Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (5)
Lika-Liku Merantau, Kuliah, Dan Teror Polisi Khusus Susu
Minggu, 14 Juli 2024 20:43 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Cerita ringan ini mengisahkan dua anak, kakak beradik yaitu Mas Geng dan Tudi, yang hidup dan tumbuh sebagai generasi X. Tudi lahir pada 1968 dan Mas Geng tahun 1965.
Bagian 9
Merantau Ke Jakarta Dan Bogor
Tahun 1989, Tudi berangkat merantau sekaligus mengikuti UMPTN ke Jakarta menyusul Masnya, Mulyono, yang sudah lebih dari dua tahun merantau. Tudi diantar oleh Mas Geng di Stasiun Kereta Api Kota Baru. Kesedihan nampak di wajah mereka yang harus berpisah. Mas Geng nampak meneteskan air mata.
Tiba di Stasiun Gambir, Tudi yang belum pernah ke Jakarta mencari-cari Masnya, Mulyono. Setelah beberapa saat tidak melihat Mas Yon, dia pun menimbang-nimbang apakah akan mengarah ke Jalan Kemuning Pasar Minggu, alamat Mas Yon, atau ke alamat di Serang. Dia memutuskan ke Serang. Dari Gambir, dia naik kendaraan umum ke Kalideres. Selanjutnya dia naik bus jurusan Serang.
Baca juga : Dari Agen Susu Ke Gerbong Filsafat
Setiba di Serang, dia menanyakan alamat Mas Yon ke polisi yang dengan sukarela mengantarnya dengan menaiki sepeda motor. Dan benar, Tudi bertemu Mas Yon. Tak lama, Mas Yon mengajaknya ke Pasar Minggu. Dia tinggal di rumah kontrakan di pinggir kali Ciliwung. Rumah itu terbuat dari anyaman bambu yang agak tua dan ringsek. Rumah gedek ini bocor saat hujan. Suasana sekitar agak jorok, banyak orang buang air besar di kali Ciliwung dan kurang asamnya sebagian membuang kotoran di rimbunan pohon bambu di sekitar kali Ciliwung.
Mas Yon pekerjaannya masih labil dan penghasilannya tidak menentu. Terkadang terjadi selisih pendapat. Tudi akhirnya memutuskan merantau ke Bogor. Uang yang tersisa Rp 1.000, dibelikan tiket kereta Rp 800 dan sisanya Rp 200 dibelikan kue setibanya di Stasiun Kereta Api Bogor.
Tudi tiba jam 09.30. "Semut aja bisa hidup, mengapa saya tidak?" dicobanya menguatkan tekad dan hatinya dan mulailah dia berjalan dari satu kantor ke kantor lainnya untuk melamar pekerjaan. "Baik, Dik, saya terima surat lamarannya, tunggu sebulan lagi ya?" kata pegawai salah satu kantor saat Tudi menyampaikan lamaran. "Saya sangat perlu, untuk hidup." "Tapi ini kantor, Dik," kilah pegawai kantor itu.
Penolakan demi penolakan dari satu kantor ke kantor yang lain. Matahari yang memancarkan sinarnya pun mulai surut. Senja mulai tiba. Maghrib datang. Tudi mulai was-was. Ada terbesit rasa kekhawatiran. "Tidur dimana saya?" pikir dia. Di kota itu dia tidak punya siapa-siapa dan tempat yang dituju. Dia harus hilang dari radar teman-temannya. Jangan sampai mereka tahu Tudi yang dulu juara 2 atau 1 jurusan Sosial SMAN 3 gagal dan terlunta-lunta.
Baca juga : Pengalaman Mistis Dan Sepeda Perang Tudi
Dia pun mengarah menuju masjid di pinggir jalan yaitu Masjid di Balai Kota Bogor dekat Hotel Salak. Dia salat dan berdoa di sana. Di situ dia merasa aman untuk sekedar menginap dan sedikit beristirahat. "Ya Allah, saya yakin seyakin-yakinnya atas pertolongan-Mu. Engkau pasti mengabulkan doa hamba-Mu yang memohon kepada-Mu, Ya Allah."
Tudi yang sedang khusyuk berdoa didatangi oleh seorang polisi Balai Kota. Melihat ada polisi yang agak penasaran, Tudi menyampaikan copy ijazah dan maksud tujuannya yang sedang merantau. Ijazahnya nilainya banyak yang 9 dan 8. Polisi itu pun percaya Tudi anak baik.
"Saya tidak bisa membayangkan jika anak saya yang seumuran Dik Tudi mengalami seperti yang Adik alami," kata polisi itu ke Tudi. Polisi yang ramah dan baik hati itu mengajak Tudi ronda keliling dan makan mi goreng di warung sekitar Balai Kota. Semoga Allah membalas budi baik Pak Polisi itu yang saat ini entah dimana.
Pagi, sebelum matahari memancarkan sinarnya yang menyilaukan, Tudi bersiap hendak pamit meneruskan perjalanannya. "Gimana, Dik, rencananya hari ini?" tanya polisi itu. "Saya akan meneruskan perjalanan dan melamar ke kantor-kantor, Pak," jawab Tudi. Polisi itu sejenak berpikir, selanjutnya mengambil kertas dan menuliskan sesuatu di atas kertas itu. "Coba hubungi pemilik hotel ini, Dik," kata polisi itu. Di kertas itu ditulis Yth. Bapak dan Ibu Sofyan, Hotel Wisma Mirah beserta alamatnya.
Baca juga : Jualan Kacang Hingga Duel Dengan Parad
Tudi bertemu langsung dengan pemilik Hotel Wisma Mirah. Dia diterima dan bisa langsung bekerja di hotel itu. Dia tinggal di salah satu kamar karyawan hotel itu. Dia bekerja serabutan sebagai room boy, membersihkan lantai dan kamar-kamar, dan melayani tamu. Saat tamu asing datang, Tudi memanfaatkan kesempatan itu untuk berlatih dan aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Sekitar 2,5 bulan kerja di Wisma Mirah, Tudi pamit ke pemilik hotel dan teman-teman kerja karena harus kembali ke Malang. Dia lulus UMPTN dan diterima di FH Unibraw.
Dari pengalaman singkat ini, Tudi berkata dalam hati, "Untuk menaklukkan Jakarta, tidak bisa langsung pergi begitu saja ke ibu kota yang cukup liar saat itu. Harus terencana, pengajuan lamaran dari Malang."
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya