RM.id Rakyat Merdeka - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi secara menerus sejak semalam tidak berpotensi memicu tsunami.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Selat Sunda, diminta tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait aktivitas gunung api tersebut.
Menurut dia, erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan aktivitas vulkanik yang terus dipantau secara intensif oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
"Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi hingga saat ini, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tidak menunjukkan adanya potensi tsunami," kata Lana dalam keterangannya di situs Badan Geologi, Sabtu (5/9/2026).
Baca juga : 6 Fakta Gempa M5,4 Cilacap: Dipicu Aktivitas Subduksi Lempeng Indo-Australia
Ia menjelaskan, tsunami akibat aktivitas vulkanik umumnya dapat terjadi apabila terdapat perubahan besar dan mendadak pada tubuh gunung, seperti longsoran atau runtuhan material dalam jumlah signifikan yang masuk ke laut.
Namun, berdasarkan kondisi morfologi dan hasil pemantauan terkini, aktivitas erupsi yang terjadi di Gunung Anak Krakatau belum menunjukkan indikasi adanya mekanisme tersebut.
"Untuk itu masyarakat tidak perlu panik. Kami terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan setiap perubahan akan segera disampaikan kepada masyarakat serta instansi terkait," ujarnya.
Meski demikian, Lana meminta masyarakat tetap mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan PVMBG dan tidak mendekati kawasan kawah dalam radius yang telah ditetapkan.
Baca juga : Gempa M5,4 Guncang Cilacap Jawa Tengah, Tidak Berpotensi Tsunami
Masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pihak lain yang beraktivitas di sekitar Gunung Anak Krakatau juga diminta mengikuti perkembangan informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, serta instansi kebencanaan lainnya.
Gunung Anak Krakatau dalam beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang ditandai dengan erupsi menerus, lontaran material pijar, serta fenomena air mancur lava atau lava fountain.
Aktivitas tersebut menyebabkan cahaya merah dari material pijar terlihat dari sekitar kawasan Selat Sunda, sementara suara dentuman juga dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah.
Badan Geologi memastikan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan guna mengantisipasi perubahan tingkat aktivitas maupun potensi bahaya yang dapat ditimbulkan.
Baca juga : BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami Usai Gempa M7,7 Di NTT
Lana menegaskan, informasi mengenai potensi tsunami harus merujuk pada hasil pemantauan dan analisis lembaga berwenang agar masyarakat tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.