Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (4)
Dari Agen Susu Ke Gerbong Filsafat
Jumat, 12 Juli 2024 15:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Cerita ringan ini mengisahkan dua anak, kakak beradik Mas Geng dan Tudi, hidup dan tumbuh sebagai generasi X. Tudi lahir pada 1968 dan Mas Geng tahun 1965.
Bagian 8
Siskamling Sambil Mendengarkan Kartolo
Baca juga : Pengalaman Mistis Dan Sepeda Perang Tudi
Tahun 1987, Mas Yon, Mas Geng dan Tudi disamping menjalankan agen susu, mereka aktif dalam kegiatan Masyarakat. Karang Taruna RT, Karang Taruna RW yang Bernama “Wira Perdana” menjadi karang taruna yang maju.
Hubungan antar teman sebaya, antar warga menjadi dekat karena banyaknya program dan kegiatan bersama. Diantaranya adalah mengikuti lomba-lomba Simulasi P4 mulai dari antar RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan. Kelompok Simulasi P4 di daerah itu sering memenangkan lomba. Kegiatan 17-an juga aktif dengan panggung-panggung acara peringatan 17 an dan hiburan.
Baca juga : Jualan Kacang Hingga Duel Dengan Parad
Tidak semua positif. Mas Geng, Tudi dan anak-anak Karang Taruna, pernah juga nakal dan jahil. Kegiatan Siskamling untuk menjaga lingkungan masing-masing merupakan kegiatan rutin dan aktif diikuti warga. Anggota-anggota Karang Taruna kadang memperoleh giliran berjaga sekali dalam seminggu.
Pos Kamling berada di ujung jalan Perkutut Utara. Pos itu letaknya berdampingan dengan keranda mayat. Waktu itu, jam 11.00, ada sekitar 6 bapak-bapak yang berjaga malam itu. Mereka sering bermain gaple untuk mengisi waktu sembari mendengarkan lawakan ludruk Kartolo yang sangat ngetrend dan populer saat itu. ”Isuk-isuk ndik njeru maron, atine seneng ngombe viliron,” itu antara lain lirik ludrukannya Kartolo.
Baca juga : Dua Bersaudara Mengejar Mimpi, Dari Kampung Bebekan Ke Afrika Selatan
Kartolo ini memang terkenal guyonannya. Bisa membikin orang tertawa terpingkal-pingkal. Dia punya isteri 3 mati semua. Ditanya Sapari kenapa isterimu kok mati? “Yang pertama, mati karena nguntal yuyu atau menelan kepiting”. “Yang kedua?” tanya Sapari penasaran. “Mati juga karena nguntal yuyu”, jawab Kartolo. “Hlah yang ketiga, apa juga mati karena nguntal yuyu?” “Nggak, mati karena aku pukul palu” Jawab Kartolo. “Loh kenapa kamu palu?” Kartolo pun menjawab “karena ngga mau nguntal yuyu…” Ha ha ha…
Waktu menunjukkan pukul 00.00. Bapak-bapak masih asyik bermain gaple. Mas Geng, Tudi, Rudi, Hari, Eko, Agus Semar iseng menjahilin bapak-bapak yang sedang ronda. Mereka mengambil dupa dan diam-diam dupa yang sudah dibakar itu dimasukkan pelan-pelan dan diam-diam ke celah-celah angin-angin pos jaga. Selang 2 menit, satu-dua bapak-bapak mulai mengendus-endus bau wangi. Mereka masih diam dan tidak saling bicara. Lama kelamaan mereka semua diam dan mulai ambil ancang-ancang... Setaaaaan” Ha-ha-ha... Bapak-bapak itu lari tunggang-langgang karena bau wangi dan dipikirnya ada setan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya