Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia memanfaatkan Forum Bisnis Indonesia–Rusia pada ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, untuk memperkuat diplomasi industri melalui pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit sekaligus membuka peluang kerja sama investasi, perdagangan, dan transfer teknologi dengan Rusia serta kawasan Eurasia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia memiliki potensi besar menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit melalui penguatan kolaborasi internasional.
"Melalui inovasi, hilirisasi, dan kerja sama internasional, kami ingin menjadikan industri sawit tidak hanya sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga sebagai bagian dari solusi menuju ketahanan energi dan pembangunan industri yang berkelanjutan," kata Agus dalam keterangannya di Rusia, Kamis (9/7).
Forum bertema Palm Oil and the Future of Sustainable Energy tersebut menjadi sarana bagi Indonesia untuk memperkenalkan inovasi industri nasional sekaligus memperluas akses pasar di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap energi yang lebih bersih.
Baca juga : Mesir Tuntut FIFA Investigasi Wasit
Lebih dari 100 pemimpin industri, pejabat pemerintah, pelaku usaha, dan peserta INNOPROM 2026 menghadiri forum tersebut. Mereka berdiskusi mengenai peluang investasi, pengembangan teknologi, serta kerja sama bisnis di sektor bioenergi.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Tri Supondy mengatakan forum itu menjadi kesempatan untuk menunjukkan transformasi industri sawit Indonesia yang kini berkembang melampaui perannya sebagai komoditas ekspor.
"Forum ini merupakan kesempatan berharga untuk menyampaikan bahwa Indonesia tidak hanya menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, tetapi juga terus berinovasi melalui produk unggulan industri nasional," ujar Tri.
Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia juga memaparkan berbagai langkah dalam mendukung transisi energi global, salah satunya melalui penerapan mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku pada Juli 2026.
Baca juga : Gandeng Ak Bars Rusia, Iperindo Perkuat Industri Perkapalan
Kebijakan tersebut mewajibkan penggunaan bahan bakar diesel yang mengandung 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit. Program itu diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil, memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus menekan emisi karbon.
Selain itu, pemerintah memperkenalkan sejumlah kebijakan pendukung keberlanjutan industri sawit, antara lain program peremajaan kebun rakyat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan teknologi biodiesel dan produk turunannya melalui Indonesia Plantation Fund (IPF), serta penguatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) guna meningkatkan daya saing di pasar global.
Direktur Urusan Hukum dan Kerja Sama Kelembagaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Pangihutan Siagian mengatakan keberhasilan program biodiesel nasional membuktikan bahwa pengembangan industri sawit dapat berjalan seiring dengan agenda transisi energi.
"Dukungan BPDPKS juga mencakup program peremajaan kebun rakyat, pengembangan sumber daya manusia, riset dan inovasi, serta pembangunan sarana dan prasarana perkebunan untuk memperkuat daya saing industri sawit Indonesia dari hulu hingga hilir," kata Pangihutan.
Baca juga : Menaker: Tak Ada PHK Di Tokopedia, Hanya Penataan Internal
Selain mempromosikan inovasi bioenergi, forum tersebut juga dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama ekonomi Indonesia dengan Rusia, termasuk melalui penyelesaian perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU).
Pemerintah berharap kerja sama di sektor bioenergi dapat menjadi pintu masuk bagi peningkatan investasi, transfer teknologi, serta perluasan akses pasar produk manufaktur Indonesia di kawasan Eurasia.
Melalui Forum Bisnis Indonesia–Rusia pada INNOPROM 2026, Indonesia menegaskan bahwa pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit tidak hanya menjadi bagian dari strategi transisi energi nasional, tetapi juga instrumen diplomasi industri untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Rusia dan negara-negara Eurasia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya