu terus diperkuat agar penggunaan biodiesel semakin diterima secara luas.

Menurutnya, berbagai masukan terkait performa mesin harus ditindaklanjuti melalui riset dan inovasi berkelanjutan, termasuk pengembangan zat aditif yang mampu menjaga kinerja mesin tetap optimal.

Dengan dukungan teknologi, tata kelola yang baik, serta edukasi yang berkelanjutan, Hadi meyakini implementasi B50 akan memberikan manfaat besar bagi ketahanan energi nasional, perekonomian, dan lingkungan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense