BREAKING NEWS
 

Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (3)

Pengalaman Mistis Dan Sepeda Perang Tudi

Reporter & Editor :
M ADE AL KAUTSAR
Kamis, 11 Juli 2024 14:05 WIB
Sepeda perang Tudi. Dok Pribadi

 Sebelumnya 
 

Bagian 7

Loper Susu Sapi 

Tahun 1983, kelas 6 SD Tudi meninggalkan dagang kacangnya di Kelud dan memulai ikut loper susu usaha yang dirintis oleh Mas Yon. Agen susu itu berlokasi di jalan Kelapa Sawit 77 dan pada 1984 pindah ke jalan Perkutut Utara No 1 Malang, yang berjarak sekitar 2,5 km arah selatan dari Mbebekan.

Kakak beradik itu bangun jam 03.30 menerima kiriman susu dari pemasok asal Pujon atau Mbatu. Susu itu selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol. Ada yang ukuran satu liter, setengah liter dan seperempat liter. Kemudian diloper atau dikirimkan dan dijajakan ke pelanggan dan masyarakat. 

Baca juga : Jualan Kacang Hingga Duel Dengan Parad

Ada pelanggan tetap yang rata-rata bulanan, ada juga pembeli biasa. Ada pelanggan jujur gampang tagihannya saat awal bulan. Ada juga yang nakal, susah tagihannya bahkan nunggak berbulan-bulan. Salah satu pelanggannya, Pujiman Pengacara, jalan Mundu, sangat baik. Selain mudah ditagih dan tertib membayar, keluarga itu selalu memberi persenan atau bingkisan baju baru saat hari Raya Idul Fitri. 

Tudi berangkat loper susu jam 05.00 atau lebih sedikit dan selesai biasanya sebelum jam 06.00. Selanjutnya langsung ke sekolah dengan "sepeda perang" atau sepeda atau ontel.  

Setelah tamat SD, Tudi berhasil diterima di SMP Negeri l jalan Lawu dekat perpustakaan umum Malang. Selanjutnya meneruskan sekolah ke SMA Negeri 3 Malang. Baik SMPN l maupun SMAN 3 merupakan sekolah favorit di Malang. Banyak anak-anak orang gede. Lingkungan belajar-mengajar asyik tapi serius dan kompetitif.

Sepeda loper susu itu merupakan sepeda tua dan di beberapa bagiannya sudah berkarat. Orang menyebut sepeda itu "sepeda perang". Sebagai sepeda perang, Tudi sering mengalami gangguan teknis. 

Baca juga : Lintasarta Komit Berikan Pelayanan dan Keamanan Data Standar Tinggi

Ada-ada saja masalahnya. Rantainya lepaslah, putaran rodanya seret dan berat, tidak sentris, yang bannya gembos atau kempes atau stang nya tidak stabil. Diamput. Umpatan itu keluar tak terbendung dari mulutnya.

Lebih-lebih kalau sudah kesiangan karena kiriman susu dari Pujon atau Mbatu telat. Cuuuk... Astaghfirullah umpatan kasar keluar begitu saja. Tobat, tobat, tobat.

Namun sepeda perang itu banyak membantu Tudi. Sangat berjasa, mengantarnya dari loper susu, sekolah, kuliah dan mencapai cita-cita. Sepeda itu kini sudah tidak ada lagi, entah dimana.

Tahun 1984 saat Kelas 2 SMP di SMP Negeri l Malang, Tudi ikut lomba pidato dan berhasil meraih juara l. Pidatonya yang berkobar-kobar dalam rangka Sumpah Pemuda sampai saat ini masih banyak diingat oleh teman-temannya. Mic pidato itu diletakkan di pinggir lapangan. 

Baca juga : Dua Bersaudara Mengejar Mimpi, Dari Kampung Bebekan Ke Afrika Selatan

"Pemuda adalah masa depan bangsa. Beri aku 10 pemuda revolusioner, niscaya aku akan sanggup mengguncangkan dunia", demikian keyakinan Bung Karno, kata Tudi.

 

Oleh Tudiono, Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Cape Town, Afrika Selatan. In Flight Jakarta Cape Town, Juli 2024.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense