RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan pendidikan vokasi harus mampu menjadi solusi persoalan pengangguran sekaligus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten, produktif, dan berdaya saing.
Menurut Sarmuji, keterkaitan antara lembaga pendidikan dan dunia industri menjadi kunci agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, terutama di tengah percepatan transformasi teknologi dan perubahan karakter industri.
“Saat ini ada paradoks yang cukup tinggi. SMK dibentuk untuk menyiapkan anak-anak yang siap bekerja, tetapi data menunjukkan bahwa pengangguran yang tinggi salah satunya justru berasal dari lulusan SMK,” kata Sarmuji saat melakukan kunjungan kerja ke SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).
Namun, menurut dia, kondisi tersebut tidak terjadi di SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor yang berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Ia menilai, kedua institusi tersebut mampu menunjukkan keberhasilan pendidikan vokasi melalui kualitas pembelajaran, inovasi, serta kuatnya kerja sama dengan sektor industri.
“Saya sungguh senang bisa mengunjungi SMK-SMAK Bogor. Performanya luar biasa. Tentu bukan hal yang mudah mempertahankan capaian seperti ini. Pasti ada keunggulan yang dimiliki, salah satunya link and match dengan dunia industri yang kuat,” ujarnya.
Baca juga : Menperin Dukung Pengutamaan Gas Bumi Untuk Kebutuhan Dalam Negeri
Sarmuji mengatakan, keberhasilan tersebut perlu menjadi contoh bagi lembaga pendidikan vokasi lainnya dalam mengatasi kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan tenaga kerja industri.
Terlebih, Indonesia tengah menghadapi momentum bonus demografi yang harus dimanfaatkan melalui peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.
“Bonus demografi seharusnya benar-benar menjadi bonus, menjadi kelebihan dan keuntungan bagi Indonesia. Tetapi kalau tidak diimbangi dengan kemampuan SDM dan kesempatan kerja yang memadai, bonus demografi justru bisa menjadi beban bagi Indonesia ke depan,” tegasnya.
Dalam agenda transformasi nasional menuju Indonesia Emas 2045, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029. Untuk mendukung target tersebut, industri pengolahan ditargetkan tumbuh 8,14 persen.
Sementara itu, produktivitas tenaga kerja industri manufaktur ditargetkan meningkat dari Rp 124,35 juta per orang pada 2025 menjadi Rp 147,7 juta per orang pada 2029.
Sarmuji menekankan, pencapaian target tersebut tidak cukup hanya mengandalkan penambahan investasi, pembangunan fasilitas produksi, maupun peningkatan jumlah tenaga kerja.
Baca juga : Kunjungi Cimory, Menperin Tantang Industri Susu Bikin Keju Khas RI & Es Krim
Menurut dia, pertumbuhan industri dalam jangka panjang sangat ditentukan oleh kualitas SDM, produktivitas, serta kemampuan menguasai dan mengembangkan teknologi.
BPSDMI Perkuat Pendidikan Vokasi
Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Adie Rochmanto Pandiangan mengatakan pihaknya terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi melalui penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, pengembangan fasilitas pembelajaran, serta perluasan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri.
Ia mengatakan, SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor memiliki peran penting dalam menyiapkan tenaga kerja terampil, khususnya di bidang kimia dan industri terkait.
“Melalui penguatan pendidikan vokasi berbasis kompetensi dan kebutuhan industri, kami terus mendorong agar lulusan tidak hanya memiliki kemampuan akademis dan keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan kerja, kemampuan beradaptasi, serta daya saing yang tinggi,” ujar Adie.
SMK-SMAK Bogor merupakan unit pendidikan vokasi Kemenperin yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan bidang kimia analisis selama empat tahun. Kurikulumnya memadukan kurikulum nasional, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), kebutuhan industri, dan standar internasional.
Baca juga : Tak Hanya Mobil Listrik, Menperin Dorong Hybrid Dapat Insentif Ganjil Genap
Sekolah tersebut juga mengembangkan pembelajaran berbasis praktik melalui teaching factory, project work, sertifikasi kompetensi, praktik kerja industri, serta fasilitasi penempatan kerja lulusan melalui Bursa Kerja Khusus (BKK).
SMK-SMAK Bogor juga telah meraih sejumlah capaian, antara lain akreditasi A, penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015, serta nilai A dalam penilaian penerapan pendidikan vokasi sistem ganda dari Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID).
Sekolah tersebut juga meraih peringkat pertama SMK terbaik di Jawa Barat berdasarkan capaian TKA dan UTBK 2025.
Sementara itu, Politeknik AKA Bogor merupakan perguruan tinggi vokasi Kemenperin yang berfokus pada pengembangan kompetensi di bidang kimia dan penerapannya.
Politeknik AKA Bogor memiliki empat program studi, yakni Diploma III Analisis Kimia, Diploma III Penjaminan Mutu Industri Pangan, Diploma III Pengolahan Limbah Industri, serta Diploma IV Nanoteknologi Pangan.
Sebagai pelopor pendidikan vokasi Diploma III Analisis Kimia di Indonesia, Politeknik AKA Bogor juga memiliki program studi Diploma IV Nanoteknologi Pangan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.