Dark/Light Mode

Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (2)

Jualan Kacang Hingga Duel Dengan Parad

Rabu, 10 Juli 2024 16:15 WIB
Konsul Jenderal RI Cape Town, Afrika Selatan Tudiono. Dok. Pribadi
Konsul Jenderal RI Cape Town, Afrika Selatan Tudiono. Dok. Pribadi

RM.id  Rakyat Merdeka - Cerita ringan ini mengisahkan dua anak, kakak beradik Mas Geng dan Tudi, hidup dan tumbuh sebagai generasi X. Tudi lahir pada 1968 dan Mas Geng tahun 1965.

Bagian 3

Jualan Kacang Di Bioskop Kelud

Tahun 1979, Tudi yang berumur 11 tahun ingin ikutan jualan kacang ke gedung bioskop Kelud bersama Masnya yaitu Mas Yon dan Mas Geng bersama teman-temannya. 

Jualan kacang menjadi peluang yang cukup baik untuk memperoleh uang saku dan membantu orang tua. Beberapa tetangga mulai membuka usaha penggorengan kacang dan dengan jasa anak-anak Bebekan menjualnya ke bioskop Kelud. 

Bioskop itu cukup populer di Malang sebagai bioskop masyarakat kebanyakan. Bukan bioskop elit. Letaknya di persimpangan jalan Kawi dan Arjuno. Di persimpangan itu terpasang poster-poster gambar-gambar film yang sedang diputar hari itu bertuliskan "Hari ini" atau yang segera tayang ditulis "Segera" dan yang akan datang.

Bioskop Kelud dikenal pula sebagai bioskop misbar artinya saat hujan gerimis penonton bubar. Pengunjung bioskop berlarian menepi mencari tempat yang teduh karena hanya di beberapa bagian yaitu pinggiran dan belakang yang ada atapnya. Bagian lain beratap langit.

Baca juga : Dua Bersaudara Mengejar Mimpi, Dari Kampung Bebekan Ke Afrika Selatan

"Jangan dulu, kamu jualan aja keliling di daerah Buah-buahan," kata Mas Geng. Daerah Buah-buahan ini maksudnya daerah elit, rumah-rumahnya gedong, bagus dan kaya, menurut ukuran masyarakat sekitar situ.

Tudi nurut Mas Geng. Dia mulai berjualan kacang keliling di daerah buah-buahan. Kacang-kacang itu dibungkus koran, dicontong dan ditempatkan di keranjang plastik kotak, ada yang berwarna merah, biru, hijau, dan ungu. Anak-anak penjual kacang itu membawa dagangannya dalam keranjang plastik dengan cara disunggi atau ditaruh di atas kepala.

Tudi dan Mas Geng kulakan barang dagangan di Pasar Gede Malang pagi sekitar jam 08.00. Macam barang dagangan, selain kacang adalah shanghai, marning, kripik pisang, kuping gajah, dan jeruk. Adiknya Nur Alimah biasanya membantu packaging ke dalam plastik-plastik agak kecil dan menutup plastik dengan cara "diselomot" dengan api.

Emak mereka menggoreng kacang-kacang itu di atas dapur yang berbahan bakar kayu. Panas hawa api dapur menyebabkan butiran-butiran keringat di wajah Emak mereka. Senyum keikhlasan dan ketabahan selalu terpancar di wajah Emak.

"Caaang kacaaang," Tudi menjajakan kacang sambil berjalan berkeliling di daerah Buah-buahan. 

Sekitar enam bulan dia berjualan kacang keliling. Berangkat setelah Ashar dan kembali sebelum Maghrib. Setelah dirasa cukup umur, Mas Geng membolehkan Tudi ikutan jualan kacang di bioskop Kelud. Pada masa itu banyak sekali teman-teman di kampungnya yang berjualan kacang ke gedung bioskop Kelud.

Baca juga : Perkuat Diplomasi, Konjen RI Cape Town Bangun Sinergi Dengan Insan Media

Suasana keceriaan luar biasa melingkupi anak-anak penjual kacang. Sebenarnya barang dagangannya meliputi beberapa macam, namun yang menonjol adalah kacang yaitu kacang goreng dan kacang godok. Kacang-kacang itu dicontong dibungkus rapi dalam kertas-kertas koran. Dagangan lainnya adalah marning, shanghai, keripik pisang, kuping gajah dan jeruk.

Tudi, Mas Geng, Mas Yon dan teman-temannya penjual kacang berangkat setelah Maghrib ke Kelud yang jaraknya sekitar 4 km dari kampung Bebekan. Mereka berjalan kaki. Suasana hati yang ceriah gembira menjadikan jarak yang sebenarnya cukup jauh itu tidak terlalu dirasakan.

Perjalanan mereka lalui sambil bersenda gurau dan bernyanyi gembira dan jenaka. "Bawa ember bocor di tengah jalanan bibir ndower kayak pipa pancuran," itu sepenggal lagu dari film jenaka Benyamin Sueb dan kelompoknya seperti Diran, Bagio, Saleh, dan lain-lain. 

Kadang cara berjalan mereka meliuk liuk dalam barisan panjang seperti ular sambil terus bernyanyi-nyanyi. Pada masa puncak "kejayaannya" jumlah teman-teman yang berjualan di biaskop mencapai lebih dari 50 orang. 

Di dalam Bioskop, mereka menjajakan kacang dari baris bangku yang satu ke baris bangku lainnya, dari baris belakang sampai depan atau dari sayap  kiri, kiri tengah, kanan tengah dan kanan. 

Ada 4 baris menyamping. Banyak yang bersimpati dan empati kepada anak-anak penjual kacang itu. Tapi ada juga yang merasa terganggu, dan nge-blok jalan lewat penjual kacang dengan menyelonjorkan kaki ke bangku depan.

Baca juga : Konjen RI Cape Town Garap Film Romantis Berlatar Kisah Tsunami Aceh

Ratusan film telah diputar selama mereka berjualan di Kelud, dari film Indonesia Rano Karno, Benyamin Sueb, Rhoma Irama, film India seperti Dharmendra, Hema Malini, Amita Bachan, Rajesh Khana, Sashi Kapoor, film kungfu Mandarin seperti Fu Sheng, Chin Kuan Tai , Chun Kuan Chun, sampai film film Barat seperti Charles Bronson.

Selain penjual kacang, ada juga penjual permen dan es. Penjual permen umumnya orang dewasa. Banyak yang ramah tapi ada juga yang seperti preman. Joko si penjual permen, memonopoli area khusus yakni di balkon. 

"Hei kamu, beraninya masuk di sini!" Joko yang muncul di balkon marah. "Keluar!" sambil tangannya memukul kepala Tudi. Tudi pun keluar, tidak berani melawan karena dia jauh tidak sepadan.

Di bioskop Kelud terdapat 2 balkon, di bagian belakang dan di sayap barat. Harga tiket di balkon lebih mahal karena lebih nyaman dan eksklusif dan biasanya orang yang cukup berduit yang duduk di area ini.

Saat dagangan cukup laris manis,  para penjual kacang itu menikmati rejekinya dengan makan malam sayur lodeh atau bubur kacang ijo dan ketan hitam di warung depan bioskop Kelud. 

Di saat musim hujan, penonton banyak berkurang takut basah kuyup.  Dagangan juga sepi. Tubuh para penjaja makanan pun basah.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.