RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Esoterika Forum Spiritualitas, Denny JA menyoroti meningkatnya kecemasan di era Artificial Intelligence (AI).
Hal itu disampaiknya dalam seminar nasional dialog spiritual lintas iman bertema “Kekuatan Pengetahuan dan Keheningan dalam Membangun Harmoni Antaragama”. Acara ini digelar di Graha Sabha Adhitya, Pura Adhitya, Rawamangun, Jakarta, Sabtu (22/2/2024), dalam rangka perayaan Hari Suci Saraswati, Siwaratri, dan Nyepi.
Denny JA mengungkapkan ironi zaman modern: meski dunia mencapai puncak pencapaian teknologi dan ekonomi, justru tingkat kecemasan manusia meningkat. Laporan Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) tahun 2024 menunjukkan 43 persen orang dewasa di AS mengalami kecemasan, meningkat dari 37 persen pada 2023 dan 32 persen pada 2022.
Artificial Intelligence (AI) kini melampaui kecerdasan manusia, dan ekonomi dunia mencapai rekor tertinggi dengan PDB global sebesar 109 triliun dolar AS.
Baca juga : Saat Kecil Sering Jajan Es Mambo
“Ini mencerminkan fenomena global yang makin mengkhawatirkan,” paparnya.
Menurutnya, ada tiga penyebab utama meningkatnya kecemasan di era AI: pertama, Doomscrolling. Kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita negatif yang diperbesar oleh algoritma media sosial. Berita tentang perang, ekonomi, dan skandal lebih cepat viral, menciptakan narasi ketakutan yang memperburuk kecemasan.
Kedua, Comparative Traps. Ilusi kesempurnaan di media sosial membuat orang merasa tertinggal. FOMO (Fear of Missing Out) semakin menanamkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Ketiga, Techno-Stress. Ketakutan akan tergantikan oleh AI. Laporan World Economic Forum 2025 memperkirakan 85 juta pekerjaan akan hilang akibat otomatisasi, memunculkan kecemasan eksistensial.
Baca juga : Perayaan Cap Go Meh di Pantjoran PIK Hadirkan Makna Kebersamaan dan Harapan
Denny JA menegaskan, kecemasan ini bukan sekadar gangguan psikologis, melainkan krisis eksistensial. Solusinya tidak cukup dengan terapi medis atau kebijakan ekonomi, tetapi juga harus melibatkan spiritualitas dan filsafat.
“Manusia butuh lebih dari sekadar informasi dan pekerjaan. Mereka mencari makna hidup dan ketenangan batin,” ujar Denny JA.
Ia menyoroti peran Dewi Saraswati sebagai simbol ilmu yang membawa kebijaksanaan. Menurutnya, tren wellness berbasis spiritual kini semakin berkembang, dengan industri yang bernilai Rp 90 triliun. Yoga, meditasi, dan mindfulness menjadi solusi modern menghadapi kecemasan digital.
Dalam acara tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, turut mengapresiasi inisiatif dialog lintas iman ini. Ia menekankan, perbedaan agama di Indonesia adalah kekayaan yang memperkuat persatuan bangsa, dengan Pancasila sebagai dasar yang tepat untuk menjaga harmoni.
Baca juga : Perkembangan Kecerdasan Buatan
Acara ini diselenggarakan oleh Prajaniti Hindu Indonesia dan Esoterika Forum Spiritualitas, serta didukung oleh Panitia Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947.
“Dengan memahami kebijaksanaan Dewi Saraswati, kita bisa mengatasi kecemasan, menemukan makna hidup, dan membangun harmoni di era digital,” tutup Denny JA.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.