Tiap tahun masyarakat Muslim di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadan. Dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 183, Allah menjelaskan bahwa: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.”
Firman Allah ini menjadi dasar umat Islam melakukan ibadah puasa sebulan penuh setiap tahun di Ramadan. Karena, Al-Qur’an itu sifatnya universal. Di dunia mana pun,Al-Qur’an berada, maka isinya tetap sama. Dengan demikian, mengacu pada ayat-ayatAl-Qur’an itu, maka seluruh dunia umat Islam melakukan ibadah puasa dan landasan utamanya adalah firman Allah di atas.
Ada 3 poin penting dari isi ayatAl-Qur’an di atas. Pertema, puasa diwajibkan pada orang-orang yang beriman. Kedua, orang-orang yang beriman diwajibkan puasa sebagaimana umat-umat sebelum Islam. Ketiga, tujuan puasa menjadi orang yang bertakwa.
Jika dilihat dari konteks ayat Al-Qur’an ini, perintah untuk berpuasa selama satu bulan penuh bertujuan agar orang-orang yang beriman menjadi orang-orang yang bertakwa. Dalam Islam, beriman saja tidak cukup, tapi haruslah disertai dengan takwa. Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah selalu ingin mendekatkan diri pada Allah dan memohon perlindungan pada-Nya.
Puasa diwajibkan bagi orang-orang yang beriman dan bukan kepada manusia secara keseluruhan, karena orang yang beriman dapat menjalankan puasa sesuai dengan perintah Allah. Jika tidak beriman, mana mungkin mereka dapat melaksanakan puasa dengan baik. Karena berpuasa dengan tidak makan, minum, dan menahan hawa nafsu selama kurang lebih 13 jam perlu iman yang kuat, serta kesehatan yang sempurna.
Baca juga : Banjir Menerjang Kerajaan Dwarawati
Dalam doa Kamilin, selesai salat tarawih, umat Islam selalu membaca doa ini dan dalam satu isi dari doa tersebut menjelaskan “Ya Allah berilah kami iman yang sempurana.” Karena iman seseorang itu sifatnya turun-naik, hari ini naik dan mungkin besok turun lagi, maka manusia selalu berdoa agar diberi iman yang sempurna, salah satunya kesetabilan dalam iman.
Oleh karena itu, iman menjadi dasar utama bagi orang untuk melaksanakan ibadah puasa. Tidak hanya itu, puasa dengan dasar keimanan pada Allah dapat menghapuskan dosa-dosa yang lalu. Sebagaimana hadis nabi Muhammad SAW, "Barang siapa yang melaksanakan ibadah pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (Hadis diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Dengan bekal iman yang sempurna, tatangan apa saja yang dihadapi oleh orang yang puasa, mereka tidak akan mundur satu langkahpun dan tetap menjalankan ibadah puasa selama satu bulan.
Dalam surah An-Nisa ayat 136 Allah mengatakan: “Wahai orang-orang beriman tetaplah beriman kepada Allah, rasulnya (Nabi Muhammad), kitabnya (al-Quran), yang diturunkan pada Rasul-Nya dan kitab yang Dia turunkan padanya".
Dalam surah An-Nisa ini, Allah menegaskan bahwa beriman itu tidaklah hanya beriman pada Allah, tapi juga beriman pada rasul dan kitab-Nya. Jika kita hanya beriman pada Allah dan tidak pada rasul dan kitabnya, maka kita tidak dapat memgetahui ajaran Allah sesungguhnya. Kitab yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah al-Quran dan rasul yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah Nabi Muhammad SAW.
Dalam satu hadis dijelaskan, dari Umar RA, dia berkata: “Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah, dalam satu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang memakai baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak bekas-bekasnya dari perjalan jauh dan tidak ada satupun di antara kami yang mengenalnya, hingga kemudian dia duduk dihadapan nabi, lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut nabi Muhammad Saw, dan seraya berkata: Wahai Muhammad beritahulah padaku tentang (salah satunya) iman, beliau bersabda: Engkau beriman pada Allah, malaikat-malaikat, kitabnya, rasul-rasulnya, hari akhir dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Kemudian malaikat berkata, kamu benar.” Dalam hadis ini, Malaikat ingin meminta pandangan Nabi Muhammad SAW tentang iman dan beliau menjelaskannya dengan sempurna.
Baca juga : Dubes China Wang Lutong Gelar Bukber & Beri Santunan Ramadan
Puasa pada Ramadan diwajibkan oleh Allah atas orang-orang yang beriman. Meskipun demikian masih banyak manusia yang tidak sanggup melaksanakannya dengan berbagai alasan. Bahkan dalam kondisi segar dan tidak sakit banyak orang Islam tidak berpuasa dengan alasan lapar, haus dan lemas.
Dalam tradisi puasa Ramadan di Indonesia, hari pertama sebagian besar orang Muslim melaksanakan puasa, karena mereka ingin menyambut kedarangan Ramadan yang datangnya satu tahun sekali. Hari kedua dan seterusnya ada yang sudah tidak berpuasa lagi, dan mereka berpuasa pada akhir puasa Ramadan. Ada juga yang melakukan puasa Ramadan di awal, di tengah dan diakhir, dengan alasan tidak sanggup melaksanakan puasa sebulan penuh. Tradisi ini diwariskan dari satu generasi ke genasi yang lain.
Tujuan puasa berdasarkan surah al-Baqarah: 183 di atas menuntun orang yang beriman menjadi orang yang bertakwa. Jika dilihat dari konteks ayat itu, tampaknya orang yang beriman belum tentu menjadi orang bertakwa. Agar menjadi orang yang bertakwa harus melalu puasa selama 30 hari di bulan Ramadan dulu. Setelah itu, jika mereka sukses baru mereka naik kelas di kelas orang yang bertakwa.
Berdasarkan ayat Al-Qur’an surah Ali Imran 133-134, orang yang bertakwa adalah: orang yang berinfak baik di waktu lapang dan sempit, dapat menahan amarah dan suka memaafkan kesalahan orang lain, dan mereka selalu berbuat baik. Banyak orang yang berinfak pada waktu lapang, tapi banyak juga orang yang tidak berinfak walaupun dia memiliki waktu lapang dan harta benda yang banyak.
Setiap orang memiliki sifat amarah, dan siap orang dapat mengungkapkan kemarahannya jika dirinya teraniaya, merasa dizalimi, merasa dicurangi, jika mendengar kata-kata yang dapat menyinggung dirinya. Akan tetapi sedikit orang yang bisa mengendalikan kemarahannnya. Karena kemarahan itu pula membuat orang kehilangan kontrol diri dan dapat membuat mereka melakukan pelanggaran hukum, karena mereka selalu menganggap diri mereka yang paling benar. Banyak orang yang memiliki sifat sulit untuk meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain.
Baca juga : Begini Cara Beckham Jaga Kondisi Selama Puasa Ramadhan
Banyak orang di dunia ini yang berbuat baik, misalnya berbagi kepada orang yang kurang mampu secara ekonomi, namun banyak juga orang yang enggan untuk berbagi pada orang yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun mereka memiliki kemampuan secara finansial. Untuk itu Allah menuntut manusia menjadi orang yang bertakwa melaui puasa.
Sedangkan ciri orang yang bertakwa menurut Ali bin Abdulmutalib, sahabat Nabi Muhammad SAW adalah: 1. Merasa takut kepada Allah, 2. Beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah dan 3. Merasa cukup dan ridha dengan pemberian dari Allah.
Merasa takut pada Allah merupakan kunci utama dalam kehidupan manusia. Jika rasa takut pada Allah sudah tertanam dalam diri, maka manusia akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah dan mereka berusaha untuk melaksanakan segala perintah-Nya.
Untuk itu, marilah kita berlomba-lomba melakukan puasa dengan harapan mendapatkan ganjaran takwa dari Allah. Jika takwa sudah didapatkan, maka perlu dipertahankan utuk selamanya.***
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.