RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda, akan menanamkan investasi senilai 30 juta dolar AS atau sekitar Rp 539 miliar untuk mengembangkan ekosistem produk obat derivat plasma (PODP) di Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan, investasi tahap awal selama dua tahun tersebut akan difokuskan pada pembangunan jaringan bank plasma sebagai fondasi pengembangan industri plasma nasional.
"Investasi ini merupakan investasi strategis yang tidak hanya menghadirkan tambahan modal, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja berketerampilan tinggi," kata Rosan dikutip dari Antara, Selasa (14/7/2026).
Baca juga : Bangun Basis Suara Di Sidoarjo, PSI Jatim Bidik Posisi 4 Besar Pemilu 2029
Menurut dia, pemerintah terus mendorong investasi yang mampu memberikan nilai tambah sekaligus memperkuat kapasitas industri nasional agar Indonesia dapat berkembang menjadi pusat manufaktur dan inovasi kesehatan di kawasan.
Rosan menilai investasi Takeda juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek investasi Indonesia, terutama di sektor industri kesehatan berbasis teknologi tinggi.
Ia mengatakan kemitraan tersebut sejalan dengan agenda transformasi ekonomi melalui program hilirisasi di berbagai sektor strategis, termasuk sektor kesehatan, guna meningkatkan daya saing industri nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Baca juga : Bangun 29 Bendungan, Waskita Karya Perkuat Ketahanan Pangan Dan Ekonomi Daerah
Rosan menambahkan Jepang merupakan salah satu mitra strategis Indonesia dalam bidang investasi. Berdasarkan data BKPM, Jepang menempati peringkat kelima sebagai investor terbesar di Indonesia pada triwulan I 2026 dengan nilai investasi mencapai 1 miliar dolar AS.
Sementara itu, realisasi investasi Jepang selama periode 2021 hingga triwulan I 2026 tercatat mencapai 18,1 miliar dolar AS, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 13,2 persen dan menyerap sekitar 299.460 tenaga kerja.
Menurut Rosan, capaian tersebut menjadi modal kuat untuk memperluas kerja sama investasi di berbagai sektor prioritas, termasuk industri kesehatan.
Baca juga : RI Kenalkan B50 Ke Rusia, Incar Peluang Investasi Baru
Melalui kolaborasi dengan Takeda, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma yang sangat dibutuhkan, tetapi juga membangun ekosistem industri biofarmasi yang berdaya saing, inovatif, dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem tersebut, bank plasma pertama di Indonesia ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dengan memenuhi standar global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.