BREAKING NEWS
 

Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (6)

Menggapai Asa Di Tengah Prahara

Reporter & Editor :
M ADE AL KAUTSAR
Senin, 15 Juli 2024 20:36 WIB
Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Cape Town, Afrika Selatan bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Dok. Pribadi

RM.id  Rakyat Merdeka - Cerita ringan ini mengisahkan dua anak, kakak beradik yaitu Mas Geng dan Tudi, yang hidup dan tumbuh sebagai generasi X. Tudi lahir pada 1968 dan Mas Geng tahun 1965.

Bagian 13

Rumah Terlepas - Tudi Gaptek

Baca juga : Lika-Liku Merantau, Kuliah, Dan Teror Polisi Khusus Susu

Usaha yang lesu dan situasi keuangan bapaknya yang terjerat hutang ke Pak Tukimin, tetangga di Perkutut Utara, menyebabkan bapaknya Mas Geng dan Tudi harus melepas rumah yang juga menjadi alamat agen Susu SAE. Mereka pindah dan menyewa di Jalan Sikatan, sekitar 500 meter sebelah barat Perkutut. Jalan Sikatan ini lokasinya agak “nylempit” dan tingkat kehidupan masyarakatnya jauh di bawah daerah lainnya di kawasan Jalan Burung-burungan itu. Keluarga Mas Geng dan Tudi menyewa di situ karena biayanya lebih murah.

Setelah Mas Geng diterima di Kemlu pada 1993, dia ikut tugas PBB dalam rangka misi perdamaian setelah berakhirnya pemerintahan apartheid di Afsel. Sebagian hasil tugas dinas dikirimkan ke orang tua di Malang untuk membeli tanah. Ini mengembalikan rasa percaya diri dan martabat keluarga di Malang.

Baca juga : Dari Agen Susu Ke Gerbong Filsafat

Dengan uang kiriman Mas Geng, Pak Mulud membeli sebidang tanah seluas 10 x 14 meter di Jalan Tanjung Putera Yudha III. Pak Mulud, Emak, dan Tudi secara bertahap membangun sendiri rumah di atas tanah itu. Mereka bersama-sama menumbuk batu bata yang rusak menjadi semen merah dan mengumpulkan pasir yang terbawa genangan air hujan di sepanjang Jalan Raya Langsep dengan menggunakan becak.

Daerah Tanjung Putera Yudha III itu kebanyakan masih berupa sawah. Hampir tidak ada pepohonan atau tanaman untuk berteduh. Panas matahari yang menyengat di siang hari diatasi dengan menggunakan payung dari karung plastik.

Baca juga : Pengalaman Mistis Dan Sepeda Perang Tudi

Tahun itu, HP masih langka. Umumnya kantor dan orang yang terbilang kaya menggunakan telepon kabel. Masyarakat kebanyakan biasanya menggunakan telepon umum yang banyak dijumpai di sejumlah lokasi.

Tudi mencoba menghubungi Mas Geng dengan telepon umum. Dimasukkan koin uang pecahan logam dan kriiing...kriiiing... nada bunyi nyambung terdengar. “Halo,” setelah beberapa saat nada sambung terdengar suara Mas Geng mengangkat telepon. “Halo Mas Geng.” “Hiyo Tud, kok suaramu ndredeg Tud?” kata Mas Geng. “Wah iso muni Mas Geng,” kata Tudi yang gemetar dan baru pertama kali ini dia menelepon. “Ha ha ha...” Mas Geng tertawa melihat gapteknya adiknya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense