Dark/Light Mode

Banjir Menerjang Kerajaan Dwarawati

Senin, 17 Maret 2025 07:31 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dampak nyata pemanasan global adalah cuaca ekstrem. Perubahan iklim atau salah mongso menyebabkan curah hujan tidak teratur. Sehingga datangnya musim hujan tidak dapat diprediksi dengan baik. Di sisi lain, lahan hijau daerah hulu berubah fungsi sebagai lahan komersial. Akibatnya air hujan tidak dapat diserap dan menimbulkan banjir bandang wilayah hilir. 

“Tata ruang kita kacau, Mo. Mudah sekali lahan hijau beralih fungsi menjadi lahan komersial,” celetuk Petruk sok tahu. Padahal mengubah lahan komersial untuk menjadi lahan hijau kembali memerlukan waktu cukup lama yaitu sekitar 20 tahun. Romo Semar mengamini pernyataan Petruk. Romo Semar sebetulnya kurang semangat nimbrung urusan banjir dan kerusakan lingkungan. 

Semar sedang galau dengan maraknya kejahatan kerah putih yang menjarah uang rakyat. Ironisnya pelaku kejahatan kerah putih tergolong masih muda belia dan jumlah jarahan hasil kejahatan makin gila. Bukankah negara menyekolahkan warganya agar menjadi orang yang bertaqwa dan pandai menjaga hukum. Sehingga dapat membedakan mana benar mana salah. 

Baca juga : Sinergi, Menkes & Kadin Gelar Lomba Cek Kesehatan Untuk Karyawan

Romo Semar menghabiskan sebatang rokok klobotnya sebelum memasuki waktu imsak. Kepulan asap rokok membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, terjadi banjir bandang di kerajaan Dwarawati karena keserakahan Prabu Kresna. 

Kocap kacarito, Prabu ­Kresna bernafsu sekali menga­winkan anaknya perempuan Siti Sendari dengan ­Abimanyu. Bukan tanpa alasan ­Kresna ingin mengawinkan anaknya dengan anak Arjuna. ­Abimanyu memiliki wahyu ratu sejati. Sehingga masa depan anak dan menantu cerah. Selain itu Abimanyu sebagai penerus tahta kerajaan Amarta. 

Rencana perkawinan Siti Sendari dengan Abimanyu dibawa ke sidang paripurna kerajaan. Semua punggawa setuju dengan perkawinan politik antara Dwarawati ­dengan Amarta. Hanya saja Semar atau Ismaya kurang berkenan dengan niat Prabu Kresna yang terkesan terburu-buru tersebut.

Baca juga : Baznas Terima Zakat Dan Infak Saham

Semar minta kepada Kresna untuk bersabar menunggu ­restu Arjuna yang sedang pergi meninggalkan Amarta. Kresna marah dengan usulan pamong Pandawa tersebut. Semar dianggap menghambat rencana mulia menyatukan ke­kuatan dua kerajaan. ­Abimanyu ­tanggap ing sasmita dengan kemarahan Kresna. Tanpa komando, Abimanyu menarik kuncung Semar dan mengusir dari parepatan agung Dwarawati. 

Perilaku Kresna terhadap Semar membuat dewa marah. Abimanyu lancang berani menarik kuncung Semar yang dianggap pusaka. Tidak sepantasnya seorang pamong diperlakukan seperti binatang. Para dewa ingin memberikan pelajaran kepada ­Kresna dan ­Abimanyu. Kerajaan ­Dwarawati ditimpa bencana banjir bandang. Sehingga Kerajaan Dwarawati porak poranda dan para kawula lari menyelamatkan diri. 

“Keserakahan Prabu Kresna menuai bencana, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. ­Serakah berarti tidak dapat mengendalikan hawa ­nafsunya,” jawab Romo Semar pendek. Manusia serakah dalam mengekploitasi sember daya tanpa menjaga kese­imbangan alam. “Akibatnya berdampak kepada kerusakan lingkungan. Sehingga dapat menimbulkan bencana dan korban jiwa,“ papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi meninggalkan Petruk seorang diri. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.