Sebelumnya
OIC dan GNB: Platform Strategis Dalam Penyelesaian Konflik
Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) dan Gerakan Non-Blok (GNB) seharusnya menjadi sarana utama Indonesia untuk memainkan peran aktif dalam merespons konflik Israel-Iran.
Namun, kedua platform ini cenderung pasif dan kurang inisiatif. Dalam laporan IISS (The International Institute for Strategic Studies, 2023), disebutkan bahwa sebagian besar pernyataan OIC dalam lima tahun terakhir hanya bersifat normatif tanpa tindak lanjut diplomatik. Indonesia bisa mengambil langkah-langkah berikut:
Mengusulkan pembentukan "Tim Mediasi OIC untuk Timur Tengah" yang terdiri dari negara-negara netral seperti Indonesia, Malaysia, dan Qatar.
Baca juga : Tahun Baru Hijriah, Menag Ajak Umat Islam Refleksi Makna Hijrah
Mendorong Konferensi Khusus GNB yang membahas implikasi konflik Israel-Iran terhadap stabilitas global dan ekonomi dunia, termasuk dampaknya terhadap jalur energi dan perdagangan internasional.
Menjalin kemitraan strategis dengan negara-negara seperti Turki dan Pakistan dalam merancang kerangka diplomasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Mazhab Bebas Aktif Tak Sekadar Simbolik
Transformasi prinsip bebas aktif diperlukan agar Indonesia tidak terjebak dalam posisi simbolik. Bebas bukan berarti pasif, dan aktif tidak cukup hanya dengan mengeluarkan pernyataan. Perlu pembaruan paradigma kebijakan luar negeri yang berbasis pada:
Baca juga : Prabowo: Indonesia Berpeluang Jadi Salah Satu Negara Emisi Karbon Nol
1. Diplomasi Preventif: Seperti konsep yang dikembangkan oleh Johan Galtung, diplomasi harus berperan dalam mencegah konflik sebelum pecah, dengan pendekatan kultural, struktural, dan personal.
2. Infrastruktur Diplomatik: Pemerintah Indonesia perlu memperkuat lembaga-lembaga think tank seperti agar menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan responsif terhadap dinamika global.
3. Peran Masyarakat Sipil: Organisasi Islam besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah serta berbagai NGO yang peduli terhadap perdamaian dunia dapat dilibatkan sebagai aktor non-negara dalam diplomasi publik dan dialog lintas agama.
4. Peran Digital Diplomacy: Indonesia harus memanfaatkan platform media digital global untuk menyuarakan prinsip-prinsip keadilan dan perdamaian sebagai bentuk diplomasi publik yang efektif
Baca juga : Sri Mulyani Tegaskan Prinsip Bebas Aktif Indonesia Di Tengah Konflik Geopolitik
Indonesia sebagai Penjaga Perdamaian Dunia Islam
Konflik Israel-Iran adalah cerminan krisis kepercayaan, rivalitas kekuasaan, dan ketegangan identitas. Di tengah itu, Indonesia memiliki peluang untuk menawarkan pendekatan baru: diplomasi damai berbasis nilai-nilai keislaman yang moderat, demokratis, dan berkeadaban.
Jika Indonesia berhasil menginisiasi ruang dialog yang konkret—bukan sekadar menjadi komentator dari kejauhan—maka peran bebas aktif yang selama ini menjadi prinsip akan naik derajat menjadi strategi. Dari bebas aktif menjadi aktif damai. Dari juru bicara moral menjadi aktor strategis.
Penulis adalah Yulis Susilawaty, Analis Geopolitik dan Pertahanan dari Indonesian Public Institute (IPI)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.