Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7–7,8 menggoyang wilayah selatan Filipina Senin (8/6/2026), pukul 07.37 waktu setempat. Episentrum gempa berada sekitar 13 kilometer barat daya General Santos City di wilayah Sarangani, Pulau Mindanao. Guncangan gempa terasa sampai Sulawesi.
Gempa terjadi akibat aktivitas tektonik imbas subduksi lempeng. Tercatat terjadi 138 gempa susulan dengan kekuatan bervariasi hingga mencapai magnitudo 6,7 di Filipina.
Berdasarkan laporan Kantor Pertahanan Sipil Filipina, seperti dikutip BBC, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 15 orang. Sebanyak 129 orang mengalami luka-luka.
Direktur Pertahanan Sipil Filipina Rodrigo Sosmeña menyebutkan, sebagian besar korban jiwa berasal dari wilayah Soccsksargen yang mencakup beberapa provinsi di sekitar episentrum gempa, termasuk South Cotabato, Sultan Kudarat, Sarangani, dan General Santos City.
Puluhan bangunan komersial dilaporkan rusak parah. Salah satu kerusakan yang fatal terjadi di General Santos City. Sempat pula terjadi pemadaman listrik massal.
Baca juga : Istana Nyatakan Tidak Ada Reshuffle Menkeu
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. telah mengarahkan semua instansi Pemerintah untuk segera bertindak. Ia juga meminta masyarakat menjauhi wilayah pesisir dan mencari tempat yang lebih aman.
"Kepada Saudara sebangsa di provinsi-provinsi terdampak, mohon perhatikan peringatan tsunami. Segera pindah ke tempat yang lebih tinggi. Jangan menunggu. Hidup Anda lebih penting dibanding apa pun yang tertinggal," tegas pria yang akrab disapa Bongbong ini, dalam keterangan yang dirilis Badan Informasi Filipina (PIA).
Kantor Pertahanan Sipil dan Dewan Penanggulangan Mitigasi Risiko Bencana Nasional Filipina (NDRRMC) telah berkoordinasi dalam penanggulangan dan pemantauan bencana di seluruh wilayah terdampak. "Pemerintah Pusat sedang bergerak. Kami tidak akan meninggalkan Mindanao. Saya terus berkomunikasi dengan kantor-kantor regional dan kepala eksekutif setempat di lapangan," imbuhnya.
Departemen Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan Filipina (DSWD) diarahkan untuk menyiapkan barang-barang bantuan dan memastikan pusat-pusat evakuasi siap beroperasi. Sementara Departemen Pekerjaan Umum dan Jalan Raya (DPWH) siaga menilai kerusakan jalan, jembatan, dan infrastruktur penting, serta membersihkan jalur yang dibutuhkan untuk operasi penyelamatan dan bantuan.
"Saya juga memerintahkan penangguhan kegiatan belajar mengajar di semua tingkatan, di seluruh wilayah yang terdampak di Mindanao hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keselamatan anak-anak kita prioritas utama. Departemen Pendidikan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah terkait hal ini," ucap Bongbong.
Baca juga : Dasco-Bahlil-Dony Tenangkan Pengusaha
Getaran gempa dilaporkan terasa hingga Sulawesi Utara, lebih dari 200 kilometer dari pusat episentrum. Gempa yang terjadi di kedalaman sekitar 10 kilometer ini juga sempat memicu peringatan tsunami di beberapa negara kawasan seperti Filipina, Jepang, termasuk Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Sulawesi Utara, Maluku Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur.
Gelombang tsunami minor sempat terdeteksi di beberapa wilayah Indonesia timur, meliputi Melonguane (0,19 meter), Ulu Siau (0,18 meter), dan Kedi di Maluku Utara (0,09 meter). Namun, peringatan dini tsunami di wilayah Indonesia resmi berakhir dan dicabut oleh BMKG sejak pukul 10.15 WIB. Masyarakat pun kembali beraktivitas secara normal.
Kepala Basarnas Manado George Mercy Randang menyatakan, Tim SAR gabungan dikerahkan memantau kondisi sejumlah daerah. Masyarakat pun sempat melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang dianggap aman.
"Sejumlah laporan awal dari wilayah kepulauan menyebut ada kerusakan pada bangunan rumah warga, fasilitas umum, serta tempat ibadah retak hingga rusak berat akibat guncangan gempa," kata Mercy, dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Baca juga : Harga Turun Saat Dolar Naik, Sawit Dimainkan Kartel
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga pukul 12.30 dilaporkan ada 27 rumah warga dan dua gereja di Sulawesi Utara rusak. "Ada sebanyak 27 KK (Kepala Keluarga) terdampak, 20 KK di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan 7 KK di Kabupaten Kepulauan Talaud. Selain itu, tercatat kerusakan pada 27 unit rumah di dua wilayah tersebut," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Kerusakan infrastruktur publik juga terjadi di Kabupaten Minahasa Utara, meliputi dua bangunan gereja, satu gedung GMIM 76, satu sekolah, dan satu rumah dinas guru.
Abdul menambahkan, guncangan gempa kuat berdurasi 3 hingga 4 detik sempat memicu kepanikan warga di Kabupaten Kepulauan Sangihe, khususnya di Kecamatan Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat.
Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, BNPB tetap mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya struktural bangunan akibat gempa susulan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya