RM.id Rakyat Merdeka - Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, bumi di wilayah Flores berguncang hebat. Gempa berkekuatan magnitudo 7,0 yang berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, tidak hanya merobohkan rumah dan bangunan.
Gempa tersebut juga memicu tsunami, longsor, kerusakan jalan, gangguan jaringan air minum, serta memaksa puluhan ribu masyarakat meninggalkan rumahnya.
Di balik angka korban dan kerusakan, terdapat kehidupan yang mendadak berubah. Ada keluarga yang kehilangan orang terkasih, anak-anak yang harus tidur di bawah tenda, pasien yang dirawat di luar bangunan rumah sakit, serta masyarakat yang belum berani kembali ke rumah karena gempa susulan terus terjadi.
Hingga 19 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 71 orang meninggal dunia dan 59.647 orang mengungsi. Ribuan rumah serta ratusan fasilitas pendidikan, kesehatan, rumah ibadah, kantor pemerintahan, jalan, jembatan, dan jaringan irigasi dilaporkan mengalami kerusakan.
Baca juga : DoctorSHARE Salurkan Bantuan Medis Untuk Korban Gempa Flores
Dalam situasi seperti ini, kehadiran negara tidak cukup ditunjukkan melalui pernyataan belasungkawa. Kehadiran negara harus dapat dirasakan melalui jalan yang kembali terbuka, air bersih yang sampai ke pengungsian, rumah sakit yang dipastikan aman, serta infrastruktur dasar yang segera berfungsi kembali. Itulah prinsip yang menjadi landasan kerja Kementerian Pekerjaan Umum dalam merespons bencana gempa Flores.
Bergerak Sejak Hari Pertama
Sejak beberapa jam setelah gempa terjadi, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menginstruksikan seluruh unit pelaksana teknis Kementerian PU di Nusa Tenggara Timur untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Personel, alat berat, sarana air bersih, dan tim teknis mulai digerakkan menuju wilayah terdampak.
Arahan Menteri PU sangat jelas. Penanganan tidak boleh menunggu seluruh data selesai dihimpun. Data awal harus segera digunakan untuk menentukan tindakan pertama, sementara proses verifikasi dan pemutakhiran terus berjalan secara paralel.
Baca juga : BRI Peduli Bangun 3 Posko Logistik & Dapur Umum, Direksi Terjun Langsung di NTT
Pendekatan tersebut penting karena dalam kondisi bencana, data kerusakan hampir selalu berkembang. Lokasi yang pada hari pertama belum dapat dijangkau mungkin baru dapat diperiksa pada hari berikutnya.
Jumlah titik longsor, bangunan rusak, dan pengungsi juga dapat bertambah seiring terbukanya akses komunikasi. Karena itu, pemerintah harus bekerja cepat tanpa meninggalkan ketepatan.
Kecepatan dibutuhkan untuk menyelamatkan kehidupan dan memulihkan pelayanan dasar, sedangkan ketepatan diperlukan agar setiap sumber daya benar-benar diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan.
Menteri Dody juga segera menuju NTT dengan membawa 50.000 paket sembako bantuan Presiden Prabowo Subianto. Selanjutnya, beliau mengikuti rapat koordinasi penanganan gempa di Labuan Bajo, berada di Ende, serta turun langsung ke Nagekeo untuk menemui masyarakat dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB, Basarnas, TNI, dan berbagai unsur penanganan bencana.
Baca juga : Menkes: Yosef Harus Dioperasi, Agar Tak Cacat dan Bisa Main Bola Lagi
Kehadiran langsung di lapangan bukan semata kegiatan seremonial. Kehadiran tersebut diperlukan untuk memperpendek rantai pengambilan keputusan, memastikan kebutuhan daerah segera diterima pemerintah pusat, dan menggerakkan seluruh balai teknis agar bekerja dalam satu arah yang sama.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.