BREAKING NEWS
 

Keracunan MBG di Sidoarjo

Sudaryono Kecam SPPG Kalitengah: Kalau Ada Unsur Pidana, Kami Tak Bisa Bantu

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Kamis, 3 September 2026 20:44 WIB
Kepala BGN Sudaryono (Foto: IG)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengecam ahli gizi dan kepala dapur di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur dalam insiden keracunan massal di Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur.

Keduanya dianggap lalai karena tidak memberikan label kontrol di semua ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG). 

"Ini namanya kelalaian yang disengaja. Bukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat. Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu," ujar Sudaryono via Instagram, Kamis (3/9/2026).

Berdasarkan hasil investigasi lapangan dan pengecekan di radar MBG, Sudaryono mengatakan ahli gizi dan Kepala Dapur tidak melabeli semua ompreng MBG.

"Hanya dikasih satu label untuk satu PIC. Jadi, misalnya ada 400 ompreng, itu labelnya satu. Maka, mulai hari ini, saya perintahkan, saya wajibkan setiap ompreng harus ada labelnya. Label harus diisi dengan jam yang sesuai," papar Sudaryono. 

Dari hasil penelusuran sementara, Sudaryono menyebut makanan tersebut matang pada pukul 5. Karena itu, menurut dia, makanan seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 9.

Baca juga : 500 Orang Diduga Keracunan MBG Di Sidoarjo, BGN Langsung Turun Tangan

Namun, pada label tertulis, dilaporkan pukul 8 dan dimakan maksimal pukul 10.

Label itu tidak diberikan di semua ompreng. Hanya satu ompreng, difoto, kemudian dimasukkan ke dalam POP, lalu di-capture oleh radar MBG. 

"Jadi, jam 8 itu dilakukan labeling untuk dimakan maksimal jam 10 pagi. Kenyataannya, ompreng yang harusnya dimakan sebelum jam 10, dikirim ke sekolah di atas jam 11. Kalau tidak salah, jam 11.30 atau 11.40. Baru dimakan di atas jam 12 oleh para siswa itu, sehingga keracunan masal terjadi di sekolah," beber Sudaryono.

"Omprengmu kau kasih jam 10, kemudian kau kasih jam 11 lebih, dan dimakan di atas jam 12. Ini adalah kelalaian yang disengaja. Saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja. Aturan sudah diberikan, juklak sudah diberikan, cara sudah diberikan, tapi Anda lalai dalam melaksanakan," imbuhnya.

Sudaryono kembali menekankan, BGN tidak akan memberikan bantuan apa pun, jika nantinya teridentifikasi ada kelalaian dan unsur pidana dalam kasus ini. 

Adsense

"Saya ulangi poin-poinnya, label wajib dipasang. Satu ompreng, satu label. Info pada label, kalau perlu ditulis pakai spidol saja di kertasnya itu, sehingga pas jam matengnya. Jadi, kalau mateng jam 6, maka wajib dimakan sebelum jam 10. Kalau mateng jam 5, dimakan jam 9. Kalau orang minta dimakan jam 11, masaknya lebih agak siang," lanjutnya.

Baca juga : 97% Untuk MBG 3% Operasional

Sudaryono meminta mobil MBG untuk menyesuaikan waktu pengantaran ke sekolah, agar terhindar dari risiko keracunan. 

"Misalnya maksimal dimakan jam 10 pagi, maka jam 10.30 mobilnya sudah datang ke sekolah, dan memastikan makannya dimakan. Begitu jam 10.30 kok nggak ada yang dimakan, ambil lagi dan bawa pulang," tuturnya. 

Jika dilihat statistiknya, Sudaryono melihat lebih dari setengah kasus keracunan MBG disebabkan oleh hasil masakan yang tidak bagus, dan dikonsumsi melebihi jam keamanan pangan. Lebih dari 4 jam setelah matang. Untuk menunjang makanan yang berkualitas baik, kapasitas dapur harus disesuaikan.

"Saya ucapkan terima kasih pada semua SPPG, semua kepala dapur, dan semua tim dapur. Termasuk Korcam, Karek, Korwil, dan semua jajaran yang selama ini kerjanya sudah bagus," ucap Sudaryono.

"Tolong agar tidak terpengaruh oleh performa yang tidak bagus yang dilakukan oleh SPPG-SPPG lain, yang kemudian menimbulkan keracunan dan gangguan kesehatan," pintanya.

BGN Monitor Korban

Pada kesempatan yang sama, Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf atas kasus insiden keamanan pangan di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Sidoarjo, yang telah mengakibatkan lebih dari 15 orang keracunan.

Baca juga : HKTI-Pramuka Siap Perkuat Pertanian Terintegrasi Dan Lanjutkan Swasembada Pangan

"Saya menyampaikan permohonan maaf sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, atas kelalaian dan hal-hal yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan di Pondok Pesantren Sidoarjo," ujarnya. 

Sudaryono menambahkan, pihaknya terus memonitor jumlah korban yang masih dirawat, dan berapa yang sudah dibolehkan meninggalkan rumah sakit. 

"Kami terus menyisir juga penerima manfaat lain, yang barangkali tidak berangkat ke Pukesmas atau ke rumah sakit. Itu kami juga sisir. Siapa tahu ada yang sakit, tetapi ada di rumah dan seterusnya," pungkasnya. 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense