Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (3)
Pengalaman Mistis Dan Sepeda Perang Tudi
Kamis, 11 Juli 2024 14:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Cerita ringan ini mengisahkan dua anak, kakak beradik Mas Geng dan Tudi, hidup dan tumbuh sebagai generasi X. Tudi lahir pada 1968 dan Mas Geng tahun 1965.
Bagian 6
Satu Demi Satu Sahabat Penjual Kacang Pergi
Tahun 1982, satu demi satu teman penjual kacang berhenti, termasuk Mas Yon dan Mas Geng. Mas Yon beralih pekerjaan menjadi peloper susu di Agen Susu Anda jalan Kawi milik Pak Umar yang juga menjadi komandan Polisi Khusus Susu.
Mas Yon akhirnya berhasil membuka Agen susu sendiri - Agen Susu Sae. Mas Geng mendapat pekerjaan di rumah makan sate Madura "Kirun" jalan Kawi. Dia terkadang membawa bumbu sate untuk lauk makan adik-adik sekeluarga. Heeem... Nyam-nyam-nyam…
Suasana Kelud menjadi berbeda. Sepi. Terakhir hanya tersisa Tudi, Suud dan Hari yang masih berjualan kacang di Kelud.
Baca juga : Jualan Kacang Hingga Duel Dengan Parad
Tudi rindu dan merasa kesepian akan gelak tawa dan sendu gurau Mas Geng, Mas Yon dan kawan-kawan di Gedung bioskop yang ramai itu. Suasana yang penuh canda dan kelakar bersama teman-teman sebelumnya.
Di suatu waktu, malam itu, Suud tiba di rumah jam 01.00 lebih. Dini hari. Sementara Tudi dan Hari sudah tiba di rumah jam 22.30 malam. Suud malam itu pulang sendiri. Dia melewati rute seperti biasanya jalan Kawi yang selalu ramai. Dia melewati jalan itu. Tidak ada yang aneh. Hanya saja menurutnya jalan Kawi terlihat terang benderang. Dia ikuti terus jalan itu.
Ternyata, malam itu , dia sudah berada area kuburan. Ihhh... Agak bergidik bulu kuduk membayangkan tengah malam di tengah pekuburan. Apa yang dilihat Suud malam itu? Sungguh mengerikan... Tapi ceritanya stop di sini karena ini bukan rubrik cerita horor... Ha-ha-ha....
Tahun 1982, kampung Bebekan, tempat Mas Geng dan Tudi menghabiskan masa anak-anak, masih belum ada penerangan listrik. Saat pulang malam, saking gelapnya, terlihat bara api kecil menyala dalam kegelapan. Bara api itu sebenarnya adalah rokok Engkong warga senior etnis Tionghoa yang sedang merokok.
Tudi yang menjadi sahabat malam karena harus bekerja malam hari tidak jarang melihat bola-bola api terbang di langit. Kata orang, itu adalah kiriman teluh. Pernah suatu ketika, sekitar tahun 1991, bola api meledak depan rumah, yang saat itu orang tua Tudi pindah ke kampung asal tempat kelahiran.
Baca juga : Lintasarta Komit Berikan Pelayanan dan Keamanan Data Standar Tinggi
Rumah itu di pinggir barongan atau rimbunan pohon bambu di tepi jurang. Ledakan itu cukup dahsyat. Beruntung Tudi dan Emaknya sedang terjaga sedang membaca Al Quran surat Saff. Mereka selamat aman berkat pertolongan Allah.
Guru ngaji Tudi, Cak Shaleh, kakaknya Suud, pinter bela diri tenaga dalam. Entah karena ingin mencoba tenaga dalam, atau apa, Cak Sholeh sering berkelahi dengan jin. Dan menang. Jin-jin itu tidak berani mengganggunya. Tapi masalahnya, jin-jin pindah dan sering mengganggu isteri dan anak-anak Cak Shaleh saat mereka sendirian.
Tudi tidak takut, terutama dalam perjuangannya meraih cita-cita dan melindungi keluarga. Kehormatan orang tua dan melindungi orang tua adalah hal mulia dan Allah pasti meridhoi.
Saat itu, tahun 1982, bapaknya digejluk-gejlukan di selokan oleh sekitar 7 orang kampung situ yang sedang mabuk-mabukan. Emaknya dibentak dengan kasar saat membela bapaknya. "Awas kalian semua, kalau saya sudah besar aku akan lawan kalian," kata Tudi dalam hati.
Rupanya peristiwa itu berulang pada tahun 1992 di kampung RT 7 sekitar 700 meter dari Bebekan Selatan, 7 pemuda itu minum-minuman keras dan hendak mengajak bapaknya Tudi minum.
Baca juga : Dua Bersaudara Mengejar Mimpi, Dari Kampung Bebekan Ke Afrika Selatan
"Kalian semua, maju, saya masih memendam amarah saat kalian memukuli bapak saya dulu" Kata Tudi. Beruntung mereka bersikap damai. Masalah pun selesai dengan damai. Tapi ini bukan "damai" dalam pelanggaran lalu lintas ya... He-he-he...
Di Bebekan itu pula anak-anak kecil menonton TV bersama di rumah tetangga. Tidak banyak orang memiliki TV karena terhitung barang mewah. TV waktu itu masih kebanyakan berlayar cembung dan hanya hitam putih. Jika ingin berwarna, orang biasanya membeli layar TV berwarna. Yang ngeselin, waktu seru-serunya aksi film, TV dimatikan oleh pemiliknya karena anak-anak dinilai berisik... Jiangkriiiik, kurang asem.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya