Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kepala BGN Soal Keracunan MBG, Nyawa Rakyat Jangan Dijadikan Permainan
Selasa, 18 Agustus 2026 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono kecewa kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terjadi. Ia memberikan peringatan keras kepada seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar bekerja hati-hati. "Kalau nggak bisa, kamu mundur.
Kalau merasa tidak bisa, mundur. Jangan nyawa orang jadi permainan,” tegas Sudaryono saat mengunjungi korban keracunan MBG yang dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan, Minggu (16/8/2026).
Pria yang akrab disapa Mas Dar itu, mengaku sedih sekaligus marah. Kesedihannya muncul karena masih ada anak-anak yang menjadi korban. Sedangkan kemarahannya dipicu oleh terulangnya permasalahan yang seharusnya bisa dicegah.
"Jadi mohon maaf. Perasaan saya antara sedih sama marah," ungkapnya.
Mas Dar menegaskan, kejadian keracunan MBG harus menjadi pelajaran besar bagi BGN dan seluruh pengelola SPPG. Ia tidak ingin kasus serupa kembali terjadi.
“Saya merasa sedih khususnya, ini tidak boleh lagi,” ujar politikus Partai Gerindra itu.
Ia menegaskan, persoalan ini bukan sekadar mengenai jumlah korban. Lebih dari itu, menyangkut keselamatan dan nyawa masyarakat yang menjadi penerima manfaat program MBG.
Baca juga : Gejolak Di Aceh Harus Secepatnya Didinginkan
“Saya sebagai Kepala Badan Gizi akan melakukan segala hal, supaya tidak boleh ada lagi orang-orang itu kemudian anak-anak kita keracunan masuk rumah sakit,” tegasnya.
Belajar dari kasus keracunan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Mas Dar kembali mengingatkan seluruh SPPG agar menjalankan standar pengolahan makanan secara disiplin. Menurutnya, setiap tahapan penyediaan makanan harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Ia juga meminta petugas yang merasa tidak mampu menjalankan tugas untuk tidak memaksakan diri.
"Jadi, kalau nggak bisa jadi kepala dapur, kalau nggak bisa jadi chef, kalau nggak bisa jadi petugas di situ, kau mundur saja. Karena nyawa seseorang tidak bisa dipertaruhkan begini, ya," tambahnya.
Mas Dar memastikan penyelidikan terhadap kasus keracunan MBG di Karo akan dilakukan secara terbuka. Ia berjanji tidak akan menutup-nutupi hasil pemeriksaan apabila ditemukan adanya kelalaian.
Ia mengungkapkan, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan adanya masalah dalam proses penyimpanan bahan makanan. Kalau penyebab berasal dari ikan yang tidak diletakkan di ruang pendingin lebih dari 12 jam, katanya.
Dia mengakui terdapat kelalaian petugas SPPG dalam kasus tersebut. Terlebih lagi, BGN telah mengambil tindakan terhadap pengelola dapur yang dianggap bertanggung jawab.
Baca juga : Neni Nur Hayati: Pembahasan Pansus Panjang Dan Lama
“Hasil ujinya sudah ada di dinas kesehatan, itu ada kelalaian yang fatal dan kita sudah melakukan penutupan dapur, dan kepala SPPG sudah kita copot,” ujarnya.
Sementara itu, kondisi pelajar yang masih menjalani perawatan di RSU Haji Medan terus membaik. Para korban tetap mendapatkan pemantauan intensif dari tim medis hingga kondisinya kembali normal.
Mas Dar berharap kondisi para korban menetap kembali dalam satu atau dua hari ke depan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution yang memfasilitasi biaya pengobatan para korban melalui Pemerintah Provinsi Sumut.
Namun, permintaan maaf Mas Dar belum sepenuhnya meredakan kemarahan orang tua korban. Saat meninjau siswa yang dirawat di Rumah Sakit Efarina, Minggu (16/8/2026), seorang ibu korban tak kuasa menahan tangis dan amarah.
Ia mengecualikan kandungan makanan yang dikonsumsi anaknya hingga menyebabkan gangguan kesehatan. Sambil menangis, ibu tersebut menceritakan kondisi anaknya, siswa SMA Negeri 1 Berastagi.
Sejak Kamis (13/8/2026), ia mengalami sesak napas hingga harus menjalani perawatan selama tiga hari di Rumah Sakit Amanda. Setelah sempat diizinkan pulang, kondisi kondisinya kembali memburuk. Ia mengalami mual dan gatal-gatal hingga akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Efarina Etahanam.
Dengan suara bergetar, ibu tersebut kemudian meminta penjelasan mengenai penyebab anaknya mengalami keracunan.
Baca juga : Zulfikar Arse Sadikin: Kalau Melalui Pansus, Semua Akan Dilibatkan
"Tolong Bapak, permintaan maaf Bapak tidak mengubah keadaan. Apa sebenarnya racun yang dimakan anak saya, agar kami tahu pengobatannya," katanya sambil menangis.
Ia juga meminta BGN memberikan pertanggungjawaban yang jelas atas kejadian tersebut. "Pertanggungjawaban yang mana yang kalian bilang? Anak saya ini sebenarnya kenapa? Tolong jangan hanya datang dan melihat, terima kasih kami keterangan yang jelas," teriaknya.
Diketahui, kasus keracunan MBG di Kabupaten Karo terjadi pada Kamis (13/8/2026). Sebanyak 289 siswa dari SMA Negeri 1 Berastagi dan SMA Swasta Bersama Berastagi mendapat penanganan medis setelah diduga mengalami keracunan makanan.
Kasus tersebut menjadi sorotan karena program MBG merupakan program nasional yang menyasar anak-anak dan kelompok masyarakat lainnya. Tak hanya di Karo, kasus serupa juga terjadi di Kota Sukabumi, Jawa Barat.
Sebanyak 134 santri dan pengajar Pondok Pesantren (Ponpes) Baiti Jannati, Kota Sukabumi, dibawa ke rumah sakit setelah mengalami gejala pusing, mual, diare hingga muntah-muntah.
Mereka diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG. Peristiwa tersebut terjadi sejak Jumat (15/8/2026). Sejumlah santri mulai merasakan gejalanya sekitar pukul 14.30 WIB, tak lama setelah mengonsumsi makanan MBG. [PRIA/FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya