RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menjajaki penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi di Kota Batam, Kepulauan Riau. Upaya ini diarahkan untuk mendukung penanganan sampah dengan tetap mempertimbangkan kelayakan dan dampak lingkungannya.
“Pertumbuhan penduduk, kegiatan industri dan perkembangan kawasan ekonomi di Batam membutuhkan sistem pengelolaan lingkungan yang semakin baik,” ujar Iftitah dalam keterangan resminya, Minggu (18/10/2026).
Kementerian Transmigrasi (Kementrans) telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Batam untuk menjajaki kemungkinan kerja sama dengan mitra penyedia teknologi pengolahan sampah. Penjajakan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan daerah dan kewenangan masing-masing pihak.
Meski demikian, pembahasan masih memerlukan kajian ilmiah untuk menilai kesiapan daerah sebelum Pemerintah menentukan bentuk dan pelaksanaan proyek.
Baca juga : Songsong Pemilu 2029, Golkar Wajibkan Para Menterinya Maju Caleg
Dia mengatakan, modernisasi pengelolaan sampah di kawasan transmigrasi merupakan bagian dari upaya pengembangan kawasan. Masyarakat perlu memahami, pembangunan kawasan tidak hanya mencakup penyediaan permukiman, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan investasi, tetapi juga pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Sebagai referensi, Iftitah menyebut hasil kunjungan delegasi Kementrans ke China yang mempelajari fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik yang dikembangkan Sanfeng. Salah satu fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 3.000 ton sampah per hari.
Fasilitas itu menggunakan proses pengolahan termal untuk menghasilkan panas yang kemudian dikonversi menjadi listrik. Teknologi pendukungnya meliputi sistem pengendalian gas buang dan penanganan residu pembakaran guna mengelola dampak lingkungan.
Menurut Iftitah, pengalaman China menjadi bahan pembelajaran dalam mempertimbangkan penerapan teknologi serupa di Indonesia. Namun, kesesuaian teknologi dengan kondisi daerah tetap menjadi pertimbangan utama agar fasilitas yang dibangun dapat berfungsi sesuai tujuan.
Baca juga : Golkar Sulsel Ditarget Raih Tambahan 2 Kursi Per Dapil
“Untuk membuat hal seperti ini, sebetulnya yang harus kita miliki adalah goodwill. Bukan by project, tetapi kita harus tahu teknologi ini dipakai untuk apa,” katanya.
Menurutnya, penerapan teknologi harus disertai perencanaan matang dan dukungan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan fasilitas. Perencanaan juga perlu memperhitungkan volume dan karakteristik sampah, kelayakan ekonomi, pengendalian emisi, serta penanganan residu pembakaran.
Dengan persiapan tersebut, pemanfaatan teknologi diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan sampah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Bagi Iftitah, pelajaran penting dari kemajuan teknologi China bukan semata-mata kemampuan mengubah sampah menjadi energi, melainkan juga bagaimana pendidikan, penelitian, kemitraan dan konsistensi pembangunan dapat memperkuat kemandirian industri.
Baca juga : Antrean BBM, Alarm Ketahanan Energi di Tengah Disparitas Harga dan Krisis Global
Pendekatan serupa diharapkan dapat mendukung upaya Indonesia membangun kawasan ekonomi yang lebih produktif dan berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. SSL
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Senin, 19 Oktober 2026 dengan judul "Adopsi Teknologi China Mentrans Ingin Ubah Sampah Menjadi Energi Di Kota Batam"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.